JAKARTA, datariau.com - Universitas Paramadina Kampus Cipayung bersama Nagasaki Women’s Junior College dan AWINA memperkuat hubungan persahabatan Indonesia??"Jepang melalui kegiatan bertajuk “Bridges Beyond Borders: Strengthening Friendship Through Cultural Understanding and Global Collaboration”, Senin (31/8/2026).
Kegiatan yang digelar di Aula TP Rachmat, Universitas Paramadina Kampus Cipayung, itu menjadi ruang pertukaran perspektif mengenai budaya, sejarah, pendidikan, serta hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Jepang.
Sejumlah pembicara hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina Dr. Rizki Damayanti, Dosen Hubungan Internasional Asriana Issa Sofia, MA, Iwamoto Yoshinori dari Nagasaki Women’s Junior College, Lurah Cipayung Yulian Fathinah, S.STP., serta Director of Marketing dan Beasiswa Universitas Paramadina sekaligus dosen Paramadina Graduate School of Diplomacy, Dr. Peni Hanggarini.
Baca juga:Universitas
Paramadina Gelar International Forum for Entrepreneurship Educators
2026, Dorong Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Aksi
Dr. Rizki Damayanti menekankan bahwa hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui diplomasi dan kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui hubungan antarmanusia atau people-to-people connections.
“Hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui hubungan diplomatik dan kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui people-to-people connections--melalui pertemanan, pendidikan, kebudayaan, dan pengalaman yang kita bagikan bersama,” ujar Rizki.
Menurutnya, hubungan Indonesia dan Jepang yang telah berlangsung panjang perlu terus diperkuat melalui mutual understanding atau kemauan untuk saling memahami cara berpikir, berinteraksi, menghargai budaya, dan melihat dunia.
“Kami percaya, generasi muda adalah jembatan terbaik untuk membangun hubungan tersebut,” katanya.
Baca juga:Universitas Paramadina dan IPB University Bedah Paradigma GDP-Oriented dan Agenda Degrowth untuk Ekonomi Indonesia
Sementara itu, Asriana Issa Sofia memaparkan perjalanan hubungan Indonesia dan Jepang yang mengalami transformasi dari masa konflik dan pendudukan menuju rekonsiliasi hingga menjadi kemitraan strategis multidimensi.
Kerja sama kedua negara kini mencakup berbagai bidang, mulai dari perdagangan, investasi, energi, infrastruktur, pendidikan, teknologi, keamanan, maritim hingga kerja sama dalam kerangka Indo-Pasifik.
Ia juga menyoroti Fukuda Doctrine pada 1977 yang menjadi salah satu tonggak penting dalam membangun hubungan Indonesia-Jepang yang lebih setara dan saling menguntungkan, termasuk melalui pertukaran budaya, pendidikan dan hubungan antarmasyarakat.
Dari Jepang, Iwamoto Yoshinori menghadirkan perspektif personal melalui kisah keluarganya di Nagasaki. Ia menceritakan ibunya yang selamat dari bom atom Nagasaki pada 9 Agustus 1945, namun kehilangan seluruh anggota keluarganya dan kemudian menghadapi diskriminasi sebagai penyintas.
“Saya lahir karena ibu saya tidak pernah menyerah,” ujar Iwamoto.
Baca juga:
Khatulistiwa Universitas Paramadina Kibarkan Merah Putih di Tiga Gunung Tertinggi Jawa Tengah
Ia menilai kisah tersebut menunjukkan pentingnya hubungan antargenerasi. Menurutnya, kehidupan seseorang dapat terus terhubung dan memberikan makna bagi generasi berikutnya.
Iwamoto juga mengungkapkan panjangnya hubungan Nagasaki dengan Indonesia. Pada masa Edo, gula dari Indonesia menjadi salah satu komoditas yang masuk ke Nagasaki melalui perdagangan internasional dan turut memengaruhi budaya pangan kota tersebut, termasuk sejarah kue Castella yang kini identik dengan Nagasaki.
“Saya sangat senang Universitas Paramadina dan Nagasaki Women’s Junior College dapat bersatu, melintasi batas negara, dan menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” katanya.
Dr. Peni Hanggarini mengatakan, Bridges Beyond Borders bukan sekadar kegiatan memperkenalkan budaya Indonesia dan Jepang, tetapi menjadi upaya membangun jembatan persahabatan antara kedua negara, masyarakat, dan generasi muda.
“Bagi Universitas Paramadina, Bridges Beyond Borders bukan sekadar tentang memperkenalkan budaya Indonesia dan Jepang, tetapi tentang membangun jembatan-jembatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang, antara masyarakat dan generasi muda, serta antara dua budaya yang mungkin berbeda, tetapi memiliki banyak hal untuk dipelajari dan dibagikan bersama,” ujar Peni.