Intoleransi Terhadap Siswa Minoritas di Sekolah Negeri

datariau.com
242 view
Intoleransi Terhadap Siswa Minoritas di Sekolah Negeri
Foto: ist

DATARIAU.COM - Toleransi berasal dari kata Latin tolerantia, yang berarti kesabaran, kelonggaran, dan kelembutan. Secara keseluruhan, toleransi berarti bersikap terbuka, terbuka, sukarela, dan penuh kasihsayang. Toleransi dapat ditafsirkan dengan dua cara. Pertama, interpretasi negatif mengatakanbahwa toleransi hanya perlu tidak campur tangan dan tidak menyakiti orang lain atau kelompok. Kedua, penafsiran ini menguntungkan karena toleransi bukan hanya membiarkan, tetapi juga mendukung keberadaan orang lain atau kelompok.

Lawan dari nilai-nilai toleransi adalah intoleransi, yang berarti tidak menghormati perbedaan antara individu, baik dari segi agama, etnis, atau hal lainnya, yang dapat menyebabkan kebencian dan kekacauan. Jika sikap tidak toleran terus meningkat tanpa upaya untuk meningkatkan kesadaran diri, hal itu bisa menyebabkan konflik sosial yang berujung pada disintegrasi negara. Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang menjadi intoleran, namun agama bukanlah akar dari intoleransi itu sendiri, melainkan pemahaman yang salah terhadap ajaran agama itu sendiri. Sikap terlalu eksklusif dapat memicu gerakan yang berpotensi untuk melakukan tindakan Intoleransi.

Contoh Peristiwa Intoleransi Siswa terhadap Siswa Non-Muslim


Lingkungan pendidikan juga berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap tingkat toleransi. Keadaan lingkungan pendidikan yang memadai dapat mengurangi kemungkinan siswa menunjukkan sikap dan perilaku intoleran. Sikap tersebut termasuk dalam tindakan Bullying, tanpa menghormati orang lain, melakukan kecurangan, dan sejenisnya. Pendidikan tentu dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan nasional harus dapat meningkatkan, memperluas, dan menanamkan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Dalam hal ini pembinaan sikap toleransi antar siswa sangat berperan penting dalam pengamalan Pancasila.

Banyak sekali isu-isu yang berkembang dalam dunia Pendidikan salah satunya yaitu Intoleransi yang dilakukan oleh siswa terhadap sesama siswa, misalnya intoleransi terhadap siswa non muslim disekolah. Banyak sekali kasus siswa non muslim yang merasa tidak dihargai baik dari teman sebaya dan pihak sekolah yang mayoritas beragama islam. Contohnya saja banyak sekali siswa yang tidak ingin berteman dengan siswa beragama non muslim dengan beralasan siswa non muslim makan dan minum yang dilarang oleh agama islam,selain itu banyak diskriminasi atau perundungan terjadi terhadap siswa non muslim, hanya dikarenakan berbeda agama. Selain itu masih banyak siswa yang tidak mengharagain siswa minoritas ini disekolah bahkan sampai diejek karena menggunakan pakaian terbuka dan tidak memakai hijab.

Pencegahan Tindakan Intoleransi Pada Siswa di Sekolah


Pengenalan Kurikulum Merdeka dan budaya literasi Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum yang mulai diterapkan sejak tahun 2020 sebagai pengembangan dari kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum berbasis kompetensi dan Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Dalam kurikulum ini, pentingnya menyempurnakan keterampilan dan pengetahuan peserta didik melalui softskills dan hardskills sangat diutamakan untuk mencapai keseimbangan dalam kompetensi sikap, keahlian, dan pengetahuan mereka. Keberhasilan penerapan kurikulum sangat tergantung pada keterampilan guru yang akan melaksanakan dan menghidupkan kurikulum tersebut.

Kemampuan guru tersebut terutama terkait dengan pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab yang harus dijalankannya. Tidak dapat disangkal bahwa kegagalan dalam menerapkan kurikulum mempengaruhi kemampuan dan pengetahuan seseorang dalam menjalankan bidangnya. Peningkatan kemampuan mengajar guru melalui pendalaman dan penerapan Pendidikan Pancasila dilakukan melalui aksi refleksi yang berkelanjutan.

Sebagai langkah untuk memperkuat Pendidikan Pancasila, selain mendalami Kurikulum Merdeka, juga dilakukan melalui promosi literasi budaya. Budaya literasi adalah praktik membaca dan menulis yang menunjukkan kemampuan keberaksaraan seseorang. Budaya literasi bertujuan untuk membentuk kebiasaan berpikir yang diikuti dengan kegiatan membaca dan menulis, sehingga hasil dari proses tersebut adalah karya yang diciptakan. Tidak hanya membaca untuk mendapatkan informasi, namun juga kita dapat belajar tentang empati dan sudut pandang. Menulis juga bisa membentuk kepribadian atau karakter seseorang. Ini merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang multikultural, di mana karakter toleransi dan empati terhadap perbedaan menjadi sesuatu yang indah untuk dicatat dan diingat oleh masyarakat.

Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penguatan pendidikan Pancasila


Untuk mencegah sikap intoleran pada siswa SMU termasuk pemerintah (dalam hal ini dinas pendidikan), kepala sekolah, guru, dan lingkungan sekolah. Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (sistem pendidikan nasional) dan Permendikbud No. Kurikulum Sekolah Menegah Atas dan Madrasah Aliyah tahun 2013 ditetapkan pada tahun 2014 dengan nomor 59 tahun 2014. Aturan ini berfungsi sebagai standar pendidikan.

Pada dasarnya tujuan kurikulum Merdeka adalah mengembangkan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif dan emosional dengan memperkuat sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara terpadu. Sekolah bertanggung jawab melaksanakan undang-undang ini guna menstandardisasi peran minimal kepala sekolah dalam menerima pendidikan.Sebagai otoritas pendidikan terkemuka, kepala sekolah juga berperan sebagai pengawas terhadap segala bentuk kegiatan pendidikan disekitarnya. Untuk mencapai pendidikan yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional, pimpinan sekolah menyusun program berdasarkan nilai-nilai Pancasila, antara lain : Kegiatan organisasi sekolah, pengembangan seni dan bakat siswa, serta program keagamaan.

Guru sebagai praktisi pendidikan menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik dalam berbagai kegiatan, termasuk kegiatan pembelajaran di sekolah. Diperlukan kreativitas guru dalam memilih metode pengajaran dan mengembangkan aktivitas siswa yang mencerminkan nilai-nilai prinsip, termasuk Pancasila, dalam materi pelajaran. Selain itu, peran guru adalah menjadi teladan bagi siswa baik di dalam maupun di luar sekolah. ***

Disusun oleh: Salsabilla Ramadhona

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)