DATARIAU.COM - Tidak hanya dari aspek kesehatan, virus Covid-19 juga membawa dampak yang merugikan diberbagai aspek kehidupan lainnya. Virus yang mulai berkembang dari kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019 ini bahkan membawa perubahan yang cukup signifikan bagi perekonomian diberbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. WHO bahkan menetapkan bahwa virus Covid-19 ini merupakan wabah yang sangat mempengaruhi pergerakan Dunia Usaha, hal ini terlihat dari bagaimana melambatnya pergerakan Ekonomi Global setelah adanya virus baru ini.
Di Indonesia, Pemerintah telah mencoba berbagai usaha penanganan guna menekan pengaruh dan dampak yang dihasilkan dari virus ini. Beberapa kebijakan yang terbilang baru bagi masyarakat Indonesia pun dilakukan. Sebut saja Work From Home (WFH) dan Proses belajar mengajar Daring yang terpaksa dilaksanakan guna menyukseskan program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia, yang mana diharapkan dengan adanya program ini maka akan dapat memutus rantai penyebaran virus Covid-19.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi diberbagai negara bahkan di negara-negara maju dengan ekonomi yang kuat pun akan merosot dengan tajam pada kuartal II tahun 2020 ini.
"Kalau semua negara kuartal II, negara maju merosot sangat tajam, AS bisa mendekati negatif 10 persen, Inggris 15 persen," ucap Sri Mulyani dalam diskusi daring bersama BNPB, Jakarta, (30/6).
Ia juga menambahkan, "Jerman negatif 11 persen, Prancis negatif 17 persen, Jepang 8 persen bahkan India yang dianggap negara berkembang sama seperti Indonesia yang tumbuh cukup tinggi diperkirakan kontraksi bisa 12 persen," sebutnya.
Beliau bahkan mengatakan kondisi ini merupakan tantangan yang besar khususnya bagi Indonesia. "Ini yang menjadi tantangan bagi kita semua. Indonesia pun nanti akan terpengaruh dengan PSBB atau berbagai langkah-langkah yang kemudian mempengaruhi ekonomi kita kuartal II, negatifnya bisa 3,8 persen, bandingkan dengan negara maju tadi," jelasnya.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) oleh Bank Indonesia mengindikasikan bahwa pada kuartal II 2020 ini telah terjadi penurunan. Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II 2020 yakni sebesar -35,75 persen dari sebelumnya sebesar -5,56 persen pada kuartal I 2020.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko dalam siaran pers, Senin (13/7/2020) mengatakan, "Penurunan terdalam pada sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor jasa-jasa. Terutama disebabkan oleh penurunan permintaan dan gangguan pasokan akibat Covid-19," ungkapnya.
Adapun Perusahaan manufaktur otomotif menjadi salah satu industri yang terdampak dari adanya virus Covid-19, hal ini disebebkan karena terhambatnya proses produksi yang seharusnya dilaksanakan lantaran rantai pasokan global yang terhambat karena adanya wabah Covid-19. Tak kalah dari industri manufaktur, Industri Garment pun terkena dampak dari virus Covid-19 ini. Banyak perusahaan yang mengalami kerugian lantaran mengalami penurunan produksi yang sangat signifikan. Hal ini disebabkan karna adanya anjuran pengurangan kepadatan karyawan sehingga perusahaan terpaksa memberlakukan sistem dua pekan kerja dan dua pekan libur. Inilah yang akhirnya menurunkan kuantitas produksi dan akhirnya berujung terjadinya PHK karyawan secara besar-besaran. Setor Pariwisata dan Penerbangan juga menjadi sektor usaha yang terkena dampak cukup besar dari adanya virus ini. Bagaimana tidak, usaha yang terbilang ramai konsumen ini terpaksa harus menurun drastis karna adanya kebijakan PSBB. Rumah Produksi pun tak kalah merugi pasalnya terpaksa harus mengurangi proses syuting, serta media dan pers yang harus lebih ekstra bekerja guna mendapatkan konten dan berita di masa pandemi sekarang ini.
Meskipun begitu, diharapkan perusahaan dapat berjuang untuk terus bangkit pasca pandemi Covid-19 ini. terlebih saat ini aktifitas sudah mulai dapat berjalan kembali, maka perusahaan dan pengusaha masih mempunyai waktu untuk mengatur kembali kegiatan operasional perusahaannya sehingga kekosongan aktifitas selama hampir 3 bulan sejak pertengahan Maret masih memberikan peluang bagi perusahaan untuk kembali bangkit. (rls)