Allah Mengabadikan Kisah Saba’ dalam Al-Qur’an
Yang membuat kisah Saba’ semakin penting bagi umat Islam adalah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikannya secara khusus dalam Al-Qur’an.
Bahkan terdapat satu surah yang diberi nama Surah Saba’.
Allah berfirman:
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab yang demikian itu melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’: 17)
Ayat ini memberikan penekanan bahwa kenikmatan yang mereka miliki bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Mereka diperintahkan untuk menikmati rezeki Allah sekaligus bersyukur kepada-Nya.
Ketika mereka berpaling dan mengingkari nikmat tersebut, keadaan mereka berubah.
Bukan Sekadar Cerita tentang Banjir
Kisah Saba’ sering kali hanya dipahami sebagai cerita tentang bendungan kuno yang jebol.
Padahal, pesan Al-Qur’an jauh lebih dalam.
Saba’ adalah gambaran bagaimana kemakmuran dapat menjadi ujian bagi manusia.
Sebuah bangsa dapat memiliki tanah yang subur, sumber daya alam yang melimpah, teknologi yang maju, perdagangan yang berkembang, dan kekayaan yang besar. Namun semua itu tidak menjamin keselamatan apabila manusia kehilangan rasa syukur kepada Allah.
Karena itu, Allah juga berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 112:
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”
Pesan tersebut sangat jelas: nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi ujian yang berat.
Pelajaran untuk Indonesia
Kisah Saba’ juga layak menjadi bahan renungan bagi negeri-negeri yang dianugerahi kekayaan alam.
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam luar biasa. Hutan, laut, tanah pertanian, perkebunan, mineral, energi, dan berbagai sumber daya alam lainnya merupakan nikmat yang semestinya dikelola dengan amanah.
Namun kekayaan alam bukan sekadar sumber keuntungan.
Ia adalah amanah.
Apabila kekayaan hanya dikejar untuk kepentingan segelintir orang, lingkungan dirusak, sumber daya dieksploitasi tanpa kendali, dan manusia semakin jauh dari rasa syukur serta ketaatan kepada Allah, maka kisah Saba’ seharusnya menjadi peringatan.
Bukan berarti setiap bencana alam atau kemunduran ekonomi boleh langsung divonis sebagai azab akibat dosa tertentu. Manusia tidak mengetahui perkara gaib dan tidak boleh sembarangan memastikan penyebab suatu musibah.
Namun Al-Qur’an memang mengajarkan bahwa umat manusia harus mengambil pelajaran dari sejarah bangsa-bangsa terdahulu.