PEKANBARU, datariau.com - Makanan tradisional Riau seperti gulai belacan, lempuk durian, dan lomok-lomok kini mulai tersingkir dari radar kuliner anak muda. Di tengah gempuran budaya populer, terutama dari Korea dan Jepang, pilihan konsumsi masyarakat--terutama generasi muda-- mengalami pergeseran signifikan. Restoran cepat saji bergaya Korea dan Jepang semakin mendominasi, sementara warung tradisional justru banyak yang mulai kehilangan pelanggan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi energi per kapita per hari di Provinsi Riau pada tahun 2024 hanya mencapai 2.017,10 kilokalori. Angka ini masih di bawah standar kecukupan energi. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia, kebutuhan energi harian yang dianjurkan untuk pria dewasa usia 30-49 tahun adalah 2.550 kilo kalori per hari. Sementara itu, untuk wanita dewasa pada rentang usia yang sama, kebutuhan energinya adalah 2.150 kilo kalori per hari.
Rendah tingkat kalori ini bisa menjadi salah bukti yang mengindikasikan tingginya konsumsi makanan cepat saji daripada makanan tradisional. Makanan tradisional biasanya lebih sehat karena mengandung serat yang tinggi dan kandungan nutrisi yang beragam sehingga akan menghasilkan kalori yang lebih tinggi. Sedangkan makanan cepat saji seperti ramen atau tteokbokki biasanya mengandung lemak jenuh dan mengandung bahan tambahan dan pengawet yang berimplikasi pada rendahnya kalori yang dikandungnya.
Lebih jauh lagi, pengeluaran rata-rata per kapita untuk makanan di Riau tercatat sebesar Rp 1.563.165 per bulan pada tahun 2024, dengan komoditas yang paling besar porsinya adalah makanan siap saji, rokok, serta makanan dan minuman olahan modern sebanyak 13,96% dari total pengeluaran untuk makanan yang mengalami peningkatan dari 10 tahun yang lalu yang hanya berkisar di angka 11.40%. Di sisi lain, makanan berbasis resep lokal mengalami penurunan proporsi dalam struktur pengeluaran rumah tangga hal ini dapat dilihat dari penurunan konsumsi kacang-kacangan yang menjadi 0,72% dibandingkan pada 10 tahun yang lalu yang berada di angka 0,81%.
Hal ini mencerminkan pola konsumsi yang semakin mengurangi makanan lokal/tradisional. Makanan tradisional dinilai kurang menarik secara tampilan dan tidak praktis untuk dikonsumsi di era serba cepat menjadi salah satu faktor dari penurunan konsumsi makanan tradisional. Sebaliknya, menu seperti ramen, sushi, dan tteokbokki yang kini lebih populer dinilai memiliki visual dan daya jual tinggi di media sosial.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan punahnya kekayaan resep turun-temurun. Jika makanan tradisional tak segera diberi ruang dalam gaya hidup modern, generasi berikutnya bisa jadi hanya mengenal kuliner daerahnya sebatas nostalgia.
Namun masih ada secercah harapan. Sejumlah pelaku UMKM di Riau mulai berinovasi dengan mengemas ulang makanan tradisional menjadi sajian cepat saji modern. Misalnya, Burger Rendang Riau, Martabak Lempok Durian, hingga Rice Bowl Sate Lokan semuanya berupaya menjembatani cita rasa lama dengan gaya hidup kekinian.
Inovasi ini menjadi kunci penting dalam pelestarian kuliner lokal. Dengan menggabungkan cita rasa warisan leluhur dengan tampilan modern dan strategi pemasaran digital, makanan tradisional berpotensi kembali eksis tak hanya di pasar lokal, tapi juga di panggung nasional dan internasional.
Mempertahankan makanan tradisional bukan hanya soal rasa, tapi juga menjaga identitas. Selain itu, identitas itu harus bisa tetap hidup di meja makan hari ini, bukan sekadar cerita masa lalu di buku resep keluarga.***