DATARIAU.COM - Gaza bak daratan penuh mayat manusia. Dilansir dari CNBC Indonesia, serangan udara dari zionis Israel kembali terjadi di jalur Gaza. Kekerasan yang terjadi sejak Ahad (30/6/2025) telah menewaskan sedikitnya 68 orang. Sebanyak 47 korban jiwa tercatat di Gaza City dan wilayah utara Gaza, termasuk lima orang yang tewas saat mendekati pusat distribusi bantuan yang di kelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) di utara Rafah. GHF ini merupakan lembaga Bantuan yang didukung oleh Zionis Israel dan Amerika Serikat. Sejak lembaga ini mengelola pengiriman bantuan terbatas pada akhir Mei, lebih dari 580 warga tewas dan lebih dari 4000 warga terluka saat mendekati pusat distribusi tersebut.
Sejak terjadi genosida oleh Zionis Israel di jalur Gaza Oktober 2023, sedikitnya 56.647 warga Palestina meninggal dunia, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, Selasa (1/7/2025). Sebuah pernyataan menyebutkan bahwa 116 jenazah dibawa ke Rumah Sakit dalam 24 jam terakhir dengan 463 orang luka-luka, menambah jumlah korban luka akibat serangan Zionis Israel menjadi 134.105 orang. "Banyak korban masih terperangkap di bawah reruntuhan dan di jalanan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka," imbuh Kementerian tersebut. (Tempo.co, 02/07/2025)
Umat Bergerak Tanpa Kekuatan
Hampir 2 tahun genosida di Palestina ini terjadi. Hingga saat ini, kejahatan Zionis semakin melanggar perikemanusiaan dan menunjukkan kebiadaban yang sangat luar biasa. Di tengah krisis yang semakin parah dialami oleh rakyat Gaza akibat kebiadaban mereka, Zionis tega melakukan serangan kepada rakyat Gaza yang berkumpul untuk mendapatkan makanan. Sungguh dari awal masa genosida ini mereka selalu melakukan demikian, menargetkan rakyat Gaza secara keseluruhan, bukan hanya kelompok militer Hamas.
Meski rakyat terus bergerak dan menunjukkan pembelaan, hingga sekelompok manusia yang perduli dengan Palestina dari berbagai negara, tidak hanya muslim tapi juga non muslim melakukan long march untuk menembus Rafah, ternyata itupun belum cukup untuk membebaskan tanah suci itu. Para penguasa dunia tetap diam, bahkan penguasa negeri-negeri muslim masih terus bergandengan tangan dengan penjajah Zionis. Ketidakpahaman akan akar persoalan Palestina dan kuatnya cinta kepada kedudukan serta kekuasaan membuat para penguasa negeri muslim buta mata dan hatinya dan lalai akan hubungan persaudaraan atas dasar iman.
Tetap Fokus pada Solusi Islam
Solusi untuk pembebasan Palestina hanya ada satu yaitu jihad di bawah pemimpin yang sah. Sebagaimana perintah Allah Azza wa Jalla, "dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS. At-Taubah:36)
Maka upaya penyadaran umat harus terus digaungkan bahkan semakin kuat dan semakin keras. Upaya ini harus dilakukan oleh kaum Muslim yang sudah sadar terlebih para pengemban dakwah. Mereka harus menguatkan dan meningkatkan upayanya agar dukungan umat atas dasar kesadaran semakin kuat. Sehingga umat akan terus bergerak dan menuntut penguasa mereka agar kembali kepada tuntunan Islam dalam menyelesaikan Palestina, yaitu bebasnya Palestina dengan jihad bersama pemimpin yang sah.
Para pengemban dakwah harus terus berusaha mewujudkan opini umum atas solusi hakiki persoalan Palestina yang dilandasi dengan kesadaran umum. Mereka terus memimpin umat menuju jalan yang sudah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, menuju penegakan hukum Allah sebagai sarana untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam. Para pengemban dakwah harus terus menjaga keistiqomahan berjalan dalam dakwah sesuai sunah Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, meningkatkan kemampuannya dalam membangun kesadaran umat dan juga menguatkan hubungan dengan Allah agar pertolongan Allah segera datang.
Demikianlah seharusnya umat Islam, mereka adalah umat yang satu, tidak terpisahkan oleh sekat-sekat negara seperti yang terjadi saat ini. Dengan bersatunya umat Islam maka tanah suci Palestina akan terjaga dengan sempurna serta, memberikan keamanan kepada seluruh rakyatnya. Wallahu a'lam bishawab.***