PELALAWAN, datariau.com - Persoalan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan bagi masyarakat Desa Angkasa, Kecamatan Bandar Petalangan, Kabupaten Pelalawan. Selama ini, sebagian warga mengelola sampah secara mandiri dengan cara konvensional, seperti menimbun sampah di lahan pekarangan maupun membakarnya secara terbuka.
Namun, kebiasaan tersebut mulai menimbulkan persoalan baru. Lahan untuk menimbun sampah semakin terbatas, sementara asap dari pembakaran terbuka dinilai mengganggu kenyamanan warga dan kualitas udara di lingkungan sekitar.
Salah seorang warga, Marmin, mengatakan selama ini dirinya terbiasa menimbun sampah rumah tangga di halaman belakang rumah. Akan tetapi, lahan yang tersedia kini semakin terbatas sehingga membutuhkan alternatif pengelolaan sampah.
“Saya biasanya melakukan penimbunan sampah di belakang rumah, sekarang sudah kehabisan lahan dan butuh solusi lain untuk mengelola sampah rumah tangga,” ujarnya.
Baca juga:Pembuatan
Tungku Roket Jadi Solusi Pengelolaan Sampah Minim Asap di Desa
Perkebunan Sungai Parit Inhu Oleh Mahasiswa Kukerta Berdampak UNRI
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KUKERTA Berdampak Universitas Riau (UNRI) yang bertugas di Desa Angkasa menjadikan pembuatan tungku pembakaran sampah minim asap sebagai salah satu program kerja prioritas.
Program tersebut lahir berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan mahasiswa pada minggu pertama pengabdian. Sejak memulai pengabdian pada 22 Juni 2026, mahasiswa menemukan dua persoalan utama yang dihadapi masyarakat, yakni keterbatasan lahan untuk menimbun sampah dan dampak asap akibat pembakaran secara terbuka.
Tungku yang dibuat mahasiswa dirancang dengan memanfaatkan prinsip aliran udara untuk membantu proses pembakaran berlangsung lebih sempurna. Saat sampah kering dimasukkan ke dalam tungku dan api dinyalakan, udara akan masuk melalui lubang pada bagian bawah.
Baca juga:Pembangunan Rocket Stove Jadi Legacy Mahasiswa KKN UNRI di Desa Paya Rumbai, Dukung Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan
Pasokan oksigen tersebut membantu menjaga api tetap menyala. Sementara itu, asap dan gas hasil pembakaran bergerak ke atas melalui cerobong. Aliran udara dari bawah ke atas menciptakan tarikan yang membuat proses pembakaran lebih stabil dan suhu di dalam ruang bakar meningkat.
Dengan mekanisme tersebut, sampah dapat terbakar lebih sempurna sehingga asap yang dihasilkan diharapkan lebih minim dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.
Pembangunan tungku dilakukan di dua lokasi, yakni Dusun I Desa Angkasa, tepat di belakang kantor desa, serta Dusun III Desa Angkasa, di bagian belakang Masjid Ar-Rahman.
Baca juga:Mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI 2026 dan TPSMB Launching Bank Sampah di Desa Berumbung Baru
Proses pengerjaan dimulai pada pertengahan Juli 2026 dan berlangsung hampir dua minggu. Setelah pembangunan rampung, mahasiswa melakukan uji coba dan memastikan tungku tersebut layak untuk digunakan oleh masyarakat.
Kepala Desa Angkasa, Rudi Suprianto, S.IP., menyambut baik inovasi yang dihadirkan mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI tersebut. Menurutnya, keberadaan tungku dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi persoalan sampah apabila digunakan dengan tepat.
“Alat ini cukup bagus, terlebih bisa menanggulangi permasalahan sampah di desa jika digunakan dengan benar. Harapannya udara sekitar jadi lebih bersih dan jarak pandang tak terganggu akibat kepulan asap jika dibakar seperti biasanya,” ujarnya.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. T. Romi Marnelly, S.Sos., M.Si., mengatakan persoalan sampah kini tidak hanya menjadi masalah di kawasan perkotaan, tetapi juga telah menjadi tantangan bagi masyarakat di pedesaan.
“Saat ini sampah sudah menjadi masalah di kota sampai desa. Inovasi cara mengatasi sampah diperlukan agar lingkungan bersih dan masyarakat hidup sehat. Melalui alat yang dibuat mahasiswa yang bertugas di Desa Angkasa, semoga dapat menjadi salah satu solusi persoalan sampah di desa ini,” katanya.
Baca juga:Media Online Tempat Memuat Berita Kukerta, Ribuan Artikel Mahasiswa Tayang di Data Riau
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, mahasiswa tidak hanya membangun tungku, tetapi juga memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai cara penggunaannya.
Serah terima program sekaligus pelatihan penggunaan tungku dilaksanakan pada Jumat, 24 Juli 2026, di lapangan futsal belakang Kantor Desa Angkasa.
Melalui kegiatan tersebut, warga diberikan pemahaman mengenai pengoperasian tungku sehingga dapat menggunakannya secara mandiri setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.
Program pembuatan tungku pembakaran sampah minim asap ini menjadi salah satu bentuk nyata KUKERTA Berdampak UNRI dalam menghadirkan solusi berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Ke depan, keberadaan tungku tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi persoalan asap dari pembakaran terbuka sekaligus menjadi alternatif bagi warga yang mulai kesulitan menyediakan lahan untuk penimbunan sampah.
Lebih dari itu, mahasiswa berharap pengetahuan mengenai penggunaan tungku dapat terus diteruskan dari satu warga kepada warga lainnya sehingga manfaat program tetap berlanjut dan turut mendorong terciptanya lingkungan Desa Angkasa yang lebih bersih dan nyaman.***