SMM PANEL INDO

Ketika Hidup Terasa Berat, Ingatlah: Semua Ini Hanyalah Ujian

datariau.com
158 view
Ketika Hidup Terasa Berat, Ingatlah: Semua Ini Hanyalah Ujian

DATARIAU.COM - Ada masa ketika hidup terasa begitu berat. Rezeki seakan sempit, tubuh diuji dengan sakit, hati harus menerima kehilangan, dan berbagai persoalan datang silih berganti. Di saat seperti itu, terkadang kita bertanya dalam hati, “Mengapa Allah memberikan ujian seberat ini kepadaku?”

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa dunia memang bukan tempat untuk hidup tanpa ujian?

Dunia adalah negeri sementara. Di sinilah manusia diuji, ditempa, dan dinilai. Setelah itu, seluruh manusia akan kembali kepada Allah Ta’ala untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya.

Allah Ta’ala berfirman “Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik.” (QS. An-Najm: 31)

Baca juga:Saat Ekonomi Sulit, Banyak Saudara Kita Menahan Lapar, Bantulah Mereka yang Tidak Meminta-minta


Allah juga mengingatkan “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Perhatikanlah, Allah tidak hanya mengatakan bahwa manusia akan diuji dengan kesusahan. Allah menyebutkan “keburukan dan kebaikan”.

Artinya, sakit adalah ujian. Tetapi sehat juga ujian. Kemiskinan adalah ujian. Tetapi kekayaan juga ujian. Kehilangan adalah ujian. Tetapi memiliki banyak kenikmatan pun merupakan ujian.

Bahkan, terkadang manusia lebih mudah menghadapi kesulitan daripada menghadapi kelapangan. Ketika sakit, seseorang mungkin lebih banyak berdoa dan mengingat Allah. Namun ketika sehat, ia bisa terlena. Ketika miskin, ia mudah memohon pertolongan Allah. Tetapi ketika harta berlimpah, ia bisa lupa bahwa semua itu hanyalah titipan.

Baca juga:Menunda Bayar SPP Anak Termasuk Kezaliman: Menghilangkan Keberkahan Ilmu


Karena itu, jangan pernah mengira bahwa kehidupan yang penuh kenikmatan pasti menjadi tanda bahwa Allah sedang memuliakan kita. Sebaliknya, jangan pula menganggap bahwa kesulitan yang kita alami merupakan tanda bahwa Allah sedang menghinakan kita.

Allah Ta’ala berfirman “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’” (QS. Al-Fajr: 15-16)

Kemudian Allah membantah persangkaan tersebut dengan firman-Nya, “Sekali-kali tidak demikian.”

Baca juga:Semua Orang Bisa Kaya Raya, Namun Hanya Orang Pilihan yang Bisa Mendapatkan Hidayah


Maka jangan ukur kemuliaan seseorang hanya dari banyaknya harta. Jangan ukur kasih sayang Allah hanya dari kesehatan yang kita rasakan. Jangan pula menilai bahwa seseorang sedang jauh dari Allah hanya karena hidupnya dipenuhi kesulitan.

Sebab, yang menentukan kemuliaan seorang hamba bukanlah banyak atau sedikitnya dunia yang dimilikinya, melainkan bagaimana ia menghadapi ujian tersebut.

Saat Kesulitan Datang, Bersabarlah


Ketika musibah datang, mungkin kita tidak memahami mengapa Allah memilih kita untuk menghadapinya. Air mata jatuh. Hati terasa hancur. Doa seakan belum menemukan jawaban. Hari-hari terasa panjang dan melelahkan.

Namun seorang mukmin percaya bahwa tidak ada satu pun ketetapan Allah yang sia-sia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Ahmad)

Baca juga:Saat Ekonomi Semakin Sulit, Solusinya Kuatkan Tauhid


Kesulitan yang kita benci bisa menjadi jalan terhapusnya dosa. Kesakitan yang kita keluhkan bisa menjadi sebab bertambahnya pahala.

Kehilangan yang membuat kita menangis bisa menjadi jalan agar hati semakin dekat kepada Allah. Karena itu, ketika musibah datang, jangan hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?”

Cobalah bertanya, “Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui semua ini?”

Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita tentang kesabaran. Bisa jadi Allah sedang mengembalikan hati kita yang selama ini terlalu jauh. Bisa jadi Allah sedang menggugurkan dosa-dosa yang tidak kita sadari.

Saat Kenikmatan Datang, Jangan Lupa Bersyukur


Namun ujian tidak selalu berupa air mata. Terkadang ujian datang dalam bentuk senyuman. Ketika rekening bertambah, ketika usaha berkembang, ketika tubuh sehat, ketika anak-anak tumbuh dengan baik, ketika pekerjaan lancar dan kehidupan terasa nyaman, semuanya juga merupakan ujian.

Apakah kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh? Apakah nikmat tersebut membuat kita semakin rendah hati atau malah membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain? Apakah harta yang diberikan digunakan untuk kebaikan atau hanya untuk memuaskan keinginan?

Seorang mukmin tidak akan terlena dengan kenikmatan dunia. Ia sadar bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan. Karena itu, ketika mendapat nikmat, ia bersyukur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya merupakan kebaikan. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan, dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Baca juga:Bertahan di Tengah Sulitnya Ekonomi: Menjaga Nafkah Keluarga Tetap Halal


Betapa indah kehidupan seorang mukmin. Ketika diuji dengan kesusahan, ia bersabar. Ketika diuji dengan kesenangan, ia bersyukur. Dalam dua keadaan itu, ia tetap mendapatkan kebaikan.

Jangan Membandingkan Ujian Kita dengan Orang Lain


Sering kali kita melihat kehidupan orang lain dan merasa hidup kita paling berat. Kita melihat seseorang memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang mewah, pekerjaan yang mapan, keluarga yang bahagia. Lalu kita merasa tertinggal.

Padahal kita tidak pernah tahu ujian apa yang sedang mereka sembunyikan. Begitu pula seseorang yang hidup dalam kesederhanaan tidak berarti ia sedang hina di hadapan Allah. Boleh jadi, kesederhanaannya membuat ia lebih dekat kepada Allah.

Dan seseorang yang memiliki kekayaan belum tentu lebih mulia. Bisa jadi kekayaan itu justru menjadi pertanyaan besar yang harus ia jawab di hadapan Allah. Sebab ukuran kemuliaan bukanlah apa yang terlihat oleh manusia. Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan.

Baca juga:Solusi Krisis Ekonomi Global: Tetap Bergantung pada Ketetapan Allah


Allah menguji setiap hamba dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang diuji dengan harta, ada yang diuji dengan kekurangan. Ada yang diuji dengan kesehatan, ada yang diuji dengan penyakit. Ada yang diuji dengan kesendirian, ada pula yang diuji dengan keluarga dan tanggung jawab yang besar.

Maka tugas kita bukan meminta agar kehidupan selalu berjalan sesuai keinginan. Tugas kita adalah belajar menjadi hamba yang tetap taat dalam keadaan apa pun.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)