PENANG MALAYSIA, datariau.com - Guru Besar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI), Prof Dr Rd Siti Sofro Sidiq, menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Antarabangsa ke-13 Ekologi, Habitat Manusia & Perubahan Persekitaran di Alam Melayu (EHMAP-13), 2025. Seminar bergengsi yang berlangsung dari tanggal 23 hingga 24 Juli 2025 di Penang, Malaysia ini dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan dan perguruan tinggi di Malaysia dan Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Siti memaparkan hasil penelitiannya tentang Kearifan Lokal Suku Talang Mamak dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan di Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT). Paparannya menyoroti keberadaan dan peran vital Suku Talang Mamak, salah satu kelompok masyarakat adat yang mendiami kawasan hutan TNBT di Provinsi Riau.
Prof Siti dengan tegas menyatakan bahwa Suku Talang Mamak merupakan aset budaya yang sangat berharga, tidak hanya bagi Provinsi Riau, tetapi juga bagi Indonesia secara keseluruhan.
“Keberadaan dan kebudayaan Suku Talang Mamak perlu terus dipertahankan dan dilestarikan. Mereka bukan hanya menghuni kawasan hutan TNBT dari aspek kependudukan, tetapi dari sudut pandang kebudayaan, Suku Talang Mamak memiliki kearifan lokal yang terinternalisasi serta dipraktekkan dalam berinteraksi dengan ekosistem mereka,” tegas Prof Siti di hadapan peserta seminar.
Dalam pemaparannya, Prof Siti menjelaskan bahwa bagi Suku Talang Mamak, hutan bukan sekadar sumber daya alam, melainkan entitas yang sarat makna spiritual, kultural, dan sosial.Hutan dipandang sebagai Kekuatan Spiritual, Ibu dari peradaban, dan simbol kedaulatan adat.
Kearifan lokal inilah, menurut Prof Siti, yang membuat Suku Talang Mamak menjadi mitra kunci yang tak tergantikan dalam upaya pelestarian dan pengelolaan berkelanjutan kawasan TNBT. Pola pengelolaan mereka yang berbasis pada penghormatan mendalam terhadap alam telah terbukti mampu menjaga keseimbangan ekologi selama berabad-abad.
Partisipasi aktif Prof Dr Rd Siti Sofro Sidiq dalam EHMAP-13 ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UNRI dan Provinsi Riau, tetapi juga mengangkat potensi dan tantangan pelestarian masyarakat adat beserta kearifan lokalnya ke panggung intelektual. Ini menegaskan komitmen dalam mendokumentasikan dan mempromosikan model pengelolaan lingkungan berbasis budaya lokal yang holistik dan berkelanjutan, khususnya di kawasan Alam Melayu yang memiliki kesamaan ekosistem dan tantangan.
Seminar EHMAP yang rutin digelar setiap tahun menjadi ajang penting bagi akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi terbaru dalam menghadapi perubahan lingkungan yang cepat di kawasan Melayu. Presentasi tentang Suku Talang Mamak diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi penelitian dan pemberdayaan lebih lanjut. Di sisi lain dapat pula mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada perlindungan masyarakat adat dan kearifan lokalnya dalam pengelolaan sumber daya alam. ***