JAKARTA, datariau.com - Percepatan transformasi digital yang terjadi di berbagai sektor bisnis turut meningkatkan risiko ancaman siber yang semakin kompleks. Serangan phishing, ransomware, hingga kebocoran data kini menjadi tantangan serius yang harus dihadapi perusahaan dalam menjaga keberlangsungan operasional dan keamanan informasi.
Direktur PT. Nusa Network Prakarsa, Edward, mengatakan bahwa perusahaan perlu mengubah cara pandang terhadap keamanan siber. Menurutnya, keamanan digital tidak lagi sekadar menjadi pelengkap sistem teknologi informasi, melainkan telah menjadi bagian penting dari strategi bisnis perusahaan.
"Keamanan siber bukan lagi sekadar lapisan tambahan, tetapi sudah menjadi bagian inti dari strategi bisnis. Perusahaan yang tidak siap akan sangat rentan terhadap gangguan operasional dan kerugian data," ujar Edward kepada datariau.com melalui keterangan tertulis, kemarin.
Baca juga:Ancaman Siber Kian Meningkat, Porta Bawa Teknologi Corero ke Indonesia
PT. Nusa Network Prakarsa merupakan perusahaan system integrator yang berperan menghubungkan berbagai sistem teknologi, mulai dari jaringan, keamanan, hingga infrastruktur teknologi informasi agar dapat berjalan secara terpadu, efisien, dan mudah dikelola. Melalui peran tersebut, perusahaan membantu berbagai organisasi membangun ekosistem teknologi yang terintegrasi dari beragam solusi dan vendor.
Di tengah meningkatnya ancaman siber, Edward membagikan lima langkah penting yang dapat diterapkan perusahaan untuk memperkuat keamanan digital mereka.
Langkah pertama adalah memperkuat kebijakan keamanan data. Perusahaan perlu memiliki aturan yang jelas terkait akses data, penggunaan perangkat kerja, serta pengelolaan kata sandi. Kebijakan tersebut harus dipahami oleh seluruh karyawan karena kesadaran internal menjadi fondasi utama dalam mencegah kebocoran data.
Baca juga:Tips Media Online Terhindar dari Gugatan Hukum: Panduan untuk Redaksi dan Jurnalis Digital
Kedua, perusahaan disarankan menerapkan sistem keamanan berlapis. Penggunaan firewall, antivirus, endpoint protection, serta multi-factor authentication (MFA) dinilai mampu memberikan perlindungan yang lebih optimal dibandingkan hanya mengandalkan satu lapisan keamanan.
Ketiga, perusahaan perlu rutin melakukan pembaruan dan patch sistem. Banyak serangan siber terjadi akibat celah keamanan pada perangkat lunak yang belum diperbarui. Dengan melakukan update secara berkala, potensi kerentanan sistem dapat diminimalkan.
Langkah keempat adalah meningkatkan kesadaran karyawan terhadap ancaman siber. Human error masih menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kebocoran data. Oleh karena itu, pelatihan mengenai phishing, email mencurigakan, dan praktik keamanan digital perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Baca juga:Media Online Riau Tumbuh Pesat, Persaingan Digital Semakin Ketat
Sementara itu, langkah kelima adalah memanfaatkan sistem monitoring dan deteksi ancaman secara real-time. Teknologi ini memungkinkan tim IT mendeteksi aktivitas mencurigakan lebih cepat sehingga respons terhadap potensi serangan dapat dilakukan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.