KEPULAUAN MERANTI, datariau.com - Mahasiswa Program Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Berdampak Universitas Riau (UNRI) melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui inovasi pengolahan sagu menjadi pempek di Desa Sungai Tohor Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas sagu sebagai tanaman khas daerah sekaligus mendorong lahirnya produk unggulan desa yang berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui serangkaian tahapan, mulai dari survei bahan baku, sosialisasi inovasi pengolahan pangan, praktik pembuatan pempek sagu, pelatihan sanitasi pangan, pengemasan produk, hingga pemasaran kepada masyarakat.
Program diawali dengan survei lapangan pada Jumat, 26 Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Kukerta turun langsung ke kanal dan kebun sagu untuk berdiskusi dengan para petani serta mempelajari proses pengolahan sagu, mulai dari batang sagu hingga menjadi tepung siap olah.
Baca juga:Mahasiswa KKN KUKERTA Berdampak Universitas Riau dan Ibu-Ibu PKK Kompak Olah Sagu dalam Kegiatan Masak Bersama
Dari hasil survei diketahui bahwa Desa Sungai Tohor Barat memiliki potensi sagu yang melimpah. Namun, pemanfaatannya masih didominasi sebagai bahan baku utama dan belum banyak dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menyusun program inovasi pengolahan sagu melalui produk pempek yang diharapkan dapat menjadi alternatif usaha baru bagi masyarakat desa.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa menggelar sosialisasi bertajuk "Peningkatan Potensi Sagu Melalui Pempek Sagu" pada Selasa, 14 Juli 2026, di Kantor Desa Sungai Tohor Barat. Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu PKK dengan materi yang difokuskan pada tiga aspek utama, yakni inovasi produk berbasis sagu, sanitasi dan higiene pangan, serta strategi pemasaran melalui media sosial.
Baca juga:Mahasiswa KUKERTA UNRI Digitalisasi 11 UMKM Kerupuk Sagu di Kuansing, Bantu Buat Logo hingga Daftarkan ke Google Maps
Koordinator Desa Kukerta Sungai Tohor Barat, Adrian Felix Christian, mengatakan bahwa pempek yang selama ini dikenal menggunakan bahan dasar tepung tertentu dipadukan dengan tepung sagu sebagai identitas produk lokal desa.
"Pempek yang biasanya menggunakan bahan dasar lain, pada kesempatan ini akan kita kombinasikan dengan tepung sagu. Tepung sagu merupakan produk lokal khas Sungai Tohor Barat. Melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini, besar harapan kami kegiatan ini dapat membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu dan masyarakat di sini, sehingga ekonomi kreatif di tingkat keluarga hingga desa dapat terus tumbuh dan mandiri," ujar Adrian.
Setelah mendapatkan materi, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan pempek sagu pada Sabtu, 17 Juli 2026. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa membimbing ibu-ibu PKK mulai dari pemilihan bahan, pembuatan adonan biang, pencampuran tepung sagu, proses pembentukan berbagai varian pempek, perebusan, pendinginan, hingga tahap penggorengan.
Tidak hanya pembuatan pempek, peserta juga diajarkan cara membuat kuah cuko sebagai pelengkap produk. Mahasiswa turut memberikan pelatihan mengenai standar sanitasi dan higiene pangan, mulai dari pencucian bahan baku, sterilisasi peralatan, hingga penanganan produk setelah proses produksi selesai agar kualitas pangan tetap terjaga.
Untuk meningkatkan daya saing produk, mahasiswa juga memperkenalkan teknik pengemasan yang lebih baik sehingga pempek sagu memiliki masa simpan lebih lama, tetap higienis, dan menarik bagi konsumen.
Sebagai bentuk uji pasar, hasil produksi pempek sagu kemudian diperkenalkan kepada masyarakat pada Sabtu, 18 Juli 2026, bertepatan dengan pembukaan Fun Match Mini Soccer Putra dan Bola Voli Putri Kukerta Cup 2026 di Desa Sungai Tohor Barat.
Baca juga:Media Online Tempat Memuat Berita Kukerta, Ribuan Artikel Mahasiswa Tayang di Data Riau
Pada kesempatan tersebut, mahasiswa bersama ibu-ibu PKK membuka stan penjualan pempek sagu yang mendapat perhatian dari peserta maupun masyarakat yang hadir. Berbagai tanggapan positif pun diberikan terhadap cita rasa produk olahan sagu tersebut.
Salah seorang warga, Suryana, mengaku menyukai rasa pempek sagu yang disajikan.
"Enak, terasa dagingnya," ujarnya.
Ia juga memberikan masukan agar penyajian produk semakin praktis dan menarik bagi pembeli.
"Evaluasinya pakai cup, terus kuahnya dipisah saja pakai plastik," tambahnya.
Mahasiswa Kukerta menyampaikan bahwa seluruh rangkaian program prioritas telah terlaksana sesuai rencana. Kegiatan dimulai dari identifikasi potensi desa melalui survei bahan baku, diskusi bersama masyarakat, sosialisasi inovasi produk dan sanitasi pangan, praktik pembuatan pempek sagu, pelatihan pemasaran digital, hingga penjualan produk kepada masyarakat.