Rekor Dunia Kue Talam Durian Pekanbaru Tercoreng Kericuhan, Banyak Warga Kecewa Tak Kebagian

datariau.com
104 view
Rekor Dunia Kue Talam Durian Pekanbaru Tercoreng Kericuhan, Banyak Warga Kecewa Tak Kebagian

PEKANBARU, datariau.com - Festival Kue Talam Ketan Durian sepanjang satu kilometer yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Jenderal Sudirman, Ahad (21/6/2026), berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai kue talam durian terpanjang. Namun, keberhasilan tersebut justru dibayangi kericuhan, aksi saling berebut, hingga banyaknya warga yang pulang tanpa sempat mencicipi kue yang menjadi ikon acara tersebut.

Sejak pagi, ribuan warga memadati lokasi kegiatan. Antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan pemecahan rekor sekaligus menikmati kue talam durian gratis ternyata tidak diimbangi dengan pengaturan distribusi yang memadai. Saat acara baru dimulai, massa langsung bergerak mendekati meja-meja penyajian hingga terjadi desak-desakan di sejumlah titik.

Warga saling berebut potongan kue, sebagian pengunjung mengambil lebih dari satu porsi, sementara warga lain yang telah mengantre sejak pagi justru tidak mendapatkan bagian.

"Sudah berdiri lama menunggu, pas giliran kami maju kuenya sudah habis," keluh salah seorang warga.

Baca juga:Pecahkan Rekor MURI, Kue Talam Ketan Durian Terpanjang di Dunia Menjadi Rebutan Warga Pekanbaru di Pagi Minggu


Tidak hanya masyarakat umum, sorotan juga tertuju kepada sejumlah ibu-ibu yang mengenakan seragam PKK. Dalam beberapa rekaman video yang beredar, terlihat sejumlah perempuan berseragam tersebut berada di area pembagian kue dan ikut mengambil kue dalam jumlah cukup banyak.

Padahal, keberadaan mereka di lokasi semestinya membantu panitia mengatur pembagian agar berlangsung tertib dan merata. Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi mengaku kecewa karena melihat ada kue yang disimpan terlebih dahulu oleh oknum tertentu, sementara warga yang mengantre di bagian belakang akhirnya tidak kebagian.

"Harusnya yang bertugas membantu pembagian memberi contoh yang baik. Banyak warga yang sudah antre malah pulang kosong," ujar seorang pengunjung yang menyaksikan langsung suasana di lokasi.

Baca juga:Aidil Amri Apresiasi Rencana Festival Kue Talam Ketan Durian Terpanjang di Dunia yang Akan Pecahkan Rekor MURI pada HUT ke-242 Pekanbaru


Kericuhan yang terjadi semakin disayangkan karena bertolak belakang dengan nilai-nilai budaya Melayu yang selama ini menjadi identitas masyarakat Riau. Dalam adat Melayu, makanan bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga berkaitan dengan adab, kesopanan, dan penghormatan terhadap sesama.

Masyarakat Melayu mengenal berbagai tata krama makan, mulai dari membaca doa sebelum makan, duduk dengan tertib, tidak berebut makanan, mendahulukan orang lain, hingga menghindari perilaku mubazir. Nilai-nilai tersebut selama ini diajarkan dalam lingkungan keluarga maupun kegiatan adat.

Namun pemandangan yang terjadi di lokasi festival justru memperlihatkan hal sebaliknya. Banyak warga terlihat menyantap makanan sambil berdiri dan berjalan. Beberapa potongan kue juga tampak jatuh berserakan akibat desak-desakan dan rebutan. Di sejumlah titik, sisa makanan bahkan terlihat tercecer di sepanjang area kegiatan.

Peristiwa tersebut menjadi catatan penting bagi penyelenggara acara besar di masa mendatang, keberhasilan memecahkan rekor dunia seharusnya tidak hanya diukur dari panjangnya sajian makanan, tetapi juga dari kualitas penyelenggaraan dan kemampuan menjaga marwah budaya daerah.

"Kalau hanya mengejar rekor, mungkin berhasil. Tetapi kalau berbicara tentang pendidikan adab, ketertiban, dan citra masyarakat Melayu, tentu ini menjadi evaluasi bersama," kata Agus, seorang warga yang menyaksikan acara.

Festival Kue Talam Ketan Durian merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Kota Pekanbaru ke-242. Pemerintah Kota Pekanbaru sebelumnya menargetkan pemecahan rekor MURI melalui penyajian talam durian sepanjang satu kilometer yang melibatkan pelaku UMKM dan masyarakat.

Meski rekor berhasil diraih, banyak warga berharap kejadian serupa tidak terulang. Mereka menilai panitia perlu menyiapkan sistem antrean yang lebih baik, pembatasan jumlah pengambilan per orang, serta pengamanan yang lebih ketat agar seluruh masyarakat dapat menikmati hasil kegiatan secara adil.

Bagi sebagian warga, yang paling disesalkan bukan sekadar tidak mendapatkan sepotong kue talam durian. Lebih dari itu, peristiwa yang seharusnya menjadi kebanggaan bersama justru meninggalkan kesan kurang baik dan memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai-nilai budaya Melayu masih tercermin dalam pelaksanaan kegiatan publik di Kota Pekanbaru.

Kekecewaan warga semakin meluas karena kericuhan tersebut tidak hanya menjadi perbincangan di tingkat lokal, tetapi juga menyebar secara nasional melalui berbagai platform media sosial. Video dan foto yang memperlihatkan ribuan warga berdesakan, saling berebut kue talam durian, hingga sejumlah orang membawa beberapa potong kue sekaligus, ramai dibagikan oleh akun-akun informasi dan media digital. Dalam waktu singkat, suasana yang seharusnya menjadi momen kebanggaan atas keberhasilan Pekanbaru memecahkan rekor MURI justru berubah menjadi bahan perbincangan publik di dunia maya.

Sejumlah netizen menyayangkan peristiwa tersebut karena dinilai tidak mencerminkan citra masyarakat Melayu yang selama ini dikenal menjunjung tinggi sopan santun, tertib, dan adab dalam menikmati makanan. Beberapa warga bahkan mengaku malu karena tayangan kericuhan itu telah ditonton masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.***



JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)