Oleh: Sari asih

Pendidikan Seksual Jangan Liberal!

Ruslan
1.638 view
Pendidikan Seksual Jangan Liberal!
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Akhir akhir ini publik sempat dihebohkan dengan pernyataan seorang public figure terkait pendapatnya tentang anak anak dan film porno.

Dia mengatakan bahwa dirinya tidak mau menjadi orang tua yang kolot dan ingin berpikiran terbuka, dan saat ini berbagai konten porno bisa dengan mudah diakses dan disaksikan oleh anak, oleh karena itu dia punya cara sendiri untuk mendidik anaknya yaitu dengan memposisikan diri sebagai teman di dalam menyaksikan film porno tersebut.

Dia juga mengatakan bahwa pendidikan seks sejak dini sangat penting. Di sisi lain ketua KPAI (Komite Perlindungan Anak Indonesia) Susanto mengatakan bahwa film porno ini berbahaya dan dampak negatifnya serius bagi tumbuh kembang anak sehingga konten porno tidak boleh dilihat oleh anak meskipun ditemani, dan ia meminta agar orang tua berhati-hati dalam mendidik anak dan memperhatikan etika perlindungan anak. (Detik.com, 26/6/2021).

Pendidikan seks yang berjalan merupakan bagian dari program global yang dirancang dan dikampanyekan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO). UNESCO menyarankan setiap bangsa di dunia untuk mengadopsi pendidikan sosial yang komprehensif termasuk Indonesia.

Rekomendasi ini berdasarkan kajian dari Global Education Monitoring (GEM) report, UNESCO yang menemukan 15 juta anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun dan setiap tahunnya secara global. Sekitar 16 juta anak berusia 15-19 tahun dan 1 juta anak perempuan di bawah 15 tahun melahirkan setia tahunnya di dunia, hal ini berakibat fatal, dengan kehamilan dan kelahiran merupakan penyebab utama kematian di usia ini. Di samping itu GEM report menemukan orang usia muda juga menyumbang 1/3 dari kasus HIV baru di 37 negara berpenghasilan rendah dan menengah, namun hanya 1/3 dari orang berusia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang pencegahan dan penularan HIV, maka untuk menyelesaikan masalah ini GEM report menilai pendidikan seksual komprehensif adalah cara yang tepat.

Pendidikan ini dapat membantu melindungi diri dari kehamilan yang tidak diinginkan, HIV dan infeksi menular seksual lainnya, mempromosikan nilai-nilai toleransi, saling menghormati dan tanpa kekerasan dalam hubungan. (Cnnindonesia.com, 14/6/2019).

Pendidikan seksualitas komprehensif (CSE) adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berbasis kurikulum tentang aspek kognitif, emosional, fisik dan sosial seksualitas.

Ini bertujuan untuk membekali anak-anak dan remaja dengan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang akan memberdayakan mereka untuk : mewujudkan kesehatan, kesejahteraan dan martabat mereka, mengembangkan hubungan sosial dan seksual saling menghormati; mempertimbangkan bagaimana pilihan mereka sendiri dan orang lain; memahami dan memastikan perlindungan hak-hak mereka sepanjang hidup mereka (Sumber: UNESCO 2017. Bimbingan Teknis Internasional tentang Pendidikan Seksualitas, hal 16-17).

Di dalam program ini pendidikan seks harus diajarkan sejak dini agar anak mampu menjaga kebersihan organ genitalnya, selanjutnya dikenalkan cara agar mereka terhindar dari tindak kekerasan seksual.

Pada usia remaja pendidikan seks dikenalkan dengan pengajaran fungsi reproduksi, beragam aktifitas seksual hingga penggunaan kontrasepsi.

Bekal pendidikan seks inilah yang menjadi modal untuk melakukan aktifitas seksual yang bertanggung jawab, menghindari resiko kehamilan yang tak diinginkan dan penyakit menular seksual.

Apakah program ini berhasil mengurangi kasus kehamilan di luar nikah, aborsi dan penyakit menular seksual? Faktanya di beberapa negara Barat yang mengadopsi program ini, pendidikan seks diajarkan dirumah dan disekolah sejak usia 4-5 tahun, dengan berbagai alat peraga dan video justru menghadapi persoalan baru, dimana remaja merasa percaya diri untuk melakukan seks bebas yang aman.

Pendidikan Seks Dini, Perlukah?

Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur mengenai pendidikan seksual ini. Pendidikan seksual adalah upaya pengajaran penyadaran dan penerangan tentang masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah yang berkenaan dengan seks, naluri dan perkawinan kepada anak sejak akalnya mulai tumbuh dan siap memahami hal di atas (Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak bersama Nabi), sedangkan tujuan dari pendidikan seksual di dalam Islam adalah memberi pengetahuan yang tepat kepada anak untuk menjaga keselamatan dan kehormatan serta kesucian generasi Islam di tengah-tengah masyarakat, sehingga anak laki-laki dan perempuan agar terjaga akhlak dan agamanya.

Penulis
: Sari Asih
Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)