Indonesia Siapkan Kabel Optik Laut Canggih Deteksi Tsunami

Najwa
296 view
Indonesia Siapkan Kabel Optik Laut Canggih Deteksi Tsunami
Foto: science.org

DATARIAU.COM - Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan teknologi kabel optik bawah laut sebagai bagian dari sistem peringatan dini tsunami nasional untuk meningkatkan akurasi deteksi dan memperluas jangkauan pemantauan tsunami di zona megathrust.

Teknologi ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Telkom Indonesia yang akan diintegrasikan ke dalam sistem peringatan dini tsunami yang dikelola Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). "Ini adalah riset inovasi teknologi untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami yang sudah ada," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Jumat (30/5/2025).

Menurut Dwikorita, kabel optik bawah laut tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan pertukaran data, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai jaringan sensor untuk mendeteksi perubahan tekanan dan gelombang bawah laut. Teknologi ini menjadi indikator awal terjadinya tsunami yang dapat memperluas jangkauan pemantauan.

"Jika kabel optik ini dapat digunakan untuk mendeteksi tsunami, maka distribusi sensor bisa lebih merata ke seluruh wilayah, termasuk kawasan laut yang saat ini belum memiliki sistem deteksi," ungkap Dwikorita. Hal ini diharapkan dapat menutup celah pemantauan di berbagai wilayah perairan Indonesia.

Meski menjanjikan, Dwikorita menegaskan teknologi ini harus terlebih dahulu melalui uji kelayakan dan kesesuaian dengan standar nasional sebelum diintegrasikan ke dalam Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Validasi menyeluruh diperlukan untuk memastikan keandalan sistem.

Berdasarkan peta sumber gempa nasional (PuSGen) 2017, Indonesia dikelilingi oleh 13 zona megathrust. Dua di antaranya adalah Segmen Selat Sunda yang membentang hingga selatan Jawa-Bali, serta zona Mentawai-Siberut di barat Sumatera yang dianggap sebagai kawasan rawan berpotensi menimbulkan gempa besar dan tsunami.

"Zona-zona ini belum mengalami gempa besar selama ratusan tahun. Aktivitas seismik di sana masih menjadi ancaman nyata yang bisa terjadi kapan saja," kata Dwikorita. Ia menegaskan sistem peringatan dini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga mencakup kecepatan respons, ketepatan informasi, dan perlindungan terhadap jutaan jiwa.***

Sumber: Republika.co.id

Penulis
: Najwa
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)