Ketika Pelajar Menjadi Pengedar Sabu: Buah Pahit Sistem Sekuler yang Gagal Menjaga Generasi

Oleh: Fermi Arresterina
datariau.com
248 view
Ketika Pelajar Menjadi Pengedar Sabu: Buah Pahit Sistem Sekuler yang Gagal Menjaga Generasi

DATARIAU.COM - Seorang pelajar di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah.

Sementara itu, di Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari meringkus seorang pelajar dan ditemukan puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di berbagai tempat.

Dulu mereka datang ke sekolah membawa buku, hari ini, sebagian dari mereka membawa racun yang merusak masa depan: narkoba. Ini bukan sekadar kenakalan remaja. Ini adalah tanda bahaya, bahwa ada yang salah dalam sistem yang membentuk mereka.

Mengapa ini bisa terjadi? Setidaknya ada beberapa faktor yang saling mempengaruhi:

1. Lingkungan yang rusak


Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang dekat dengan pengguna atau pengedar narkoba, akan lebih rentan terpengaruh. Perlahan mereka kehilangan batas antara benar dan salah, yang haram terasa biasa.

2. Tekanan ekonomi


Kemiskinan yang tak tertangani sering mendorong anak mencari jalan instan. Uang cepat dari narkoba terlihat “menggiurkan” tanpa mereka pahami kehancuran di baliknya.

3. Pengaruh teman


Pergaulan yang salah bisa menyeret siapa saja. Bermula dari satu ajakan, membawa pada kehancuran.

4. Kurangnya kasih sayang dan pengawasan


Anak yang haus perhatian akan mencari “tempat pulang” di luar rumah, meski itu dalam lingkaran gelap.

Lalu, apa yang harus dilakukan?


Tersebab persoalan ini tidak berdiri sendiri, harus ada upaya dari berbagai pihak untuk menanganinya.

Pertama, perlunya pengawasan bersama. Orang tua, guru, dan masyarakat tidak boleh lepas tangan. Generasi ini amanah, bukan tanggung jawab satu pihak saja.

Kedua, pendidikan berbasis iman. Bukan sekadar tahu “bahaya narkoba” tapi sadar bahwa itu haram dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subahanahu wa Ta'ala.

Ketiga, pendampingan sejak dini. Jangan tunggu anak hancur. Bila terlihat satu tanda kecil--dekati, rangkul, selamatkan.

Keempat, peran negara yang tegas. Negara tidak boleh lemah. Peredaran narkoba adalah kejahatan serius yang merusak umat. Harus diberantas sampai akar.

Bagaimana Islam memandang dan menangani?

Dalam Islam, anak yang terjerumus narkoba bukan dihancurkan, mereka diselamatkan. Negara memfasilitasi adanya rehabilitasi dan pembinaan. Negara wajib hadir memberikan pemulihan, pendidikan dan pembinaan agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Sementara bagi para pengedar yang merusak masyarakat, Islam tidak memberi toleransi. Para pelaku akan ditindak tegas dengan:

1. Hudud / ta’zir (hukuman tegas)

Diberikan sesuai tingkat kejahatan, untuk melindungi masyarakat dan memberi efek jera.

2. Qisas (jika menyebabkan kematian)

Nyawa dibalas dengan nyawa--sebagai bentuk keadilan yang hakiki.

Inilah keunggulan Islam yang tidak hanya fokus pada “mengobati” setelah terjadi kerusakan. Islam mencegah sejak awal, menjaga, dan menindak tegas. Karena dalam Islam, generasi bukan sekadar aset bangsa, mereka adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)