Oleh: Susila Herdiati

Childfree, Ide Sekuler Penghambat Generasi

Ruslan
1.632 view
Childfree, Ide Sekuler Penghambat Generasi
Foto: Net

DATARIAU.COM - Istilah childfree yang viral belakangan ini, membuat pro dan kontra di Indonesia yang notabene penduduknya mayoritas muslim.

Kaum feminisme mendengungkan kebebasan memenuhi Gharizah Nau? tetapi tidak ingin menghadirkan anak-anak ditengah pernikahan atau bahkan mereka berhubungan seksual tanpa ikatan pernikahan.

Seorang selebgram, Gita Savitri Devi dan suaminya Paul Andre Partohap yang memulai sebuah konten di vlog nya mengatakan bahwa dia dan suami memutuskan untuk tidak memiliki anak setelah pernikahan mereka.

Dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal dan sangat jauh dari pola pikir seorang muslim.

Para penganut paham feminisme beranggapan bahwa memiliki anak mengekang kebebasan seorang perempuan. Anak-anak hanyalah objek yang sangat menyulitkan dan biaya perawatan anak-anak bisa membuat orangtuanya mengalami kemiskinan. Sungguh pemahaman yang salah kaprah. Sehingga pemerintah pun membuat kebijakan membatasi kelahiran dengan program KB.

Kebijakan pemerintah melalui program KB bertujuan untuk mengurangi laju pertumbuhan populasi penduduk, yang mana Indonesia pada tahun 2021 masih berada diurutan ke 4 Negara yang paling padat penduduknya sebesar 273.523.615 jiwa setelah China dengan jumlah penduduk 1.439.323.776 jiwa, India 1.380.004.385 jiwa dan Amerika 331.002.651 jiwa. ( http://www.detik.com>edu. 31/8/2021 ).

Salah satu masalah ekonomi makro di Indonesia adalah kemiskinan, sehingga kebijakan KB yang diterapkan pemerintah bertujuan untuk mengurangi kemiskinan yang disebabkan bertambahnya natalitas tanpa dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi.

Dikutip dari data Badan Pusat Statistik ( BPS ), Senin (16/8/2021), jumlah penduduk miskin pada Maret 2021 mencapai 27,54 juta jiwa. ( Liputan6.com, 16/8/2021)

Dari fakta tersebut muncullah istilah memiliki anak adalah beban hidup dan harus dikurangi atau bahkan tidak ingin memiliki anak.

Disini bisa kita analisa bahwa ide childfree dilihat dari ilmu sosiologi bertentangan dengan kondisi manusia sebagai makhluk sosial, dimana manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Aristoteles menyebutnya dengan istilah Zoon Politicon.

Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan.

Sedangkan menurut Adam Smith, ia menyebut istilah makhluk sosial dengan Homo Homini Socius, yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya.(id.m.wikipedia.org).

Dilihat dari sudut pandang Islam, childfree jelas sangat bertentangan dengan fitrah manusia dalam memenuhi gharizah nau? (naluri untuk melanjutkan keturunan). Karena sesungguhnya childfree merupakan satu pola pikir yang rusak dan tidak berlandaskan dalil. Allah berfirman dalam Al-qur?an:

?Sesungguhnya Tuhanmu melapangan rezeki kepada siapa yang dikehendakinya dan menyempitkannya. Sesungguhnya dia Maha mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba NYa?.(Qs.Al-Isra: 30).

?Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar?. (QS.Al-Isra:31).

Berdasarkan dalil naqli diatas, terlihat jelas bahwa ide chilfree sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena sesungguhnya kemiskinan yang terjadi bukan karena memiliki anak-anak.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)