SIAK, datariau.com - Bullying atau perundungan masih menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius di lingkungan pendidikan. Perilaku yang terkadang dianggap sebagai candaan dapat memberikan dampak bagi anak yang menjadi korban. Karena itu, pemahaman mengenai bullying penting diberikan sejak dini agar siswa mampu mengenali, mencegah, serta berani menghentikan tindakan perundungan.
Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Kelompok 56 yang menggelar sosialisasi bertema "Stop Bullying" di SDN 02 Sungai Limau, Kampung Sungai Limau, Kecamatan Pusako, Kabupaten Siak.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa KKN UMRI terhadap pendidikan karakter sekaligus upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan perundungan.
Baca juga:Mahasiswa KKN Kelompok 149 UMRI Sosialisasikan Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga di Desa Lambang Sari
Sosialisasi ditujukan kepada para siswa agar mereka memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai bullying serta mampu menerapkan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UMRI Kelompok 56 menjelaskan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan secara fisik. Perundungan juga dapat dilakukan melalui perkataan, sikap, maupun tindakan yang membuat seseorang merasa tertekan, takut, malu, atau dikucilkan.
Beberapa contoh yang diberikan antara lain mengejek teman karena bentuk tubuh atau kondisi fisiknya, memberikan julukan yang menyakitkan, menghina, sengaja mengucilkan teman dari kelompok bermain, hingga mengintimidasi teman agar menuruti keinginan tertentu.
Mahasiswa mengingatkan para siswa bahwa sesuatu yang dianggap sebagai candaan oleh pelaku belum tentu dianggap lucu oleh orang yang menerimanya. Apabila dilakukan berulang kali atau membuat seseorang merasa tersakiti dan tidak nyaman, tindakan tersebut dapat menjadi bentuk perundungan.
Baca juga:Perpustakaan Desa Belading Jadi Ruang Belajar, KKN UMRI Kelompok 46 Dampingi Anak SD Setiap Akhir Pekan
Para siswa juga diajak memahami perbedaan antara bercanda dengan tindakan yang dapat merendahkan, menyakiti, maupun membuat orang lain merasa tidak aman.
Selain mengenalkan bentuk-bentuk bullying, mahasiswa KKN UMRI turut menjelaskan berbagai dampak yang dapat dirasakan oleh korban. Perundungan dapat membuat seseorang merasa takut, tidak nyaman, minder, bahkan enggan berinteraksi dengan teman maupun mengikuti kegiatan di sekolah.
Karena itu, lingkungan sekolah tidak hanya membutuhkan siswa yang mampu menghindari tindakan bullying, tetapi juga siswa yang memiliki kepedulian terhadap teman.
Ketika melihat seorang teman diejek, dikucilkan, atau diperlakukan secara tidak baik, siswa diharapkan tidak ikut menertawakan maupun membiarkannya.
Baca juga:Cerdas Cermat KKN UMRI Kelompok 46 Tanamkan Nilai Kebangsaan dan Kemuhammadiyahan kepada Anak Desa Belading
Sikap sederhana seperti menghentikan ejekan, mengajak teman yang dikucilkan untuk bergabung, memberikan dukungan, atau melaporkan kejadian kepada guru dapat menjadi langkah penting untuk membantu menghentikan perundungan.
Sosialisasi "Stop Bullying" berlangsung secara interaktif. Para siswa diberikan kesempatan untuk bertanya, menyampaikan pendapat, serta berdiskusi mengenai berbagai situasi yang berpotensi terjadi di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
Melalui diskusi tersebut, mahasiswa mengajak siswa memahami bahwa setiap anak memiliki hak untuk merasa aman dan dihargai. Siswa juga diarahkan untuk membangun kebiasaan saling menghormati, peduli terhadap teman, serta menjaga perkataan dan tindakan ketika berinteraksi.
Mahasiswa KKN UMRI Kelompok 56 turut mengingatkan siswa agar tidak menjadi pelaku maupun hanya menjadi penonton ketika terjadi perundungan. Keberanian untuk mengatakan tidak terhadap bullying dan saling mengingatkan dalam kebaikan menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pertemanan yang positif.
Baca juga:Media Online Data Riau Jadi Pilihan Mahasiswa untuk Ekspos Tugas Kuliah
Ketua KKN UMRI Kelompok 56 menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kontribusi mahasiswa dalam memberikan edukasi sekaligus membangun karakter anak-anak di Kampung Sungai Limau.
"Kami berharap melalui kegiatan ini para siswa dapat memahami bahwa bullying bukanlah sebuah candaan yang dapat dianggap biasa. Setiap anak memiliki hak untuk merasa aman, dihargai, dan nyaman ketika berada di lingkungan sekolah. Kami juga berharap siswa berani mengatakan tidak terhadap bullying dan saling mengingatkan untuk berbuat baik kepada sesama," ujarnya.
Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Kolaborasi antara mahasiswa KKN dan pihak sekolah dinilai penting dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai perilaku perundungan sekaligus membangun budaya pertemanan yang positif di lingkungan sekolah.
Baca juga:Media Online Tempat Memuat Berita Kukerta, Ribuan Artikel Mahasiswa Tayang di Data Riau
Upaya mencegah bullying tidak cukup hanya dilakukan melalui sosialisasi. Pemahaman yang telah diberikan perlu diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari, mulai dari menggunakan kata-kata yang baik, menghargai perbedaan, tidak merendahkan teman, hingga berani membantu ketika melihat adanya tindakan perundungan.
Dengan demikian, siswa tidak hanya mengetahui apa itu bullying, tetapi juga memahami peran mereka dalam mencegahnya. Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman dapat terbentuk ketika siswa, guru, serta seluruh warga sekolah memiliki kepedulian dan komitmen untuk saling menghargai.
Kegiatan sosialisasi "Stop Bullying" diharapkan dapat memberikan pemahaman yang tidak berhenti selama kegiatan berlangsung, tetapi menjadi bagian dari sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap saling menghargai, peduli, dan menghormati perbedaan menjadi nilai penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan mendukung tumbuh kembang anak.
Melalui kegiatan tersebut, KKN UMRI Kelompok 56 Kampung Sungai Limau berkomitmen memberikan kontribusi positif melalui berbagai program edukatif dan pemberdayaan masyarakat selama masa pengabdian.
Sosialisasi anti-bullying menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung terciptanya generasi muda yang berkarakter, peduli terhadap sesama, serta berani menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan.***