DATARIAU.COM - Istilah childfree yang viral belakangan ini, membuat pro dan kontra di Indonesia yang notabene penduduknya mayoritas muslim.
Kaum feminisme mendengungkan kebebasan memenuhi Gharizah Nau? tetapi tidak ingin menghadirkan anak-anak ditengah pernikahan atau bahkan mereka berhubungan seksual tanpa ikatan pernikahan.
Seorang selebgram, Gita Savitri Devi dan suaminya Paul Andre Partohap yang memulai sebuah konten di vlog nya mengatakan bahwa dia dan suami memutuskan untuk tidak memiliki anak setelah pernikahan mereka.
Dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal dan sangat jauh dari pola pikir seorang muslim.
Para penganut paham feminisme beranggapan bahwa memiliki anak mengekang kebebasan seorang perempuan. Anak-anak hanyalah objek yang sangat menyulitkan dan biaya perawatan anak-anak bisa membuat orangtuanya mengalami kemiskinan. Sungguh pemahaman yang salah kaprah. Sehingga pemerintah pun membuat kebijakan membatasi kelahiran dengan program KB.
Kebijakan pemerintah melalui program KB bertujuan untuk mengurangi laju pertumbuhan populasi penduduk, yang mana Indonesia pada tahun 2021 masih berada diurutan ke 4 Negara yang paling padat penduduknya sebesar 273.523.615 jiwa setelah China dengan jumlah penduduk 1.439.323.776 jiwa, India 1.380.004.385 jiwa dan Amerika 331.002.651 jiwa. ( http://www.detik.com>edu. 31/8/2021 ).
Salah satu masalah ekonomi makro di Indonesia adalah kemiskinan, sehingga kebijakan KB yang diterapkan pemerintah bertujuan untuk mengurangi kemiskinan yang disebabkan bertambahnya natalitas tanpa dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi.
Dikutip dari data Badan Pusat Statistik ( BPS ), Senin (16/8/2021), jumlah penduduk miskin pada Maret 2021 mencapai 27,54 juta jiwa. ( Liputan6.com, 16/8/2021)
Dari fakta tersebut muncullah istilah memiliki anak adalah beban hidup dan harus dikurangi atau bahkan tidak ingin memiliki anak.
Disini bisa kita analisa bahwa ide childfree dilihat dari ilmu sosiologi bertentangan dengan kondisi manusia sebagai makhluk sosial, dimana manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Aristoteles menyebutnya dengan istilah Zoon Politicon.
Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan.
Sedangkan menurut Adam Smith, ia menyebut istilah makhluk sosial dengan Homo Homini Socius, yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya.(id.m.wikipedia.org).
Dilihat dari sudut pandang Islam, childfree jelas sangat bertentangan dengan fitrah manusia dalam memenuhi gharizah nau? (naluri untuk melanjutkan keturunan). Karena sesungguhnya childfree merupakan satu pola pikir yang rusak dan tidak berlandaskan dalil. Allah berfirman dalam Al-qur?an:
?Sesungguhnya Tuhanmu melapangan rezeki kepada siapa yang dikehendakinya dan menyempitkannya. Sesungguhnya dia Maha mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba NYa?.(Qs.Al-Isra: 30).
?Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar?. (QS.Al-Isra:31).
Berdasarkan dalil naqli diatas, terlihat jelas bahwa ide chilfree sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena sesungguhnya kemiskinan yang terjadi bukan karena memiliki anak-anak.
Allah sudah menjamin rezeki atas tiap-tiap makhluk di muka bumi. Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasikan dengan nalar manusia.
Seringkali ia bergerak diluar jangkauan manusia. Rezeki yang dimiliki seorang hamba semua disebabkan atau diizinkan terjadi karena kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seperti yang Allah sebutkan dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 22 ? Dan di langit terdapat ( sebab-sebab ) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu?.
Disini sudah demikian jelas bahwasanya rezeki yang dimiliki manusia bukan karena kerja keras dan usaha manusia, tapi karena kehendak dari Allah Sang Pemberi Rezeki.
Karenanya, sebagai hamba yang taat pada qodlo nya Allah janganlah terpancing dengan ide-ide sekuler, liberal dan kapitalis yang beranggapan bahwa anak bisa menyebabkan kemiskinan, mengekang kebebasan dan menjadi penyebab keterpurukan.
Karena memiliki anak merupakan investasi akhirat, jalan menuju surganya Allah. Sebagaimana Rasulullah bersabda, ?Apabila manusia itu meninggal dunia, terputuslah segala amalnya kecuali tiga yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh yang berdoa baginya?. ( HR. Muslim ). (*)
Wallahua?lam bisshowab