PEKANBARU, datariau.com - Menjamurnya warung internet ternyata ada dampak negatifnya. Warnet yang hanya mengejar keuntungan rupiah semata, secara tidak langsung ternyata sudah ikut merusak generasi bangsa.
Dimana, beberapa warnet tidak mengikuti aturan, buka sampai tengah malam bahkan sampai subuh. Anak-anak bersarang di warnet, apa yang dicari di internet hingga tengah malam tersebut, ternyata sebagian mereka bermain judi online.
Seorang ibu mencurahkan rasa hatinya kepada datariau.com, Senin (27/2/2017). Dia menceritakan bahwa anaknya yang masih berstatus pelajar, hancur sejak keberadaan warnet di kampungnya.
Sebut saja nama ibu itu Ayu, -karena dia meminta namanya tidak perlu disebutkan-, dia tinggal di salah satu desa di Provinsi Riau. Sejak di desanya masuk pengusaha warnet, bahkan ada 10 titik warnet dan beberapa diantaranya menerima tamu hingga subuh, pergaulan anaknya mengkhawatirkan, bahkan sekolahnya pun berantakan.
"Sejak itu tidak pernah tidur di rumah, sekolah malas-malasan, bagaimana pula kan sekolah, tidur aja entah kapan," sebutnya.
Sejak mengenal judi online, apalagi di malam minggu, anaknya ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang untuk modal berjudi. "Sampai-sampai motornya dia gadaikan dan akhirnya terjual," cerita ibu tersebut.
Ketahuannya sang anak bermain judi online di warnet, saat si ibu berdiskusi dengan beberapa rekan anaknya tersebut, ternyata mereka kuat bertahan semalaman main di depan monitor komputer karena ada game online yang bisa menghasilkan uang jika kita menang.
"Dikuatkan lagi, anak saya ini barang-barangnya habis dijual, hp, sepatu, sampai motornya sendiri terjual. Kemarin motor papanya digadaikan Rp1 juta sama temannya, udah kesusahan pula papanya nyari uang untuk nebus motor itu," kata sang ibu sambil mata berkaca-kaca.
Dia berharap, tidak ada lagi korban ketagihan warnet lainnya. Sebab, dia sudah merasakan memiliki anak yang rusak akibat keberadaan warnet yang menyediakan waktu untuk bermain hingga pagi.
"Saya sangat setuju masuknya warnet ke desa ini, tapi harus diatur, jangan sampai merusak seperti ini. Setidaknya warnet itu untuk mencari tugas sekolah dan untuk belajar, bukan berjudi apalagi nonton video porno ataupun chatting berbau seks. Kalau warnet disediakan untuk belajar, tentu tidak akan buka sampai pagi," pintanya.
Sebagai seorang ibu, dia sangat menyesali kondisi yang terjadi saat ini, anaknya tidak menyelesaikan pendidikan, hingga anaknya kini tidak jelas keberadaannya, sesekali pulang itu pun tidak lagi seperti anak-anak biasanya yang betah di rumah, hanya sebentar kemudian pergi lagi.
"Ketika ditanya mau kemana, dia berlalu begitu saja, pokoknya sangat susah sekarang, gimana lah caranya biar dia sadar dan kembali ke keluarganya," sedih si ibu.
Dia khawatir, sesuatu yang buruk dilakukan anaknya di luar sana, karena anaknya setiap saat mengeluh butuh uang, terkadang hanya untuk mendapatkan Rp50 ribu, si anak mampu menipu tetangganya, pinjam uang dengan alasan untuk beli obat.
"Setiap malam kalau ada terdengar suara mesin motor berhenti di dekat rumah, rasa-rasa ada yang ngabari anak sedang di kantor polisi, sungguh sedih dan gelisah hati ini. Dengan sangat saya memohon, pemerintah aturlah warnet ini, agar kembali kepada fungsi semula, hanya untuk mencari tugas dan belajar yang baik," pungkasnya.