DATARIAU.COM - Dunia penyiaran Indonesia tengah
memasuki babak baru dengan diselenggarakannya workshop bertajuk "DVB-I and
DVB-NIP, Technology Development & Opportunities" oleh Asosiasi
Televisi Swasta Indonesia (ATVSI). Workshop tersebut menjadi ajang pemutakhiran
pengetahuan teknologi penyiaran digital terkini.
Workshop ATVSI
berlangsung di SCTV Tower, Senayan City, Jakarta, pada Senin (2/6/2025) dan
dihadiri oleh pelaku industri penyiaran serta pemangku kepentingan terkait.
Acara ini membahas potensi teknologi siaran digital terbaru, peluang bisnis,
serta regulasi yang perlu disiapkan untuk mendorong adopsi di Indonesia.
Sekretaris
Jenderal ATVSI dan Corporate Secretary SCM, Gilang Iskandar, menekankan
pentingnya respons cepat terhadap dinamika teknologi penyampaian konten.
"Perubahan distribusi konten ini merubah pola bisnis, mengubah sistem,
proses dari bisnis itu sendiri, hingga regulasi penyiaran," ungkap Gilang.
Pada kesempatan
ini, penyelenggara fokus mendalami dua teknologi distribusi konten digital,
yaitu DVB-I (Digital Video Broadcasting-Internet) dan DVB-NIP (Digital Video
Broadcasting-Native IP Broadcasting). Gilang menjelaskan bahwa kedua teknologi
tersebut mencerminkan tren dalam penyiaran modern yang mengintegrasikan siaran
televisi dan radio berbasis internet dengan layanan over-the-top (OTT).
Workshop dibagi
dalam beberapa sesi dengan menghadirkan pakar internasional seperti Mika
Kanerva dari Sofia Digital dan Paul Higgs dari Huawei. Mereka memaparkan
bagaimana teknologi DVB-I memungkinkan distribusi siaran TV melalui jaringan
internet dengan kualitas broadcast. Penggunaan dua teknologi ini diharapkan
dapat menciptakan peluang baru dalam memanfaatkan 5G Broadcast untuk memperluas
jangkauan siaran tanpa bergantung sepenuhnya pada infrastruktur konvensional.
Di sesi
selanjutnya, para narasumber membedah teknologi DVB-NIP, sebuah standar
distribusi konten berbasis IP multicast yang memungkinkan efisiensi dalam
menyampaikan konten video kepada banyak pengguna sekaligus. Richard Smith dari
EKT menjelaskan bagaimana teknologi ini dapat membantu operator mengurangi
beban jaringan sambil tetap menjaga kualitas layanan.
ATVSI juga
menyoroti perlunya kesiapan regulasi dengan mengangkat perspektif kebijakan
dari Kementerian Komunikasi dan Digital Affairs terkait kebutuhan penyesuaian
standar penyiaran nasional dengan praktik internasional. Diskusi membahas apa
saja yang dibutuhkan agar teknologi ini bisa diadopsi secara luas di Indonesia,
termasuk dukungan pemerintah, kesiapan infrastruktur, dan kesesuaian dengan
ekosistem penyiaran lokal.
Acara yang
berlangsung seharian penuh ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan di
sektor penyiaran, termasuk perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital,
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), asosiasi lembaga penyiaran, serta mitra
internasional dari proyek BVB. Workshop ditutup dengan sesi demo teknologi dan
tanya jawab langsung bersama para mitra demo, memberikan gambaran nyata
bagaimana teknologi ini dapat diimplementasikan.***
Sumber: Liputan6.com