DATARIAU.COM - Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, ironi justru masih sering kita temukan di sekitar. Penyakit yang seharusnya dapat dicegah terus bermunculan, sementara kesadaran masyarakat tentang kesehatan berjalan di tempat. Persoalannya bukan semata keterbatasan fasilitas atau tenaga kesehatan, melainkan lemahnya edukasi kesehatan sebagai fondasi utama masyarakat yang berdaya.
Kesehatan kerap dipahami secara sempit, sebatas urusan rumah sakit, obat-obatan, dan tenaga medis. Padahal, akar kesehatan justru tumbuh dari pengetahuan, sikap, dan perilaku sehari-hari masyarakat. Tanpa edukasi yang memadai, masyarakat hanya menjadi objek pelayanan, bukan subjek yang mampu menjaga dan mengendalikan kesehatannya sendiri.
Edukasi kesehatan memiliki peran strategis dalam mengubah pola pikir masyarakat dari kuratif ke preventif. Pengetahuan tentang sanitasi lingkungan, gizi seimbang, aktivitas fisik, hingga pencegahan penyakit menular dan tidak menular seharusnya menjadi bekal dasar setiap individu. Ketika masyarakat memahami mengapa air bersih penting, mengapa sampah harus dikelola, dan mengapa perilaku hidup bersih dan sehat perlu dibiasakan, maka upaya pencegahan tidak lagi bergantung pada imbauan semata, tetapi lahir dari kesadaran kolektif.
Sayangnya, edukasi kesehatan masih sering diposisikan sebagai kegiatan pelengkap. Penyuluhan dilakukan sekadarnya, kampanye kesehatan bersifat seremonial, dan pesan-pesan kesehatan kalah bersaing dengan informasi yang menyesatkan di media sosial. Akibatnya, hoaks kesehatan lebih cepat dipercaya dari pada penjelasan ilmiah, dan keputusan terkait kesehatan sering diambil tanpa dasar pengetahuan yang benar.
Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang mampu mengambil keputusan sehat secara mandiri. Mereka tidak menunggu sakit untuk peduli, tidak menunggu wabah untuk waspada. Edukasi kesehatan yang berkelanjutan akan membentuk daya kritis masyarakat mampu memilah informasi, memahami risiko, dan menerapkan perilaku sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Peran pemerintah, tenaga kesehatan, pendidik, dan media menjadi sangat penting dalam hal ini. Edukasi kesehatan harus hadir secara konsisten, kontekstual, dan mudah dipahami. Pendekatan satu arah tidak lagi relevan. Dialog, partisipasi, dan pemberdayaan komunitas harus menjadi kunci. Ketika masyarakat dilibatkan, pesan kesehatan tidak hanya didengar, tetapi dijalankan.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak diukur dari banyaknya rumah sakit atau canggihnya alat medis, melainkan dari seberapa mandiri masyarakat menjaga kesehatannya. Edukasi kesehatan bukan sekadar program, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang tangguh, sadar, dan berdaya.
Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu mengobati penyakit, tetapi bangsa yang mampu mencegahnya sejak awal, dimulai dari edukasi kesehatan yang merata dan bermakna.***
*) Penulis merupakan Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku