Kecenderungan Hati Untuk Mengenal yang Ma'ruf dan Mengingkari yang MunkarAllâh Azza wa Jalla menciptakan hati manusia di atas fitrah yang lurus, kemudian Dia Azza wa Jalla menurunkan syariat-Nya untuk membimbing hati manusia tersebut agar selamat dari tipu daya syaitan dan selalu di atas jalan yang lurus.
Oleh karena itu, pada asalnya hati manusia akan selalu cocok dan selaras dengan petunjuk Islam, bahkan hanya dengan mengenal dan mengamalkan petunjuk-Nya hati manusia akan merasakan kedamaian dan ketenangan yang hakiki. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tenteram [Ar-Ra’du/13:28].
Maksudnya, dengan berzikir kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati manusia akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan. Bahkan tidak ada sesuatupun yang lebih kuat (dalam) mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allâh Azza wa Jalla.[16]
Jadi, pada asalnya, hati manusia lebih dahulu mengenal dan menerima kebenaran atau kebaikan, sedangkan keburukan adalah ‘pendatang baru’ yang kemudian menyusup ke dalam hati manusia.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kebaikan itu adalah sesuatu yang menjadikan jiwa manusia tenang dan hatinya tenteram[17]
Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa Allâh menciptakan para hamba-Nya di atas (fitrah cenderung) mengenal kebenaran, merasa tenang kepadanya dan menerimanya. Allâh Azza wa Jalla menjadikan tabi’at bawaan manusia (cenderung) mencintai kebenaran dan membenci kebalikannya (keburukan). Ini termasuk dalam makna hadits riwayat ‘Iyadh bin Himar Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ““(Allâh Azza wa Jalla berfirman):
Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguh (kemudian) para syaitan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka…”[18]
Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menamakan hal-hal yang diperintahkan-Nya (dalam Islam) dengan ‘al-ma’rûf’ (sesuatu yang dikenal atau dicintai oleh hati) dan hal-hal yang dilarang-Nya dengan ‘al-munkar’ (kemungkaran atau sesuatu yang tidak dikenal dan dibenci oleh hati). Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Sesungguhnya Allâh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allâh melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan [An-Nahl/16:90]
Dan Dia Azza wa Jalla berfirman tentang sifat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Dia menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf (kebaikan) dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar (keburukan), serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk [Al-A’râf/7:157]
Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa hati orang-orang yang beriman selalu tenteram dengan berdzikir kepada-Nya. Hati yang telah dirasuki cahaya iman dan lapang menerimanya maka akan merasa tenang, tenteram dan (mudah) menerima kebenaran, serta selalu berpaling, membenci dan tidak mau menerima kebatilan (keburukan)”[19].
Upaya Mengembalikan Hati pada FitrahnyaDalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang telah kami sebutkan sebelumnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan cara untuk mengembalikan hati pada fitrahnya dan membersihkan kotoran hitam yang menutupi permukaannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di (permukaan) hatinya. Kalau dia (segera) bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun (kepada Allâh Azza wa Jalla ), maka hatinya akan bening (kembali).[20]
Jadi, upaya untuk mengembalikan hati pada fitrahnya adalah dengan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla , yaitu dengan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat, serta berusaha memahami petunjuk-Nya yang memang tujuan utama Allâh Azza wa Jalla menurunkannya kepada manusia adalah untuk menyucikan jiwa mereka dan membersihkan penyakit hati mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
Sungguh Allâh telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allâh mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh, mensucikan (diri) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” [Ali ‘Imrân/3:164]
Makna firman-Nya “menyucikan (diri) mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran penyakit hati dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allâh Azza wa Jalla).[21]
Al-Qur’an adalah sebaik-baik obat penyakit hati yang diturunkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembuhkan dan menghilangkan semu bentuk keburukan dan penyakit yang ada di dalam hati manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat atau pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yûnus/10:57].
Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang anugerah besar yang diturunkan-Nya kepada para hamba-Nya, yaitu al-Qur’an yang mulia, karena di dalamnya terdapat nasehat untuk menjauhi perbuatan maksiat, penyembuh bagi penyakit hati, yaitu kelemahan iman, keragu-raguan dan kerancuan dalam memahami agama, serta penyakit syahwat yang merusak hati. Juga terdapat petunjuk, yaitu bimbingan bagi orang yang merenungkan, memahami, dan mengikuti al-Qur’an ke jalan yang mengantarkannya kepada surga, serta sebab-sebab untuk mendapatkan rahmat Allâh Azza wa Jalla yang terkandung di dalamnya.[22]
Setelah kita memahami bahwa al-Qur’an adalah sebaik-baik obat penyembuh dari penyakit hati manusia dan di dalam ayat-ayatnya terdapat sebaik-baik nasehat dan peringatan untuk menghilangkan kotoran hitam yang menutupinya, sehingga hati akan mudah kembali kepada fitrahnya, maka berdasarkan pengamatan dan perenungan terhadap ayat-ayat al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa cara dan kiat untuk membersihkan kotoran penyakit hati dan mengembalikannya kepada fitrahnya, terdapat dalam tiga poin utama, yaitu:
- Berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla
- Menghilangkan al-gaflah (kelalaian hati)
- Melakukan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa untuk menundukannya di jalan Allâh Azza wa Jalla)
Semua ini terangkum dalam ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Orang yang dipenjara adalah orang yang terpenjara hatinya dari Rabb-nya (Allâh), dan orang yang tertawan (terbelenggu) adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya[23]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semua (keburukan dan kesesatan) bersumber dari kelalaian hati dan memperturutkan hawa nafsu, karena dua sifat buruk inilah yang memadamkan cahaya dan membutakan mata hati.
Allâh Azza wa Jalla berfirman: Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari berdzikir (mengingat) Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas (rusak dan buruk) [Al-Kahfi/18:28][24]