Oleh: Riska Oktavina, S.E.

Siswi Hamil Diluar Nikah Tetap Boleh Sekolah, Pantaskah?

Admin
2.148 view
Siswi Hamil Diluar Nikah Tetap Boleh Sekolah, Pantaskah?
Ilustrasi. (Foto: Tribunnewsmaker.com)

DATARIAU.COM - Apakah anda sudah mendengar berita baru-baru ini tentang siswi SMA di Jumapolo Karanganyar yang tiba-tiba melahirkan di sekolah. Namun hal yang cukup mengherankan, bukannya mendapat sanksi tegas, justru siswi itu diberi kesempatan. Kesempatan seperti apa yang didapatkan siswi tersebut?

Heboh siswi SMA di Kecamatan Jumapolo, Kabupaten Karanganyar melahirkan anaknya di sekolah. Kini nasib siswi SMA tersebut dipastikan tak putus sekolah.

Hal itu dibeberkan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB (DP3APPKB) Karanganyar, Agam Bintoro. Ia mengatakan siswi tersebut akhirnya melanjutkan pendidikannya. Meskipun sang siswi berpindah ke sekolah lain.

"Pendidikan dia masih dilanjutkan, namun pindah sekolah ke sekolah swasta," ucap Agam kepada TribunSolo.com, Ahad (11/9/2022).

Agam mengatakan kondisi dari siswi tersebut sudah membaik.

Sementara itu, saat disinggung terkait siswi tersebut akan dinikahi pacarnya, dia mengungkapkan pihaknya tetap meneruskan pendidikannya hingga lulus.

"Sementara, orientasinya meneruskan pendidikan dulu," ujar Agam.

Bahkan kata dia, siswi tersebut akan diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian tengah semester (UTS).

Dia mengaku, pemberian kesempatan siswi tersebut menempuh UTS merupakan prinsip hak dari siswi tersebut.

"Itu teknisnya, ya prinsipnya untuk melanjutkan pendidikan sudah kita fasilitasi," ungkap Agam.

(Tribunnewsmaker.com, 12/9/2022)

Sekolah sebagai Lembaga Pendidikan, semestinya menjadi sarana mendidik generasi, namun hal yang patut dipertanyakan, ketika pelajarnya melakukan pelanggaran fatal, sekolah malah tidak memberi sanksi dengan alasan memberikan hak pendidikan bagi pelajar tersebut. Padahal pelanggaran yang dilakukan sangat fatal, yakni kasus hamil diluar nikah.

Tidakkah dengan adanya kesempatan pendidikan yang diberikan ini, menunjukkan kelonggaran aturan bagi pelajar yang dapat berdampak pada tidak adanya efek jera bagi pelaku pelanggaran, sekaligus membuka peluang bagi yang lain untuk melakukan hal yang sama, toh dengan adanya kasus yang terjadi, siswa-siswi lain mendapat cerminan bahwa masa depan mereka masih bisa cerah dengan mendapat hak pendidikan sekalipun sudah melanggar aturan agama dan norma yang berlaku di masyarakat.

Kasus hamil diluar nikah adalah dampak dari pergaulan bebas yang merupakan persoalan sistemik yang ada di negeri ini. Maka adanya solusi berupa penyuluhan tentang seks yang bertanggungjawab itu tidak dapat menyelesaikan persoalan yang ada.

Penerapan sistem sekular-liberalisme adalah penyebab terjadinya pergaulan bebas termasuk yang terjadi pada pelajar di dunia pendidikan.

Hilangnya peran edukasi dalam keluarga, banyaknya tontonan yang tidak mendidik yang disajikan media, mudahnya akses pornografi di dunia maya menjadi contoh yang membentuk prilaku generasi muda saat ini.

Juga paradigma kehidupan liberalisme yang membidani lahirnya sikap permisif. Belum lagi tidak adanya tindakan yang tegas dari negara terbukti dengan sistem hukum yang lemah untuk menjaga generasi, menjadi pintu bagi rusaknya muda-mudi negeri ini.

Belum lagi kurikulum pendidikan yang berasas sekular-kapitalistik yang mengesampingkan peran agama dalam mengatur kehidupan telah menutup pintu penjagaan generasi.

Maka fokus dunia pendidikan semestinya adalah menuntaskan persoalan hingga ke akar-akarnya. Karena akar persoalannya sistemik, maka penyelesaiannya juga harus sistemik.

Berbeda dengan sistem sekular liberalisme kapitalistik. Dalam Islam, pendidikan dibangun atas asas akidah Islam yang mewujudkan ketakwaan dalam diri individu kaum pelajar maupun tenaga pendidik.

Kurikulum yang dijalankan pun mesti merujuk pada syariat Islam. Materi yang diajarkan adalah tsaqofah Islam yang membentuk generasi agar berkepribadian Islam, pola pikir dan pola sikapnya sejalan dengan Islam.

Termasuk juga memahamkan kepada kaum pelajar bagaimana tata cara pergaulan yang benar dalam Islam, bahwasanya hukum asal laki-laki dan perempuan terpisah, kecuali ada dalil syar'i yang membolehkan terjadinya interaksi.

Media dalam Islam juga tidak menyuguhkan konten-konten pornografi, adegan-adegan kemesraan berbumbu syahwat. Dan sistem pemerintahan Islam juga memberikan sanksi tegas bagi pelaku perzinahan. Jika yang belum menikah maka diberi sanksi jilid 100 kali. Sedang yang sudah menikah dirajam sampai mati. Ketegasan sanksi ini yang dapat membuat efek jera bagi pelaku dan pelajaran bagi yang lain agar tidak mengulangi hal yang sama.

Dengan terselesaikannya problem tadi, maka negara dapat menjaga generasi dan keberlangsungan pendidikan bagi kaum pelajar. (*)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)