DUMAI, datariau.com - Buaya jenis muara yang menjadi peliharaan warga di Jalan Pemuda Gang Wakaf No 9 Kelurahan Pangkalan Sesai, Kecamatan Dumai Barat, Rabu (4/5/2016) petang akhirnya dievakuasi.
Buaya yang diperkirakan berusia sekitar 23 tahun itu merupakan peninggalan mediang Muhammad Imran. Aini yang merupakan anak pertama dari mendiang Muhammad Imran, saat evakuasi tampak sedih atas keberangkatan hewan tersebut yang telah lama dipelihara suaminya.
Dirinya tampak sedikit histeris saat buaya itu akan diangkat ke dalam mobil untuk dievakuasi. Saat proses diikatnya buaya peliharaan ayahnya tersebut, Zulkarnaen adik Aini terlihat berusaha menenangkan kakaknya.
Evakuasi buaya muara berukuran 3 meter peliharaan warga Dumai oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi pemilik dan masyarakat sekitar.
Aini, yang mengurung buaya diberi nama Amad ini di bagian samping rumah di Gang Wakaf Jalan Pemuda Darat, mengaku sedih karena harus berpisah dengan hewan reptil tersebut yang sudah lama dipeliharanya.
"Amad sejak kecil kami besarkan dan sudah kebiasaan setiap pagi diberi makan ikan busuk, tapi mulai besok Amad tidak lagi di sini karena dipindahkan. Apa lagi buaya itu warisan almarhum bapak saya," jelasnya.
Dijelaskan Aini, buaya yang telah dipelihara almarhum orang tuanya sejak tahun 1993 tersebut tidak pernah membuat ulah atau keluar dari kandangnya. Amad selalu tenang di dalam kandangnya kendati telat diberikan makan.
Wanita berambut sebahu itu juga tidak dapat menahan tangis ketika buaya diangkat dan siap dikirim ke lokasi penangkaran baru di Kebun Binatang Kasang Kulim Kota Pekanbaru dalam keadaan mulut dan kaki terikat.
Setelah buaya yang diperkirakan berusia 23 tahun ini dinaikkan ke atas mobil bak terbuka, Aini dengan ditemani adiknya Zulkarnaen mendekati Amad dan memegang ekor hewan tersebut untuk terakhir kalinya.
Zulkarnaen mengaku juga sangat sedih karena buaya peliharaan keluarga dipindahkan sehingga mereka tidak dapat lagi merawat. Namun dia berharap Amad dapat melanjutkan hidup di lokasi penangkaran baru.
"Rasanya campur aduk, ada sedih karena tidak ada lagi Amad, tapi senang juga dia akan hidup normal di tempat baru, dan lebih baik dibanding di kandang yang sempit seperti sekarang," ujarnya pula.
Proses evakuasi buaya yang berlangsung sekitar dua jam itu disaksikan banyak warga setempat dan sebagian mereka juga merasa kehilangan karena sudah menganggap Amad salah satu penghuni di lingkungan permukiman padat tersebut.
"Kami sudah biasa dengan kehadiran Amad dan memang sejak ditinggal pergi almarhum Imran, warga di sini agak khawatir jika dia lepas dari kurungan," kata seorang warga setempat pula.
Kasi Konservasi Wilayah IV BBKSDA Riau Muhammad Zanir menjelaskan, evakuasi buaya dilakukan berdasarkan permintaan pemilik karena tidak sanggup merawat hewan itu sejak orangtuanya meninggal dunia pertengahan 2015 silam.
"Kami agak kewalahan mengangkat buaya ini karena sempat stres dan berontak, tapi tetap diusahakan evakuasi tidak sampai melukai hewan tersebut," kata Zanir.
Dia mengakui proses evakuasi agak terlambat dilakukan akibat terkendala anggaran dan butuh waktu pemindahan, namun baru dapat terlaksana setelah mendapat arahan dari Kepala BBKSDA Riau Tandia Cahyana.
Jangan ketinggalan berita terbaru:
Ikuti halaman facebook kami klik (Facebook)
Ikuti twitter kami klik (Twitter)(gus)