Oleh: Hamzah S Muharam

Peranan Logika Dalam Penggunaan Media Sosial

datariau.com
4.985 view
Peranan Logika Dalam Penggunaan Media Sosial

DATARIAU.COM - Sebuah prestasi dan penemuan besar bahwa manusia sebagai pencipta teknologi, hanya saja kesiapan dalam pelaksanaan dan penggunaan teknologi secara merata tersebut bisa fatal jika manusia tidak menyadari dan memiliki kemampuan. Siapapun dan apapun bisa menjadi perhatian yang serius bahkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan ataupun polarisasi. Artinya efek dalam penggunaan media social sangat signifikan. Namun perlu disadari bahwa hakikatnya media social itu hanya alat dan bersifat netral, masalahnya terletak pada user atau pengguna dalam menggunakannya. Dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, yang semula berjalan di atas rel kesejahteraan dan kepentingan manusia, namun belakangan justru berbalik menyengsarakan karena memperalat manusia sendiri ini menjadi kecemasan bagi para pemikir mendalam.

Dengan konteks permasalahan yang dihadapi. mengandung rencana atau rancangan, pilihan, ataupun keputusan yang akan diambil. Keputusan dari tindakan inilah yang kemudian hari akan berkonsekuensi yang akan dirasakan oleh masyarakat baik local maupun global. Hal ini sangat mungkin bersenggolan dengan beberapa elemen, seperti nilai, ide, sistem, keyakinan dasar, dan elemen lainnya, yang kesemuanya tidak terjadi begitu saja dalam sebuah kekosongan. Manusia kini dituntut untuk dapat hidup secara global, maka orang lain, ataupun lingkungan akan selalu terimbas dampak dari berbagai tindakan yang lahir dari inisiatif, ataupun keputusan yang dibuat oleh individu. Artinya semua tindakan, baik yang kita komunikasikan secara eksplisit, ataupun implisit akan memunculkan akibat bagi masyarakat luas.

Logika

Aturan berpikir dipelajari dalam logika agar manusia dapat berpikir dengan semestinya, sehingga tercipta teknik-teknik berpikir yang menuntun cara berpikir lurus. Teknik-teknik berpikir yang dipelajari dalam logika tentu dilandasi oleh bentuk-bentuk dan hukum-hukum berpikir yang diselidiki dan dirumuskan oleh logika. Taraf kebenaran yang akan dihasilkan oleh logika adalah pada taraf kebenaran formal atau kebenaran bentuk. Kebenaran materi dan kriterianya akan diperoleh menurut bidang ilmunya masing-masing terutama dalam kajian epistemologi.

Pola pikir atau yang biasa didengungkan dengan logika adalah salah satu faktor yang paling mendasar yang mempengaruhi tindakan manusia. Sehingga komunikasi antara pikiran dan perbuatan sudah menjadi sebuah paket yang tidak terpisahkan. Orang yang sudah terbiasa berfikir logis, maka ia memandang segala sesuatu secara logis. Karenanya peran logika adalah sebagai salah satu sentral perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mana ilmu inilah yang memperngaruhi cara manusia dalam memandang hakekat dunia, atau worldview. Sehingga worldview tersebutlah yang akan membangun peradaban manusia.

Media Sosial

Media Sosial sebagai Produk Modernitas Tidak dapat disangkal bahwa media sosial (kelahiran, perkembangan, dan penggunaan) dapat dikenakan status penanda modernitas, artinya media sosial menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah perkembangan grand narrative modernitas. Kalau didefinisikan maka modernitas tidak lain dari sebuah periode sejarah peradaban yang ditandai oleh industerialisasi, kapitalisme, negara-bangsa, pengawasan sosial semakin canggih (Barker, Chris, 2014: 178).

Media sosial tidak lagi menjadi zona refleksi di mana manusia mengambil jarak kritis dengan dunia, tetapi dia menarik dunia menjadi dirinya. Keberadaan manusia diatur, bahkan dikontrol menurut cara kerja teknologi mekanistis. Kalau Rene Descartes mengatakan ?aku berpikir maka aku ada? sebagai ukuran eksistensi rasionalitas manusia modern, maka media sosial merubah prinsip rasional ini dengan prinsip lain, ?aku merasakan, aku mengakrabi, bahkan aku menjadi dunia digital, maka aku ada?.
Kalau sekarang orang berbicara tentang era information surplus, era itu sebenarnya tidak lain dari era berkuasanya media sosial. Kegalauan manusia modern tidak saja karena kekurangan, atau ketinggalan informasi, tetapi sejajar dengan itu manusia modern juga mengalami kegalauan justru karena informasi yang diterima terlalu banyak, bahkan berlebihan. Maka, tidak ada satu pun periode sejarah di mana manusia mengalami paradoks kegalauan, selain kegalauan yang diciptakan media sosial itu sendiri.

Sebagai sebuah sistem yang mendesentralisasi siapa saja yang terlibat sebagai pengguna, media sosial berperan dalam mendistribusikan, memutuskan secara kolektif pesan yang diterima melalui sharing dan saran-saran yang diperlukan. Dalam cara berpikir system ini media sosial menempatkan partisipan tidak sekadar khalayak, tetapi juga sebagai public yang terhubung satu sama lainnya sebagai sebuah jaringan atau networked public.

