5 Permainan Tradisional yang Mulai Ditinggalkan

datariau.com
2.911 view
5 Permainan Tradisional yang Mulai Ditinggalkan
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Di zaman modern sekarang banyak permainan yang dimainkan melalui smartphone, sehingga kebanyakan anak-anak zaman sekarang lupa dengan permainan tradisi daerah mereka sendiri.

Padahal kalau kita melirik pada zaman sebelumnya, banyak permainan yang tidak kalah seru dari permainan yang ada di smartphone. Berikut adalah permainan tradisional yang sudah mulai ditinggalkan, dikutip dari berbagai sumber:

1. Kelereng



Kelereng adalah bola kecil kira-kira berdiameter 1.25 cm. Dulu, kelereng terbuat dari tanah liat, tapi kini lebih banyak yang dibuat dari marmer atau kaca. Mainan ini punya banyak sebutan di Indonesia, seperti gundu, keneker, kelici, dan guli.

Permainan ini dimainkan lebih dari satu anak, setiap anak meletakkan sebutir kelereng didalam lingkaran yang telah dibuat. Setelah itu setiap anak berdiri kira-kira satu meter dari lingkaran dan secara bergantian melempar sebutir kelereng lainnya ke arah lingkaran. Anak yang kelerengnya paling jauh dari lingkaran mendapat giliran pertama dalam permainan.

Setiap anak harus menggunakan kelereng yang ada di luar lingkaran sebagai penyerang untuk memukul keluar kelereng yang ada di dalam lingkaran dengan cara menjentikkan kelereng penyerangnya. Pemenang dari permainan ini adalah anak yang paling banyak mengumpulkan kelereng dari dalam lingkaran.

2. Enggrang


Gambar: Ulinulin.com

Adalah sebuah kesenian yang akhrinya menjadi permainan tradisional Indonesia. Enggrang biasanya terbuat dari 2 batang bambu yang memiliki panjang masing-masing 2 meter, kemudian sekitar 50 cm dari alas bambu tersebut, bambu dilubangi lalu lubang tadi diberi bambu dengan ukuran sekitar 20-30 cm yang berfungsi sebagai pijakan kaki. Maka jadilah sebuah alat permainan yang dinamakan enggrang. Bambu yang biasa dipakai adalah bambu apus atau wulung.

Mula-mulanya enggrang berkembang di Kabupaten Karawang Jawa Barat pada tahun 1960-an. Dahulu enggrang digunakan sebagai suatu pertunjukan yang diiringi oleh berbagai alat musik tradisional Jawa Barat.

3. Engklek


Gambar: Soloevent

Permainan yang biasanya banyak dimainkan oleh anak-anak perempuan ini biasanya dilakukan secara berkelompok maupun perorangan. Permainan ini dilakukan diatas bidang datar yang Digambar diatas tanah dengan membuat gambar kotak-kotak.

Permainan ini memiliki banyak manfaat bagi anak-anak seperti, melatih kemampuan fisik anak karena permainan ini dimainkan dengan cara melompat-lompat, melatih anak untuk bersosialisasi dengan orang lain, melatih anak-anak untuk menaati peraturan yang telah disepakati bersama.

Untuk dapat bermain, setiap anak harus berbekal gacuk yang biasanya berupa sebentuk pecahan genting, yang juga disebut kreweng, yang dalam permainan, kreweng ini ditempatkan di salah satu petak yang tergambar di tanah dengan cara dilempar, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada.

Pemain yang telah menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu, berhak memilih sebuah petak untuk dijadikan "sawah" mereka, yang artinya di petak pemain yang memiliki sawah dapat menginjak petak itu dengan kedua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki kotak paling banyak adalah yang akan memenangkan permainan ini.

4. Gobak Sodor


Gambar: Tribunnews

Permainan ini adalah permainan beregu yang biasanya setiap regu terdiri dari 3-5 orang. Tujuan dari permainan ini adalah menghadang lawan agar tidak lolos melewati garis baris terakhir secara bolak-balik. Untuk menentukan pemenangnya seluruh anggota regu harus berhasil melakukan proses bolak-balik di area permainan yang telah ditentukan.

Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga area permainan terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal.

Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.

Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal biasanya hanya satu orang, maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.

5. Patok Lele


Gambar: portalsatu

Permainan tradisional yang mengandalkan keterampilan menangkap dan memukul secara seimbang. Untuk memainkannya menggunakan kayu berbentuk silinder dengan panjang 40-50 cm dengan diameter kurang lebih 2-4 cm 1 buah, dan kayu berbentuk silinder dengan panjang 15-20 cm dengan diameter kurang lebih 1,5-3cm 1 buah.

Permainan ini biasanya di lakukan di tanah yang lapang. Dengan membuat sebuah lubang di pinggir lapangan dengan ukuran 10 x 4 cm dengan kedalaman 4 cm.

Cara memainkan permainan ini dengan meletakkan kayu yang lebih pendek secara melintang di atas lubang yang telah dibuat di pinggir lapangan. Lalu dengan menggunakan tongkat kayu yang panjang untuk mengungkit tongkat kayu kecil sejauh mungkin.

Aturan memainkan permainan ini ialah anak patok lele dimasukkan dalam lobang tanah, kemudian diangkat keatas sejauh mungkin dengan induk patok, lawan akan menangkap anak patok yang terlempar, bila gagal maka terpaksa harus melempar induk patok yang diletakkan diatas lobang dan harus mengenainya.

Bila gagal lagi maka pihak yang sedang memainkan permainan, memposisikan anak patok secara vertikal kemudian memukul dengan induk patok sebanyak mungkin dan bila lawan berhasil menangkap ketika sedang memukul maka akan mendapatkan bonus. Bila gagal menangkap maka pihak pemukul akan mengukur sejauh mana patok lele dipukul dengan induk patok lele kemudian dikalikan dengan poin yang telah ditetapkan sejak awal permainan.

Itu tadi beberapa permainan tradisional Indonesia yang sudah jarang dimainkan oleh anak-anak Indonesia zaman sekarang. Alangkah baiknya kita sebagai anak Indonesia melestarikan budaya permainan tradisional kita sendiri. (vit)
Penulis
: Vitto Akbara
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)