Izin Kualiah S3, Dosen IAIN Bukittinggi Dipecat

Admin
527 view
Izin Kualiah S3, Dosen IAIN Bukittinggi Dipecat
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Hayati Syafri, mendatangi Kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN), Jakarta, Senin (4/3). Dosen mata kuliah Bahasa Inggris itu datang didampingi kuasa hukum dari Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PAHAM), Ismail Nganggon.

Ismail mengatakan, kedatangan mereka ke BKN untuk mengajukan banding administratif atas pemecatan kliennya. Menurut Ismail, tuduhan Hayati bolos mengajar selama 67 hari itu tidak benar.

Dia pun membawa bukti bahwa Hayati punya izin tak mengajar. Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama memecat Hayati Syafri setelah melihat rekam jejak kehadirannya secara elektronik melalui data finger printnya di kepegawaian IAIN Bukittinggi.

"Tapi posisi saat itu dia ada izin karena dia kuliah S3 ya, ada penelitian dan sebagainya. Dan dia ada surat izin untuk itu, makanya kami lampirkan dokumen itu hari ini," kata Ismail.

Ismail menjelaskan dipecatnya Hayati karena memakai cadar merupakan pelanggaran terhadap HAM. "Lalu kemudian Itjen (Kemenag) 2018 datang mencari kesalahan di situ, lalu keluarlah pernyataan yang 'apakah mau mengajar dengan catatan membuka cadar atau gimana?'. Itu persoalan di situ. Itu pernyataan nggak tertulis, ada pengacara PAHAM juga hadir di situ. Itu pertemuan tertutup. Itu pelanggran Hak Asasi Manusia," terangnya.

Sebelumnya, Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama membenarkan bahwa Hayati Syafri diberhentikan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Sebelumnya, Hayati tercatat sebagai dosen Bahasa Inggris di IAIN Bukuttinggi.

"Hayati Syafri diberhentikan sebagai ASN karena melanggar disiplin pegawai," kata Kasubbag Tata Usaha dan Humas Itjen Kementerian Agama, Nurul Badruttamam, di Jakarta, Sabtu (23/2).

Keputusan ini didasarkan pada rekam jejak kehadirannya secara elektronik melalui data finger printnya di kepegawaian IAIN Bukittinggi. "Berdasarkan hasil audit Itjen, ditemukan bukti valid bahwa selama tahun 2017 Hayati Syafri terbukti secara elektronik tidak masuk kerja selama 67 hari kerja," ujar dia.

Penegasan Nurul ini sekaligus mengklarifikasi rumor bahwa Hayati diberhentikan karena cadar. Menurut Nurul, hal itu tidak benar karena pertimbangan pemberhentian Hayati semata alasan disiplin.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Pasal 3 ayat 11 dan 17, kata Nurul, PNS yang tidak masuk kerja secara akumulatif minimal 46 hari kerja tanpa keterangan yang sah dalam satu tahun harus diberikan hukuman disiplin berat berupa diberhentikan secara hormat atau tidak hormat sebagai PNS.

Selain masalah ketidakhadiran di kampus sebanyak 67 hari kerja selama 2017, Hayati juga terbukti sering meninggalkan ruang kerja dan tidak melaksanakan tugas lainnya pada 2018. Tugas dimaksud misalnya menjadi penasihat akademik dan memberikan bimbingan skripsi kepada mahasiswa.

"Itu merupakan pelanggaran disiplin berat yang harus dikenai hukuman disiplin berat, yaitu: diberhentikan dengan hormat sebagai PNS," tuturnya.

"Jika ada keberatan, Hayati Syafri masih mempunyai hak untuk banding ke Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) ataupun ke PTUN," tandasnya. (*)
Sumber
: https://www.merdeka.com/peristiwa/dipecat-karena-bolos-mengajar-dosen-iain-bukittinggi-mengaku-sudah-izin-kuliah-s3