Ramai Kasus Mutilasi: Sistem Sekuler Kapitalisme Ternyata Mematikan Nurani

Oleh: Vivi Nurwida
datariau.com
1.078 view
Ramai Kasus Mutilasi: Sistem Sekuler Kapitalisme Ternyata Mematikan Nurani
Ilustrasi. (Foto: int)

DATARIAU.COM - Beberapa hari terakhir, media menyuguhkan berita kasus pembunuhan dan mutilasi secara mengerikan. Motif pelaku beragam, mulai dari asmara, ekonomi, bahkan karena masalah sepele. Nyawa begitu murah dan tidak ada harganya. Nurani dan logika tercerabut, masyarakat dibayangi berbagai kejahatan sadis di sekelilingnya, baik sebagai pelaku ataupun korban kriminal.

Polisi mengungkap sederet aksi keji RTA alias Antok (32), tersangka kasus pembunuhan dan mutilasi wanita bernama UK (29). Mayat korban ditemukan pertama kali dalam kondisi tanpa kepala dan kaki dalam sebuah koper yang berada di tumpukan sampah di Ngawi, Jawa Timur, pada Kamis (23-1-2025). Mayat korban pertama kali ditemukan dalam kondisi tanpa kepala dan kedua kaki (detikNews, 28-1-2025).

Sekularisme Mematikan Nurani


Sungguh miris jika kita membahas masalah yang terjadi di tengah masyarakat hari ini. Masyarakat disuguhi dengan aksi kekerasan, kriminal, senjata tajam, tawuran, pembunuhan, dan kejahatan lainnya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghentikan kasus kriminalitas, tetapi selalu ada celah bagi kejahatan dengan beraneka cara dan bentuknya.

Pembunuhan disertai mutilasi bukan satu dua kali terjadi, tetapi berulang kali. Artinya, masalah ini bukanlah masalah kasuistik yang dapat diselesaikan dengan cara pragmatis atau jangka pendek, semisal dihukum penjara atau dibina sesaat. Masyarakat yang cenderung menjadi pelaku kekerasan harus dididik dan dibina dengan sistem jangka panjang sehingga pada masa mendatang tidak akan terjadi kasus yang sama.

Jika kita telisik lebih dalam, hari ini individu masyarakat tumbuh dan berkembang dalam asuhan sistem sekuler kapitalisme yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Tak heran, individu masyarakat tumbuh menjadi generasi yang lemah iman sehingga tidak memiliki perisai kuat dalam mencegahnya berbuat maksiat. Individu yang lemah iman akan mudah terpengaruh pada perilaku, tontonan, dan konten negatif. Terlebih akses media kini berada dalam genggaman.

Sistem sekuler kapitalisme memang sumber masalah kehidupan. Sistem ini telah mengakibatkan kerusakan cara berpikir masyarakat, bahkan hingga ke puncak kerusakan. Berbagai kasus pembunuhan yang makin marak terjadi, baik disertai mutilasi ataupun tidak, pelakunya terkadang justru adalah orang terdekat korban, seperti keluarga, teman ataupun pasangan.

Suami, orang tua atau keluarga yang seharusnya memberikan kasih sayang dan perlindungan bagi pasangan ataupun keturunan mereka, justru dengan mudah melakukan penyiksaan hingga menghilangkan nyawa, bahkan dengan kejam melakukan mutilasi. Tingkat stres masyarakat terus meningkat hingga menghilangkan naluri kasih sayang mereka, bahkan menjadikan mereka pelaku tindakan sadis.

Kesulitan hidup menyebabkan tekanan luar biasa pada setiap keluarga, yang menjadikan mereka saling sikut demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Emosi menjadi mudah tersulut dan perasaan qonaah dan keyakinan bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki hilang.

Belum lagi sistem pergaulan yang rusak. Kasus perselingkuhan yang sampai pada perbuatan zina, seharusnya akan mengantarkan pelakunya pada hukum rajam apabila ia sudah menikah, dan telah dibuktikan di depan hakim dengan adanya saksi ataupun pengakuan dari pelaku.

Butuh Solusi Komprehensif


Dibutuhkan solusi komprehensif terhadap kondisi umat hari ini yang makin terpuruk. Diperlukan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar manusia secara layak sebagai langkah awal agar masyarakat mendapatkan ketenangan hidup. Lapangan pekerjaan yang memadai, jaminan pemenuhan rasa aman dan tersedianya fasilitas kehidupan secara murah dan berkualitas adalah kuncinya.

Dalam Islam, negara akan hadir sebagai pengatur urusan umat. Hal ini tentu saja berbeda dengan sistem politik demokrasi yang saat ini diterapkan, mereka jelas memberikan keleluasaan kepada oligarki untuk menggenggam aset negara dan kekayaan alam. Akibatnya, terjadi monopoli kekayaan pada segelintir orang, kesenjangan antara kaya miskin makin parah, hal ini berdampak pada sulitnya pemenuhan kebutuhan hidup.

Negara dalam sistem Islam akan menjadikan akidah Islam sebagai asas negara. Negara akan memastikan institusi pendidikan dan media informasi mampu mengarahkan cara berfikir umat dengan benar, yakni menjadikan dunia semata-mata ladang untuk beramal bagi kehidupan akhirat yang kekal kelak.

Umat juga harus dipahamkan bahwa mereka adalah hamba Allah yang diciptakan untuk mengatur bumi ini dengan syariat Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban atas pengaturan mereka. Ketakutan mereka semata-mata adalah kepada Allah apabila sampai melanggar syariat-Nya.

Jangankan sampai menganiaya, berperilaku buruk pun tidak akan sampai hati. Sebaliknya, mereka akan memperlakukan dan mendidik keluarga, orang-orang terdekat dan sesama dengan baik dan penuh kasih sayang. Mentalitas mereka juga yakin bahwa Allah pasti akan mencukupkan rezeki pada setiap yang bernyawa, sehingga tidak mudah depresi saat kesulitan hidup melanda.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat memperjuangkan syariat Islam diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, dengan itu maka umat akan terjaga dari setiap tindak kejahatan dan kemungkaran. Wallahu a'lam bisshowab. ***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)