Rusaknya Generasi Emas Akibat Sistem di Negara yang Tak Pantas

Oleh: Putri Az Zahra
datariau.com
876 view
Rusaknya Generasi Emas Akibat Sistem di Negara yang Tak Pantas
Ilustrasi. (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - "Memilukan" satu kata yang tepat untuk disematkan kepada pemuda saat ini. Bagaimana tidak? Berbagai tindakan kriminal yang terjadi, justru dialamatkan kepada mereka sebagai pelakunya. Harapan besar melihat masa depan cemerlang bak jauh panggang dari api. Padahal kesuksesan suatu bangsa dan negara terletak pada peran pemudanya. Mereka adalah agent of change. Ungkapan dalam bahasa Arab menyebutkan "Syubanu al yaum rijalu al ghaddi" pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang.

Ironinya, pemuda saat ini sungguh tidak mencerminkan diri mereka sebagai agen perubahan. Fakta yang terungkap menggambarkan perilaku pemuda hari ini justru kontradiktif dengan yang diharapkan.

Dilansir dari Kompas.com [15/03/2024], di kabupaten Lampung Utara ditemukan seorang siswi SMP bernama N, dengan kondisi yang sangat mengenaskan di sebuah gubuk. N menjadi korban pemerkosaan bergilir oleh 10 orang. Korban disekap selama 3 hari tanpa diberi makan dan hanya dicekoki miras oleh para pelaku. Selama penyekapan korban mengalami tindakan kekerasan seksual. Mirisnya lagi 3 orang pelaku masih dibawah umur, 3 orang dewasa dan 4 orang lainnya masih dalam pencarian.

Di wilayah yang berbeda, tepatnya di Bekasi, telah terjadi tindakan kriminal remaja lainnya "perang sarung" sesama pelajar. Dalam kejadian tersebut seorang pelajar berusia 17 tahun dinyatakan tewas.

Tidak hanya di Bekasi dalam semalam tiga lokasi perang sarung remaja terjadi juga di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, yang memilukan pelaku perang sarung mayoritas dilakukan oleh remaja yang masih bersekolah di tingkat SMP hingga SMA (BangkaPos.com, 16/03/2024).

Apa yang terjadi dengan generasi muda kita saat ini? Mengapa mereka begitu mudah terlibat dalam tindakan kriminal?

Sekulerisme menjadi biang kerok


Menanggapi fenomena maraknya remaja yang masih berstatus pelajar menjadi pelaku berbagai tindakan kriminal, menggambarkan betapa rusaknya generasi muda saat ini. Bukan berlomba meraih prestasi tetapi berlomba merusak diri. Dan ini menjadi sebuah pembuktian bahwa kurikulum pendidikan yang diterapkan telah gagal mencetak generasi yang berkualitas cemerlang. Karena sistem pendidikan yang dipakai berbasis pada sekulerisme. Sistem ini membuat remaja memisahkan agama dari kehidupan.

Agama tidak lagi dijadikan petunjuk dalam berpikir dan bertingkah laku. Pemuda saat ini berjalan mengikuti hawa nafsunya, tidak lagi berstandarkan kepada perintah dan larangan Allah. Sehingga output yang dihasilkan dari sistem kapitalis ini hanya pemuda yang pandai dalam ilmu alat, namun minim dalam keimanan dan akhlak.

Akibatnya, pemuda hari ini lebih menyibukkan dirinya dengan urusan-urusan duniawi seperti mengejar eksistensi diri, popularitas, kesenangan fisik, hiburan dan nilai-nilai materialistik lainnya, walaupun itu didapat dengan jalan yang salah. Mereka tidak lagi memikirkan konsekuensi dosa dari perbuatan mereka.

Diperparah lagi ketika negara tidak memiliki solusi tuntas untuk menyelamatkan generasi muda saat ini. Negara kapitalisme yang menggaungkan kebebasan berlepas tangan dari tanggung jawab menjaga generasi atas nama hak asasi manusia (HAM). Negara hanya mencukupkan diri dengan upaya-upaya pragmatis seperti menangkap pelaku kejahatan, himbauan dan sejenisnya.

Jadilah generasi muda saat ini menjadi generasi yang hanya mengikuti kemana arus mengalir, tidak memiliki pandangan hidup yang sesuai dengan syariat islam. Ditambah lagi sistem sekuler telah memfragmentasi apapun yang bersumber dari barat adalah yang terbaik sekalipun melanggar aturan syariat.

Solusi Islam


Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam dalam menjaga generasi muda. Islam memandang kualitas pemuda sangat penting dalam eksistensi peradaban Islam. Karena itu Islam memerintahkan kepada semua pihak untuk bertanggung jawab dalam mendidik para pemuda agar mereka menjadi sosok yang berkualitas untuk kemuliaan Islam dan bermanfaat bagi umat.

Mulai dari lingkungan keluarga, Islam memerintahkan kepada orang tua untuk mendidik anaknya dengan akidah Islam. Sehingga sedari kecil para generasi memiliki bekal untuk berpikir dan berperilaku sesuai syariat Islam. Dan diusia emas ini juga, anak-anak sebagai generasi muda dapat dibentuk menjadi apapun tergantung dengan orangtuanya.

Dalam lingkungan masyarakat, Islam memerintahkan manusia untuk beramar makruf, sebagaimana yang Allah firmankan dalam Alquran surah Ali Imran ayat 110: "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah".

Sehingga dalam hal ini, masyarakatlah yang menjadi kontrol sosial sesungguhnya, mereka tidak akan membiarkan kemaksiatan terjadi ditengah-tengah mereka.

Selanjutnya, Negara berperan dalam menjaga generasi secara komunal. Negara akan memberikan akses pendidikan secara gratis. Karena pendidikan merupakan kebutuhan primer yang harus difasilitasi oleh negara. Tentunya pendidikan yang berbasis akidah Islam, dan tidak mentolerir tsaqofah asing yang bersifat merusak pemikiran umat Islam.

Untuk itu Islam membangun metode pengajaran yang dilakukan secara talqiyan fikriyan. Metode ini mengarahkan kepada pemahamannya tentang kehidupan sekaligus menjadi landasan berpikir dan bersikap. Sehingga mereka mampu menggunakan ilmu tersebut untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan tanpa perlu mencari pelarian temporer seperti memakai narkoba dan miras.

Negara juga akan memfilter tayangan-tayangan yang merusak, menutup konten-konten porno dan kekerasan. Negara akan menyajikan tontonan yang bersifat edukatif untuk menambah minat belajar pemuda dalam sains dan teknologi.

Selain itu negara juga akan menerapkan sanksi yang tegas kepada pelaku tindakan kriminal, apabila mereka membuat keonaran dan kerusakan maka negara akan memberikan sanksi ta'zir namun jika mereka melakukan penganiayaan atau pembunuhan maka negara akan memberlakukan hukum qishas.

Sanksi ini diberlakukan untuk memberikan efek jera dan menebus dosa (jawabir) dan memberikan efek pencegahan (zawajier), sehingga para pemuda akan berpikir ulang jika mereka ingin melakukan tindakan kriminal. Begitulah cara Islam menjaga eksistensi pemudanya sehingga mereka dapat terbentuk menjadi pemuda yang berkualitas emas. Wallahu a'lam bisshowab. ***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)