DATARIAU.COM - Indonesia resmi bergabung BoP yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dengan alasan untuk membentuk Perdamaian Palestina, dan membayar 1 milyar Dollar setara Rp 17 triliun untuk memperoleh keanggotaan tetap.
Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, merupakan organisasi yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dewan ini merupakan salah satu dari empat komite baru yang ditunjuk AS untuk mengawasi rekonstruksi dan pemerintahan Gaza setelah lebih dari dua tahun pertempuran antara Israel dan Hamas.
Katanya panitia perdamaian, tapi kenapa dibentuk oleh para Penjajah? Begitu kira-kira keresahan umat. Mari kita telisik lebih jauh dengan fakta yang ada saat ini, apakah perdamaian itu telah terlaksana? Tentu belum, per tanggal 31/1/2026 serangan Israel terus berlanjut menjatuhkan bom ke kantor Polisi Sheikh Radwan di Kota Gaza, pembunuhan ini menewaskan 13 orang. Di waktu yang bersamaan, tanggal 31/1/2026 Israel juga memborbardir warga Gaza di pengungsian padat pemukiman, siang dan malam tanpa henti. Ini merupakan sinyal keras bahwa Israel melanggar kembali gencatan senjata. Dimana peran Board of Piece yang dibentuk?
Bukan sulap bukan sihir, jangan heran kalau ternyata fakta yang kita terima BoP itu dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina, bahkan Palestina tidak dilibatkan sama sekali, sudah terbacakan alurnya seperti apa? BoP lahir atas kepentingan geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat, target Trump adalah menguasai Gaza, mengusir penduduknya dan membangun Gaza Baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara, dan apartemen.
New Gaza yang dimaksud Trump sama sekali tidak berpihak kepada rakyat Palestina, justru targetnya adalah menghancurkan Palestina (Gaza). Ini jelas merupakan ambisi licik AS dan Israel yang ingin menguasai Gaza dengan cara baru, menghilangkan jejak genosida, menutup mata dunia bahwa Gaza pernah dijajah, dibantai dan hidup menderita.
Bergabungnya negeri-negeri Muslim (termasuk Indonesia) dalam BoP serta memberikan dukungan kepada AS adalah pengkhianatan terhadap muslim Gaza. Islam melarang kita mendukung pelaku kezaliman, karena telah diancam oleh Allah dengan ancaman yang keras:
"Janganlah kalian cenderung kepada para pelaku kezaliman yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong" (QS Hud: 113).
Jika para pemimpin di negeri-negeri Muslim menginginkan kebebasan yang hakiki untuk rakyat Palestina dari penjajahan Israel dan AS, maka solusinya bukan dengan bergabung di BoP, yang harus dilakukan adalah mengusir penjajah dari wilayah Palestina, dengan cara apa?
Satu-satunya jalan untuk mewujudkan hal ini adalah jihad di bawah komando Khilafah Islamiyyah. Dengan jihad maka akan mengarahkan bersatunya seluruh negeri muslim dalam satu kepemimpinan di level internasional. Dengan demikian, negeri muslim memiliki kekuatan militer yang besar dan kuat. Seruan kepada negeri muslim untuk bersegera menegakkan khilafah, umat Islam harus menjadikannya sebagai agenda utama dan segera merealisasikannya, Insha Allah. Wallahu'alam bisshawab.***