Dusun Rimba Cempedak Kabupaten Siak: Potret Kehidupan yang Masih Terpinggirkan di Tengah Kemajuan Zaman

datariau.com
2.833 view
Dusun Rimba Cempedak Kabupaten Siak: Potret Kehidupan yang Masih Terpinggirkan di Tengah Kemajuan Zaman
Foto: Khoirunnisa
Perjalanan menuju Rimba Cempedak bukanlah hal yang mudah. Jalanan sepanjang 20 kilometer dari kantor kecamatan masih berupa tanah, licin, dan dipenuhi tanjakan serta turunan.

SIAK, datariau.com - Di balik megahnya pembangunan yang terus digencarkan di berbagai wilayah Indonesia, masih ada sudut negeri yang seolah terabaikan. Salah satunya adalah Dusun Rimba Cempedak, sebuah dusun terpencil di Desa Kerinci Kanan, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Tulisan ini merupakan hasil observasi lapangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau kelompok 101 yang ditempatkan di Desa Kerinci Kanan. Mereka mendapati bahwa di dusun ini, sekitar 42 kepala keluarga harus menjalani kehidupan dengan penuh keterbatasan di tengah hutan dan perkebunan sawit.

Akses Jalan yang Memprihatinkan


Perjalanan menuju Rimba Cempedak bukanlah hal yang mudah. Jalanan sepanjang 20 kilometer dari kantor kecamatan masih berupa tanah, licin, dan dipenuhi tanjakan serta turunan. Saat musim hujan, akses menjadi semakin parah. Tidak sedikit kendaraan roda dua maupun roda empat yang terpuruk di lumpur, bahkan sering kali pengendara harus berjibaku agar bisa keluar dari jalan yang rusak parah. Jalan ini menjadi simbol keterasingan yang selama ini dirasakan masyarakat.

Hidup Tanpa Listrik dan Jaringan




Hingga kini, dusun ini belum menikmati aliran listrik negara. Warga hanya mengandalkan genset dan panel surya seadanya, itu pun tidak semua mampu memilikinya. Genset hanya menyala sekitar 6 jam per hari, sementara sebagian besar malam masih dilalui dalam gelap.

Kondisi komunikasi jauh lebih memprihatinkan. Tidak ada jaringan telepon maupun internet di dusun ini. Warga yang ingin menghubungi kerabat atau sekadar mencari informasi dari luar harus berjalan ke atas bukit untuk mencari sinyal, itupun tidak selalu berhasil. Hal ini membuat warga merasa terisolasi dari dunia luar.

Pendidikan yang Terbatas




Di bidang pendidikan, Rimba Cempedak hanya memiliki SDN 13 Kerinci Kanan yang baru diresmikan pada tahun 2007, sebelumnya masih berstatus kelas jauh dari SDN 01 Kerinci Kanan. Saat ada kepentingan besar seperti ujian nasional, anak-anak harus menempuh perjalanan jauh ke sekolah induk.

Tahun ini jumlah siswa hanya 16 orang, dengan pembagian kelas yang sangat sedikit--bahkan kelas I hanya memiliki 1 murid. Dalam 12 tahun terakhir, jumlah murid terbanyak hanya 28 orang.



Menurut salah satu guru, Rine Pertiwi SPd, akses yang sulit, ketiadaan listrik, serta minimnya perhatian orang tua membuat motivasi anak-anak sangat rendah. Akibatnya banyak yang putus sekolah setelah lulus SD karena di dusun ini tidak ada SMP maupun SMA.



Minim Fasilitas Kesehatan


Kesehatan juga menjadi persoalan serius. Tidak ada puskesmas, bidan, atau tenaga medis di dusun ini. Warga harus keluar dusun untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, sesuatu yang sulit dilakukan terutama saat darurat atau ketika akses jalan semakin parah.

Bertahan Hidup dengan Keterbatasan


Masyarakat Rimba Cempedak umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan pekebun sawit. Meski akses terbatas, mereka tetap berusaha bersyukur atas apa yang dimiliki.

Salah satu kisah datang dari Kepala Dusun, yang dengan nada lelah mengatakan: “Kami sudah tidak mau terlalu berharap pada pemerintah. Selama 10 tahun terakhir, kami melaporkan keadaan ini, tapi tetap saja diabaikan.”

Kutipan ini menggambarkan rasa putus asa yang mendalam, meski warga tetap berjuang menjalani kehidupan sehari-hari.

Harapan Masyarakat


Warga Dusun Rimba Cempedak tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin merasakan hak dasar sebagai warga negara: akses jalan yang layak, aliran listrik, jaringan komunikasi, dan pendidikan yang lebih memadai.

Harapan terbesar mereka adalah agar suara mereka didengar, bukan diabaikan. Sebab, di tengah kemajuan zaman, masih ada saudara sebangsa yang belum benar-benar merasakan arti kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.***

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN Mas Universitas Muhammadiyah Riau 2025 di Desa Kerinci Kanan, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak.

Penulis
: Khoirunnisa
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)