Gerakan Global March to Gaza: Bukti Umat Sudah Marah!

Oleh: Sindi Rahmalia
datariau.com
424 view
Gerakan Global March to Gaza: Bukti Umat Sudah Marah!
Ilustrasi. (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Peserta konvoi Global March to Gaza mengibarkan bendera Palestina di Zawiyah, Libya dalam perjalanan menuju ke Mesir sebelum melakukan perjalanan ke Gaza.

Aksi Global March to Gaza yang awalnya dimulai pada Ahad (15/6/2025) lalu bertujuan untuk menekan pihak-pihak terkait agar membuka blokade Gaza yang digempur Israel sejak Oktober 2023.

Kementrian Luar Negeri Mesir menyatakan peserta Global March to Gaza harus mengantongi izin terlebih dulu. Pihak kementrian menerima banyak sekali permintaan akses menuju perbatasan Mesir-Gaza.

Aktivis dan Advokat yang berencana mengikuti global march to Gaza mengatakan, pemerintah Mesir memulai proses razia dan deportasi pada Rabu (11/6/2025) tanpa mengungkapkan alasan secara eksplisit.

Penyelenggara Global March to Gaza melaporkan setidaknya 170 peserta ditahan atau dihambat saat berada di Kairo. Penyelenggara mengaku telah mengikuti protokol yang ditetapkan pemerintah Mesir dan mendesak mengizinkan akses masuk.

Banyak yang dideportasi


Gerakan ini merupakan kelanjutan dari aksi kemanusiaan sebelumnya yang juga ada dilakukan namun juga tidak membuahkan hasil pintu menuju Gaza tetap dikunci.

Menurut Ali (Aliansi Kemananusiaan Indonesia) mengatakan, partisipasi masyarakat dunia, Global March to Gaza mencerminkan diplomasi baru yang lahir dari penderitaan rakyat Palestina.

Para peserta bukan diplomat, mereka pensiunan, perawat, jurnalis, dokter, aktivis HAM, hingga anak muda dari berbagai benua yang sudah tidak tahan melihat Gaza yang dibombardir oleh Israel.

Gerakan ini diikuti juga oleh sejumlah selebritas termasuk Wanda Hamidah, Ratna Galih, hingga Zaskia Adya Mecca yang mengikuti Global March to Gaza di Kairo Mesir.

Mereka berangkat untuk bergabung dalam Global March to Gaza, sebuah aksi damai yang menempuh jarak sekitar 50 kilometer dari Kairo menuju Gerbang Rafah, perbatasan Mesir-Gaza.

Ali mengatakan kunci yang menutup gerbang Rafah justru menjadi pemantik suara nurani dunia. Iya mengkritik keras tindakan penahanan dan deportasi terhadap peserta konvoi oleh otoritas Mesir.

Dari Gerakan ini menunjukkan kemarahan umat yang sangat besar. Hal ni menandakan bahwa tidak bisa berharap kepada lembaga internasional dan para penguasa hari ini.

Tertahannya mereka di pintu Rafah justru bukti bahwa gerakan kemanusiaan apapun tidak akan pernah bisa memberikan solusi masalah Gaza, karena pintu penghalang terbesar yang berhasil dibangun penjajah di negeri-negeri muslim yakni nasionalisme dan konsep negara bangsa.

Bukti bahwa hal ini telah memupus hati nurani para penguasa muslim dan tentara mereka hingga rela membiarkan saudaranya dibantai habis-habisan

Umat Islam harus paham betapa bahayanya sistem nasionalisme dan konsep negara bangsa karena dilihat dari pemikirannya dan sejarah.

Sejarah telah membuktikan bahasa penjajah tetaplah penjajah yang bisa berbuat apapun bahkan berkhianat.

Umat Islam harus sadar bahwa semakin bobroknya sistem dunia saat ini, umat harus sadar betapa pentingnya persatuan kaum muslimin dalam sistem yang agung agar tidak ada lagi penindasan, pembunuhan, pemblokadean, serangan brutal yang merenggut nyawa saudaranya.

Mari kita buka mata kita, buka selebar-lebarnya betapa sengsaranya saudara muslim kita di Gaza, bobroknya sistem saat ini menjadi bukti bahwa penguasa negeri muslim tak ada satupun yang mau mengerjakan senjatanya dengan jihad fisabilillah melindungi saudara muslim kita di Palsetina.

Umat harus sadar bahwa arah pergerakan mereka untuk menyolusi konflik di Palsetina harus bersifat politik, yakni membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia. Wallahu 'alam bishohwab.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)