DATARIAU.COM - Aidil Mukhlis selahsatu Mahasiswa KKN DR Plus UIN SUSKA Riau memanfaatkan lahan perkarangan membuat apotik hidup atau TOGA (Tanaman obat keluarga) dengan cara vertikultural sebagai solusi bertani dilahan sempit. Vertikultural dilakukan dikawasan Jalan Khalifah Umar Kelurahan Selatpanjang Timur kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Kepulauan Meranti, Selasa (4/08/2020).
Tanaman obat keluarga sering dijumpai di sekitar rumah pada halaman atau bahkan pot. Toga (Tanaman Obat Keluarga) sudah dipercaya sejak dahulu sebagai tanaman yang memiliki khasiat sehingga dapat menyembuhkan berbagai penyakit tertentu.
Selain dengan khasiat yang banyak, Toga juga merupakan tanaman yang dapat dengan mudah dirawat serta tidak memiliki efek samping yang tinggi. Oleh karena itu, Toga sering ditanam oleh sebagian besar masyarakat untuk persedian atau bahkan sebagai tanaman hias. Macam-macam tanaman toga yakni Jahe, Lengkuas, Kunyit, Temulawak, Temuireng, Daun Sirih, Daun Bidara, Lidahbuaya, Kumis Kucing. Dll.
Melihat perkarangan yang sempit dan pentingnya Toga untuk keluarga mahasiswa berinisiatif untuk memanfaatkan perkerangan yang sempit dengan membuat Toga secara vertikultural. Vertikultural berasal dari bahasa inggis, yaitu Vertical dan Culture. Vertikultural merupakan teknik bercocok tanam diruang/lahan sempit dengan memanfaatkan bidang Vertikal sebagai tempat bercocok tanam yang dilakukan secara bertingkat.
Tujuan vertikultur adalah untuk memanfaatkan lahan yang sempit secara optimal. Sistem bertanam secara vertikultural sekilas memang terlihat rumit, tetapi sangat mudah dilakukan. Tingkat kesulitan bertanam secara vertikultural tergantung kepada model dan system tambahan yang dipergunakan. Dalam model sederhana, struktur dasar yang digunakan mudah diikuti dan bahan pembuatannya mudah ditemukan.
Pertanian dengan teknologi vertikultur dapat menerapkan beberapa model, tinggal disesuaikan dengan bahan yang tersedia, kondisi dan keinginan. Bahan yang dapat digunakan seperti bambu, pipa paralon, pot, terpal, kaleng bekas, bahkan lembaran pembungkus semen atau karung beras pun bisa. Intinya wadah yang bisa ditempati menanam dengan baik dan juga memberikan nilai stetika.
?Kami memanfaatkan bambu yang ada karna mudah didapat dan memberikan nilai estetika. Pertama yang dilakukan adalah membuat bambu secara bertingkat dengan model rak-rak, kemudian membuat media tanam tanaman toga dalam wadah pot atau polybag, media tanam dibuat segai pengganti tanah," katanya.
Oleh karena itu, harus bisa mengganti fungsi tanah bagi tanaman. Tanaman toga diberikan campuran tanah, pupuk/kompos dari bahan dedaunan kering, pur ayam, serbuk papan dan larutan EM4 yang didiamkan selama sehari. Setelah semua bahan terkumpul, dilakukan pencampuran hingga merata.
Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara, dan melalui unsur hara dapat diserap oleh akar tanaman dengan prinsip pertukaran kation.
"Sedangkan pupuk kompos menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman," kata Aidil Mukhlis mahasiswa KKN DR Plus UIN Suska Riau.
Diharapkan teknik bercocok tanam vertikultur menjadi solusi bagi masyarakat untuk bisa memanfaatkan lahan perkarangan yang sempit, dan untuk selalu menanam toga di rumah, karna mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan dan bisa menjadi tanaman hias dirumah. (rls)