Kemudahan dan Taufik dari Allah wa JallaSemua kebaikan ada di tangan Allâh Azza wa Jalla dan Dia-lah yang maha kuasa untuk membukakan pintu-pintu kebaikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menghalanginya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Maka memohon kemudahan dan taufik dari Allâh Azza wa Jalla adalah sebab yang paling utama untuk meraih segala kebaikan.
Dalam hadits qudsi yang shahih, Allâh Azza wa Jalla berfirman: Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk (taufik) kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian[25]
Allâh Azza wa Jalla Maha Pemurah, luas rahmat (kasih sayang)-Nya dan berlimpah kebaikan-kebaikan-Nya. Kebaikan terbesar dari-Nya di dunia ini adalah taufik untuk meniti jalan keridhaan-Nya dan kembalinya hati manusia pada fitrah kebaikannya. Maka kebaikan besar ini tidak mungkin dihalangi-Nya dari para hamba-Nya yang beriman dan bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman: Sesungguhnya rahmat Allâh amat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan [Al-A’râf/7:56]
Bahkan Allâh Azza wa Jalla mempunyai nama-nama yang maha indah dan menunjukkan makna sempurna dan luas-Nya kebaikan yang Dia Azza wa Jalla limpahkan kepada para hamba-Nya. Misalnya: al-Muhsin (Maha berbuat kebaikan kepada para hamba-Nya), al-Barr (Maha melimpahkan kebaikan), al-Wahhab (Maha Pemberi anugerah yang berlimpah), al-Mannan (Maha Pemberi karunia yang luas), al-Fattah (Maha Pembuka pintu-pintu kebaikan) dan lain-lain.
Di samping itu, bentuk kemudahan lain dari Allâh Azza wa Jalla , selain kecenderungan hati manusia untuk mudah menerima kebenaran, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, adalah petunjuk-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’an yang sangat dimudahkan memahaminya bagi orang-orang yang mau mempelajarinya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran (petunjuk kebaikan), maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran (darinya)? [Al-Qamar/54:17]
Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Makna ayat ini: Sungguh Kami telah mudahkan al-Qur’an yang mulia, dalam lafazhnya untuk dihafalkan dan disampaikan (kepada orang lain), juga dalam (kandungan) maknanya untuk dipahami dan dimengerti. Karena al-Qur’an adalah perkataan yang paling indah lafazhnya, yang paling benar (kandungan) maknanya, dan paling jelas penafsirannya. Maka setiap orang yang menghadapkan diri (bersungguh-sungguh mempelajari)nya, Allâh Azza wa Jalla akan memudahkan baginya dan meringankannya (untuk mencapai) tujuan tersebut…
Salah seorang Ulama salaf mengomentari ayat ini dengan berkata, “Apakah ada orang yang (mau bersungguh-sungguh) menuntut ilmu (mempelajari al-Qur’an) sehingga Allâh akan menolongnya?”
Oleh karena itu, Allâh mengajak (memotivasi) para hamba-Nya untuk menghadapkan diri dan (bersungguh-sungguh) mempelajari al-Qur’an, dalam firman-Nya (di akhir ayat ini): … Maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?[26]
Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya, utamanya nikmat taufik dan kemudahan dalam melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. (*)
_______
Footnote
[1] Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab Syarhu Shahîhi Muslim, 11/29
[2] HSR. Al-Bukhâri, no. 52 dan Muslim, no. 1599
[3] HR. Al-Hâkim, 1/45, dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh Imam al-Haitsami dan Syaikh al-Albani. Lihat Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah, no. 1585
[4] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr, 3/572
[5] HSR. Al-Bukhâri, 1/465 dan Muslim, no. 2658
[6] Kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 640
[7] HSR. Al-Bukhâri, 1/465 dan Muslim, no. 2658
[8] HSR. Muslim, no. 2865
[9] Kitab Majmû’ al-Fatâwâ, 4/245
[10] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr, 2/347
[11] HR. Ibnu Mâjah, no. 4244; Al-Hâkim, 1/45 dan 2/562 serta Ahmad, 2/297. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam al-Hâkim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani
[12] Lihat Fathul Qadîr, 5/565; Aisarut Tafâsîr, 4/378; Dan Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 915
[13] HSR. Muslim, no. 144
[14] Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam kitab Syarhu Shahîh Muslim, 2/173
[15] Kitab Igâtsatul Lahfân, 1/20
[16] Lihat kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 417
[17] HR. Ahmad, 4/194. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam, hlm. 251 dan Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ ash-Shagîr, no. 2881).
[18] HSR. Muslim, no. 2865
[19] Kitab Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam, hlm. 253
[20] HR. Ibnu Mâjah, no. 4244; Al-Hâkim, 1/45 dan 2/562 dan Ahmad, 2/297. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.
[21] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr, 1/267
[22] Lihat kitab Tafsîr Ibnu Katsîr, 2/553 dan Fathul Qadîr, 2/656
[23] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab al-Wâbilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, hlm. 67
[24] Kitab al-Wâbilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, hlm. 56
[25] HSR. Muslim, no. 2577
[26] Kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 825Source: almanhaj.or.id