Media sosial dengan menggunakan infrastruktur internet sebagai basis operasionalnya telah menjadi sumber informasi utama dan diandalkan masyarakat modern. Masyarakat yang menempatkan kebebasan berekspresi sebagai hak dasar, maka media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi utama, terutama menyangkut sharing gagasan dan pengetahuan layanan jaringan sosial menyeringkan beragam informasi secara interaktif mengirim dan menerima/ membaca pesan interaktif melakukan diskusi dan berbagai perdebatan konstrutif lainnya.

Teknologi-teknologi komunikasi yang lebih baru meningkatkan berbagai kemungkinan bagaimana masyarakat dapat mengirimkan dan menerima banyak informasi. Masyarakat menggunakan media sosial, atau media online pada umumnya, terutama sebagai alat mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, membagikan berbagai kisah, dan melakukan diskusi atas berbagai hal yang menjadi perhatian banyak orang.

Hirarki Sosial

Dapat dipahami secara garis besar bahwa Hirarki Sosial merupakan pengelompokan ataupun urutan dari tingkatan abstraksi menjadi seperti satu struktur dalam satu tatanan kelompok masyarakat. Hirarki sosial ada karena setiap orang atau kelompok orang mempunyai tingkatan-tingkatan kemampuan, kecerdasan, kebutuhan dan ketertarikan terhadap sesuatu yang berbeda-beda.
Contohnya yang paling mudah yaitu kita ambil dari yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari yaitu hirarki kebutuhan. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertanya-tanya mengapa setiap orang memiliki ketertarikan terhadap sesuatu yang berbeda-beda, mengapa ada orang yang memiliki cita-cita sangat tinggi, sedangkan ada juga yang hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja. Ada yang sudah puas menjadi dirinya sendiri, tetapi di sisi lain ada juga yang ingin menjadi presiden, public figure, ataupun yang lainnya.

Apa yang membuat mereka termotivasi, dan apa yang membuat mereka tidak termotivasi. Pertanyaan-pertanya semacam itu sudah ada sejak beberapa puluh tahun silam, kebutuhan manusia meningkat terus ke atas apabila jenis kebutuhan yang dasar sudah terpenuhi. Tingkatan kebutuhan manusia : 1) Kebutuhan fisiologis, 2) Kebutuhan akan keamanana (safety), 3) Kebutuhan dicintai (Love/belonging), 4) Kebutuhan untuk rasa percaya diri (Esteem), dan 5) Kebutuhan puncak, yaitu aktualisasi diri (self-actualization).

Peran Logika dalam Media Sosial


Kepentingan, peranan, dan manfaat logika akan terasa bagi orang-orang yang ingin menyempurnakan proses berpikirnya, baik dalam kehidupan sehari-hari, media sosial. maupun dalam rangka mempelajari suatu ilmu tertentu. Dalam bidang keilmuan, sangat jelas tidak ada satu pun ilmu yang tidak menggunakan atau menempuh suatu proses pemikiran, proses menalar, pendek kata suatu proses logika. Bahkan semakin meningkat keterlibatannya dalam mengkaji ilmu, maka pasti semakin intensif pula dalam hal pikir memikir, sehingga dibutuhkan kesanggupan berpikir yang tertib, lurus, dan baik. Di situlah kemudian logika menjadi sangat berperan penting sebagai alat yang ampuh dalam menangulangi pemikiran dan kesimpulan yang tidak valid.

Dalam kehidupan sehari-hari termasuk media sosial, logika masih diperlukan dalam menuntun kita berpikir dan membuat kesimpulan yang benar. Bukankah tindakan yang tepat dan bijaksana seringkali lahir dari suatu proses pemikiran dan kesimpulan atau keputusan yang juga tepat dan benar. Walaupun logika hanya memberikan secercah kebenaran, khususnya pada taraf kebenaran formal, tetapi yang sedikit itu tetap memberikan andil kepada manusia berpikir benar, lurus dan tertib, sesuai dengan hukum-hukum berpikir.

Dalam pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam media sosial siapapun dan apapun bisa jadi pusat perhatian khalayak ramai. Dalam bermedia sosial beragam bentuk atau cara orang menggunakannya, ada yang dijadikan sebagai temoat sharing atau bertikar gagasan dan pengalaman, ada juga dijadikan sebagai ajang untuk unjuk gigi atau sekedar mencari popularitas semata. Media sosial sedikit banyak mempengaruhi manusia bahkan akan cenderung membentuk hirarki sosial. Dalam hal ini teramatlah penting peranan logika dalam penggunaan media sosial agar bisa berpikir lurus dan bijaksana dalam bertindak. (***)

Daftar Pustaka

- Fensi, Fabianus. MENGANALISIS PATOLOGI MEDIA SOSIAL DARI PERSPEKTIF FILSAFAT POSTMODERNISME. Universitas Bunda Mulia. Jurnal Komunikasi dan Media Vol. 4 No. 2 Februari 2020.

- Gill, Peter J. ?Why should I Use Social Media?? Makalah Seminar. University of Oxford: England 2012.
Maslow, Abraham. Motivation and Personality (Teori Motivasi dengan Ancangan Hirarki Kebutuhan manusia). Penerjemah Nurul Iman. Jakarta: PT Gramedia, 1984.

- Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Roshda Karya, 2005.

- Muis, A. Komunikasi Islami. Bandung: Remaja Roshda Karya, 2001.


Penulis: Hamzah S Muharam (Mahasiswa UIN Suska Riau)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)