PEKANBARU, datariau.com - Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kota Pekanbaru, Datuk Seri Rizky Bagus Oka, mengajak masyarakat untuk memaksimalkan ibadah sekaligus menjaga tradisi adat Melayu yang sarat dengan nilai keagamaan di penghujung bulan suci Ramadan 1446 H/2025 M. Baginya, Ramadan bukan sekadar waktu berpuasa, tetapi juga momen untuk mempererat hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.
“Dalam adat Melayu, agama dan budaya ibarat dua sisi mata uang. Tak terpisah, tapi saling melengkapi. Di 10 hari terakhir Ramadan ini, mari kita perkuat ibadah dan jaga tradisi, agar marwah kita tetap teguh,” kata Datuk Seri Bagus Oka, Senin (24/3/2025).
Dikatakan Datuk Seri Rizky Bagus Oka, sepuluh malam terakhir Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Inilah waktu terbaik untuk meraih Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Datuk Seri Rizky mengajak seluruh masyarakat Pekanbaru untuk meningkatkan qiyamul lail, tadarus Al-Quran, berzikir, dan bersedekah.
“Adat Melayu mengajarkan kita untuk menjemput berkah, bukan menunggu. Malam Lailatul Qadar adalah anugerah luar biasa. Jangan sia-siakan waktu ini hanya karena sibuk dengan duniawi. Kita persiapkan hati dan diri sebaik-baiknya," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan, sesuai dengan pepatah Melayu, 'Tutur kata yang lembut, Wajah yang ramah, Itulah tanda orang beriman.'
Selain ibadah, adat Melayu memiliki berbagai tradisi yang memperkuat nilai religius dan sosial. Salah satunya adalah Festival Lampu Colok, tradisi menyalakan lampu minyak yang biasanya dihiasi di sepanjang jalan, masjid, dan surau.
“Lampu colok bukan sekadar penerang malam. Ia simbol cahaya iman, harapan, dan semangat kebersamaan. Dalam gelap malam Ramadan, kita diingatkan bahwa dengan iman dan amal, kita akan menemukan jalan yang terang,” jelas Datuk Seri Rizky Bagus Oka.
Ditambahkan Datuk Seri Bagus Oka, tradisi lain seperti Berbagi Berkat kepada fakir miskin dan anak yatim juga menjadi wujud nyata dari falsafah Melayu yang mengutamakan kebersamaan. Menurutnya, dalam rezeki yang dimiliki seseorang, terdapat hak orang lain yang membutuhkan.
“Adat Melayu tak membiarkan orang lain lapar ketika kita kenyang. Di sinilah kita jaga marwah, dengan saling berbagi dan peduli,” ucapnya.
Menjelang Hari Raya Idulfitri, Datuk Seri Bagus Oka juga mengingatkan masyarakat untuk menyambut kemenangan dengan kesederhanaan dan silaturahmi. Salah satu tradisi yang terus dijaga adalah ziarah kubur, di mana keluarga berdoa untuk leluhur sebagai tanda bakti kepada orang tua dan nenek moyang.
“Orang Melayu memulai lebaran dengan doa, bukan sekadar pesta. Ziarah kubur mengingatkan kita akan asal usul dan pentingnya mendoakan orang yang telah pergi,” paparnya.
Selain itu, adat Melayu juga menekankan pentingnya bermaafan di hari raya. Datuk Seri Rizky berpesan agar masyarakat benar-benar memanfaatkan momen lebaran sebagai waktu membersihkan hati dan mempererat silaturahmi.
“Lebaran bukan sekadar baju baru, tapi hati yang baru. Maaf-memaafkan adalah tradisi mulia yang meneguhkan persaudaraan dan menanamkan rasa rendah hati,” tuturnya.
Harapan untuk Pekanbaru yang Lebih Baik
Datuk Seri Rizky Bagus Oka menutup dengan harapan agar Ramadan tahun ini menjadi momen memperbaiki diri, menjaga adat, dan memperkokoh iman.
“Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Inilah pegangan kita. Mari kita jaga adat, kuatkan agama, dan sambut lebaran dengan kesyukuran. Semoga Pekanbaru semakin bagus dan bermarwah,” tutupnya. (end)