Likuefaksi, Banyak yang Belum Tahu, Berikut Penjelasan Ahli

1.360 view
Likuefaksi, Banyak yang Belum Tahu, Berikut Penjelasan Ahli
google.com

DATARIAU.COM - Pasca gempa bumi yang melanda Palu dan Donggala beberapa waktu lalu, likuefaksi menjadi salah satu fenomena yang acap dibicarakan di tengah masyarakat. Sebab, banyak juga yang belum pernah mendengar tentang fenomena tersebut.

Dikabarkan bahwa selain gempa bumi dan tsunami yang menghantam Sulawesi Tengah pada Jum'at (28/9) lalu, ada juga kejadian alam berupa pergerakan tanah (Likuefaksi) yang menyebabkan terbawanya banyak bangunan, pohon-pohon dan lain-lain.
 
Dikutip dari laman kompas.com, Ahli Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Ahmad Sadisun menjelaskan tentang faktor yang menyebabkan terjadinya tanah bergerak dan mengeluarkan material yang kemudian kita kenal dengan istilah likuefaksi.

Dikutip dari artikel di laman resmi ITB, Imam menjelaskan, fenomena likuefaksi merupakan perubahan karakter material padat (solid) menjadi seperti cairan (liquid) sebagai akibat dari adanya guncangan besar.

Guncangan berkekuatan tinggi yang terjadi secara tiba-tiba di tanah dengan dominasi pasir yang sudah mengalami jenuh air, atau tidak lagi bisa menampung air. Ini menyebabkan tekanan air pori naik, melebihi kekuatan gesekan tanah yang ada.

"Proses itulah yang menyebabkan likuefaksi terbentuk dan material pasir penyusun tanah menjadi seakan melayang di antara air," kata Imam. Apabila posisi tanah terletak di lahan miring, tanah dapat bergerak menuju bagian bawah karena tertarik gaya gravitasi.

Pergerakan inilah yang menjadikan tanah seolah-olah terlihat "berjalan", berpindah dari tempat semula ke tempat yang baru. Pergerakan ini membawa serta segala benda dan bangunan yang ada di atasnya, misalnya rumah, pohon, tiang listrik, dan sebagainya.

"Secara lebih spesifik, kejadian ini disebut sebagai aliran akibat likuefaksi atau flow liquefaction," ujarnya. Namun, apabila kekuatan tekanan air pori tidak melampaui kekuatan gesek tanah, efek dari likuefaksi hanya sebatas retakan-retakan yang memunculkan air dengan membawa material pasir.

Likuefaksi ini terjadi di Lombok pasca-gempa kemarin, menyebabkan terjadinya retakan di permukaan dan sumur yang tiba-tiba terisi pasir. Efek ini disebut sebagai cyclic mobility.

roses likuifaksi tanah di Kota Palu hasil rekaman citra Satelit WorldView resolusi pixel 0.5 meter. Rumah dan bangunan terseret oleh lumpur yang muncul akibat gempa dan menenggelamkannya.

Tim SAR terus bekerja melakukan evakuasi di daerah ini. Korban terus ditemukan. Dapat diperhitungkan Imam menyebut, potensi likuefaksi dapat diidentifikasi bahkan memungkinkan untuk dihitung.

Secara umum likuefaksi terjadi di wilayah rawan gempa dengan muka air tanah dangkal dan kondisi tanahnya kurang terkonsolodasi. Pada umumnya, likuefaksi terjadi apabila terdapat gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 5 di kedalaman kategori dangkal.

Material tanah yang terlikuifaksi berada di bawah muka air tanah dengan kedalaman sekitar 20 meter atau lebih, tergantung persebaran tanah di suatu wilayah.

Untuk meminimalisasi ancaman terjadinya likuifaksi dapat dilakukan dengan berbagai upaya rekayasa pengerasan atau pemadatan material tanah.

Misalnya, dengan mencampurkan semen (soil mixing), injeksi semen (grouting), membuat pondasi dalam sampai tanah keras, dan sebagainya.

"Namun kendalanya adalah dari biaya yang tinggi. Untuk rumah biasa seperti itu sulit, tapi untuk bangunan yang tinggi (upaya) itu harus," kata Imam.
 

Editor
: Diana Maulina
Sumber
: kompas.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)