PEKANBARU, datariau.com - Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), menjadi ajang untuk menghadirkan inovasi yang mengagumkan.
Tim dari Program Studi Biologi Universitas Riau dengan bangga memperkenalkan ARFLORUM, sebuah produk tisu makan atau tisu dapur (dining napkin) yang mengambil bahan baku dari kulit jengkol.
Di balik kesuksesan produk inovatif ini ada sekelompok mahasiswa yang bersemangat dan berkomitmen yang berasal dari program studi Biologi FMIPA Universitas Riau.
Mereka adalah Agnes Della Lumban Gaol, Maori Azzahra Ramadhani, Elizabeth Sibuea, Elisabet Elwana Siregar, dan Lovia Sella, yang telah memimpin dengan semangat tinggi dalam mengembangkan ARFLORUM.
Mereka juga didampingi oleh seorang dosen pembimbing yang kompeten yakni Dr Ninik Nihayatul Wahibah MSi.
Salah satu alasan utama di balik proyek ARFLORUM adalah keprihatinan akan perubahan fungsi hutan menjadi hutan tanaman industri (HTI) akibat penggunaan serat kayu dalam industri tisu konvensional, sehingga diperlukan inovasi bahan baku yang lebih ramah lingkungan, seperti kulit jengkol.

Kulit jengkol umumnya dianggap sebagai limbah dan dianggap tidak memiliki nilai ekonomis untuk dimanfaatkan. Namun, tim PKM-K ARFLORUM telah mengubahnya menjadi sesuatu yang berharga. Kulit jengkol diketahui memiliki kandungan selulosa yang sangat berpotensi sebagai bahan baku pembuatan tisu dan berpotensi mensubstitusi serat kayu yang umum digunakan dalam pembuatan tisu. Dengan demikian, proyek ini memiliki dampak positif pada keberlanjutan lingkungan dan juga membuka peluang ekonomi baru dalam pengolahan limbah.
"Saat kami memulai proyek ini, banyak yang meragukan bahwa kulit jengkol bisa menjadi bahan baku tisu yang berkualitas. Namun, kami yakin bahwa setiap bahan memiliki potensi jika ditangani dengan benar. ARFLORUM adalah bukti bahwa dedikasi, kerja keras, dan semangat inovasi dapat mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat," ujar Agnes Della Lumban Gaol selaku Ketua Tim ARFLORUM kepada datariau.com melalui rilis, belum lama ini.
Tahapan dalam pembuatan ARFLORUM melibatkan proses yang cermat dan teliti. Tim melakukan persiapan bahan baku limbah kulit jengkol yang diperoleh dari pasar. Kemudian, kulit jengkol dicuci dan dikeringkan untuk menghilangkan aroma tidak sedapnya.

Setelah itu, kulit jengkol dihaluskan dan disortir seratnya. Serat kulit jengkol kemudian masuk ke tahapan sterilisasi dengan cara perebusan kulit jengkol, diikuti oleh tahap utama pembuatan pulp tisu, yakni delignifikasi serat dengan NaOH 10%, bleaching dengan NaOH 5% dan H2O2 5%, serta pencetakan pulp dengan penambahan talkum. Tisu makan (dining napkin) ?ARFLORUM? dijual dan dikemas dalam 3 varian, yaitu ukuran besar isi 60 sheet, ukuran sedang isi 40 sheets dan ukuran kecil isi 25 sheets.
Kelembutan, ketahanan, dan daya serapnya membuat ARFLORUM menjadi pilihan yang baik bagi konsumen yang peduli akan lingkungan. Tim PKM-K ARFLORUM berharap bahwa ARFLORUM adalah awal dari banyak inovasi berkelanjutan yang akan mereka bawa untuk lingkungan. Mereka terus berusaha untuk melakukan pengembangan lebih lanjut dari produk ini, baik dari segi metode produksi maupun varian tisu berbahan kulit jengkol itu sendiri.
ARFLORUM adalah bukti bahwa semangat kolaboratif, kreativitas, dan visi bersama dapat menciptakan inovasi yang mengubah dunia. Mari bersama-sama merayakan pencapaian luar biasa dari Tim PKM-K Biologi Universitas Riau dan mendukung ARFLORUM dalam perjalanannya untuk merubah dunia. (*)