DATARIAU.COM - Destructive fishing adalah praktik penangkapan ikan yang merusak ekosistem laut dan lingkungan sekitarnya.
Metode ini biasanya melibatkan penggunaan alat tangkap yang merusak habitat bawah laut, menghancurkan terumbu karang, dasar laut, serta membahayakan spesies laut lainnya.
Praktik destruktif ini tidak hanya berdampak negatif pada keseimbangan ekologis, tetapi juga mengancam keberlanjutan mata pencaharian nelayan dan ketahanan pangan global.
Beberapa teknik destructive fishing yang paling merusak mencakup penggunaan bom ikan, sianida, pukat harimau yang merusak dasar laut, serta penangkapan ikan dengan menggunakan alat yang tidak selektif.
Nelayan yang menggunakan bom ikan, misalnya, melemparkan bahan peledak ke dalam perairan untuk membius atau membunuh ikan secara massal.
Akibatnya, tidak hanya ikan target yang mati, tetapi juga terumbu karang hancur, habitat laut rusak, dan ribuan organisme lain ikut terancam.
Dampak jangka panjang dari destructive fishing sangatlah serius. Kerusakan terumbu karang dapat memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk pulih, sementara hilangnya keanekaragaman hayati dapat mengganggu rantai makanan di ekosistem laut.
Selain itu, praktik ini merugikan nelayan tradisional yang mengandalkan kelestarian sumber daya laut untuk kelangsungan hidup mereka.
Isu Penggunaan Racun Sianida pada Penangkapan Ikan
Dampak Ekologis dan Sosial-Ekonomi yang Lebih Luas: Sebuah Analisis Komprehensif
Penggunaan sianida dalam penangkapan ikan telah menciptakan dampak multidimensi yang sangat kompleks pada ekosistem laut dan kehidupan manusia.
Dari perspektif ekologis, kerusakan yang ditimbulkan bersifat sistemik dan berjangka panjang. Hilangnya spesies kunci seperti ikan kakaktua dan predator utama telah memicu efek domino dalam rantai makanan laut.
Ikan kakaktua, yang berperan vital dalam mengontrol pertumbuhan alga, ketika populasinya menurun drastis, menyebabkan pertumbuhan alga yang tidak terkendali yang kemudian mengancam kelangsungan hidup terumbu karang.
Sementara itu, berkurangnya predator utama mengakibatkan ledakan populasi spesies tertentu, menciptakan ketidakseimbangan ekologis yang parah.
Degradasi genetik menjadi konsekuensi lanjutan yang sangat mengkhawatirkan.
Kematian massal akibat paparan sianida tidak hanya mengurangi jumlah populasi, tetapi juga mengikis keragaman genetik yang esensial bagi ketahanan spesies dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Spesies endemik yang memiliki sebaran terbatas menjadi sangat rentan terhadap kepunahan lokal, yang pada gilirannya dapat mengancam keanekaragaman hayati global.
Hilangnya variasi genetik ini melemahkan kemampuan adaptasi populasi ikan terhadap tekanan lingkungan, termasuk perubahan iklim yang semakin intensif.
Dalam konteks sosial-budaya, dampak destructive fishing menggunakan sianida telah mengubah fundamental kehidupan masyarakat pesisir.
Praktik penangkapan ikan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun, yang mencerminkan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian, perlahan-lahan tergusur.
Sistem pengetahuan lokal yang kaya akan kearifan dalam mengelola sumber daya laut terancam punah seiring dengan perubahan cara penangkapan ikan.
Lebih memprihatinkan lagi, konflik sosial semakin menguat ketika persaingan untuk sumber daya yang semakin langka memicu ketegangan antara nelayan tradisional dan pelaku destructive fishing.
Dampak ekonomi yang ditimbulkan bersifat multifaset dan berkelanjutan. Sektor pariwisata bahari mengalami kemunduran signifikan akibat rusaknya terumbu karang yang menjadi daya tarik utama.
Hal ini tidak hanya mengurangi pendapatan langsung dari aktivitas wisata, tetapi juga menghilangkan potensi pengembangan destinasi wisata baru yang dapat menjadi sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat pesisir.
Industri perikanan menghadapi krisis ganda: penurunan stok ikan yang drastis dan peningkatan biaya operasional untuk mencapai area penangkapan yang semakin jauh, sementara biaya rehabilitasi ekosistem yang rusak membutuhkan investasi besar yang seringkali di luar kemampuan masyarakat lokal.
Ketahanan pangan masyarakat pesisir juga terganggu secara serius. Menurunnya ketersediaan ikan lokal tidak hanya mengancam pasokan protein berkualitas tetapi juga mendorong kenaikan harga yang membuat ikan semakin tidak terjangkau bagi masyarakat setempat.
Perubahan ini memaksa masyarakat untuk mengubah pola konsumsi mereka dan meningkatkan ketergantungan pada sumber makanan dari luar daerah, yang seringkali lebih mahal dan kurang bergizi.
Jasa ekosistem yang vital bagi kehidupan pesisir juga mengalami degradasi serius.
Terumbu karang yang rusak tidak lagi mampu memberikan perlindungan efektif terhadap abrasi pantai, meningkatkan kerentanan wilayah pesisir terhadap dampak perubahan iklim.
Gangguan pada siklus nutrisi dan fungsi habitat berdampak langsung pada produktivitas perairan, mengurangi area pemijahan dan asuhan ikan, serta mengganggu rute migrasi spesies penting.
Warisan lintas generasi menjadi pertaruhan besar dalam konteks ini. Generasi mendatang terancam kehilangan tidak hanya sumber daya alam yang berharga, tetapi juga identitas budaya maritim yang telah membentuk karakteristik masyarakat pesisir selama berabad-abad.
Hilangnya kesempatan untuk mempelajari dan memanfaatkan kekayaan laut secara berkelanjutan, serta punahnya spesies sebelum potensi manfaatnya dapat diteliti sepenuhnya, merupakan kerugian yang tidak dapat diukur nilainya.
Kompleksitas dampak ini menunjukkan bahwa penggunaan sianida dalam penangkapan ikan bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi merupakan ancaman serius terhadap keberlanjutan kehidupan pesisir secara menyeluruh.
Diperlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan seluruh aspek dampak ini dalam merancang solusi dan kebijakan penanganannya.
Tanpa tindakan yang segera dan komprehensif, kerusakan yang ditimbulkan bisa mencapai titik di mana pemulihan menjadi sangat sulit atau bahkan mustahil dilakukan.
Upaya pencegahan dan penanggulangan destructive fishing memerlukan kerja sama global. Pemerintah, organisasi lingkungan, dan masyarakat internasional perlu membuat regulasi ketat, memberikan edukasi kepada nelayan tentang praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan, serta memberikan alternatif mata pencaharian yang ramah lingkungan.
Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku destructive fishing juga menjadi kunci utama dalam melindungi ekosistem laut dari kerusakan lebih lanjut.
Penulis: Maria Veronica Haryanto (Mahasiswi Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perairan Universitas Riau)