DATARIAU.COM - Lagi, nestapa kekerasan anak di daycare Indonesia. Polresta Jogja mengungkap fakta mengerikan. Anak-anak yang dititipkan di daycare Little Aresha begitu memilukan. Bagaimana tidak? Bayangkan, anak-anak itu diikat sejak tiba dan kemudian mereka baru dilepas saat dijemput orang tua.
Sungguh menyesakkan dada. Balita yang seharusnya bebas berlari, bereksplorasi, dipeluk, justru diikat berjam-jam. Ini bukan childcare, ini child abuse. Dalihnya klasik, “biar nggak rewel, biar gampang dijaga”. Tapi sejatinya ini dehumanisasi. Anak diperlakukan seperti barang inventaris.
Kasus Little Aresha Jogja bukan sekadar berita kriminal. Ia adalah jeritan anak yang diikat, dan jeritan sistem yang mengikat leher para ibu.
Baca juga:DPRD Pekanbaru Terima Aduan Orang Tua: Ada Tempat Penitipan Anak Tolak Pasang CCTV di Ruangan
Bukan insiden tunggal, tapi pola berulang. Dalam 3 tahun terakhir, kasus kekerasan daycare muncul beruntun dan jadi sorotan nasional:
Pertama, kasus di Tangerang Selatan pada Juni 2024. Daycare Milik Influencer. CCTV bocor ke publik, 2 anak usia 2 tahun dan 4 tahun dipukul, ditendang, dicekik oleh pemilik daycare berinisial MI yang juga influencer parenting. Korban trauma berat. Pelaku sudah ditahan Polda Metro Jaya (Detik.com, 12/6/2024)
Kedua, kasus di Pekanbaru, Mei 2024. Anak 4 Tahun Dilakban. Daycare Early Steps Learning Center. Anak dilakban kaki dan mulutnya, didudukkan di baby chair berjam-jam. Alasan pengasuh: "anak hiperaktif, tak bisa diam, kalau dikasih makan meronta-ronta". Polisi sita kursi bayi, isolasi bening, dan flashdisk rekaman. Pemilik Winda dan pengasuh Dina sudah jadi tersangka. (KoranRiau.co, 11/8/2024)
Ketiga, kasus di Depok, Juli 2024 di Wensen School Indonesia, 3 balita jadi korban kekerasan pemilik daycare MI: dicubit, ditampar, dibenturkan kepalanya ke meja. Salah satu korban usia 9 bulan. Motif pelaku, kesal karena anak rewel. Kasus ini bikin geger karena pelakunya berlatar belakang pendidik. (CNN Indonesia, 1/8/2024)
Polanya sama, underpaid caregiver, rasio pengasuh-anak jomplang 1:8 hingga 1:15, tidak ada standar nasional dan pengawasan negara, daycare tumbuh liar karena demand tinggi. Ini bukan oknum. Ini systemic failure. Negara gagal melindungi anak saat ibu “dipaksa” keluar rumah.
Baca juga:Viral Kasus Penganiayaan Balita, DPRD Minta Pemko Tinjau Izin Daycare di Pekanbaru
Mengapa Ibu Menyerahkan Anak ke Daycare?
Kasus daycare adalah hilir. Hulunya ada di sistem yang merenggut ibu dari pangkuannya. Berikut 7 akar masalahnya:
Pertama, kapitalisme mengubah peran ibu, dari murabbiyah jadi mesin produksi. Dalam sistem kapitalis, manusia dinilai dari produktivitas ekonominya. PDB naik, negara maju. Ibu yang di rumah mengasuh anak, tidak produktif, tidak masuk angka PDB. Akhirnya negara dan korporasi mendesain kebijakan: cuti melahirkan pendek, daycare disubsidi, empowering women dorong kerja. Ibu dicabut dari fitrahnya: mendidik generasi. Akibatnya anak diasuh orang lain yang gajinya UMR, capek, tidak punya ikatan batin.
Kedua, narasi barat terkait kesetaraan gender, bahwa perempuan harus kerja. Kesetaraan gender ala Barat diukur dengan public sphere. Perempuan dianggap setara jika bisa jadi CEO, anggota DPR, driver ojol. Padahal Islam sudah setarakan 1400 tahun lalu: sama di hadapan Allah, tapi beda peran sesuai fitrah. Dipaksakan setara secara fungsi. Ibu-ibu merasa gagal kalau “cuma di rumah”. Padahal mendidik 1 anak shalih pahalanya mengalir sampai kiamat.
Ketiga, standar sukses digeser, dari ummahat jadi career woman. Media, influencer, film menarasikan bahwa sukses punya jabatan, paycheck, eksis di LinkedIn. Ibu rumah tangga yang berhasil hafizkan anaknya 30 juz, dianggap “nggak ngapa-ngapain”. Akhirnya banyak ibu insecure, merasa tertinggal, lalu kerja meski hatinya tidak rela. Anak jadi korban dititip ke daycare seadanya.
Keempat, tekanan ekonomi. Gaji suami tidak nutup hidup layak. Ini realitas. UMR Jogja 2026 ±2,5 juta. Kontrakan 800rb, susu plus popok 700rb, listrik plus kuota 400rb, belum makan. Sekolah Islam terpadu SPP 1 juta. Mau rekreasi? Mustahil.
Sistem kapitalis sengaja bikin biaya hidup tinggi: pendidikan dan kesehatan dikomersilkan, harga pangan dikontrol kartel. Suami kerja 12 jam pun tekor. Istri “terpaksa” bantu, bukan karena ambisi karier, tapi karena sistem tidak menjamin nafkah layak.
Kelima, gaya hidup konsumtif, dari basic need ke entertainment need. Kapitalisme tidak jual barang, tapi jual desire. Lewat iklan dan influencer, kebutuhan digeser: baju harus branded, makan harus viral, rumah harus aesthetic buat konten. Akibatnya gaji 10 juta pun kurang. Catat: ini tidak pukul rata semua ibu bekerja. Tapi social pressure ini nyata. Banyak keluarga kerja rodi bukan untuk hidup, tapi untuk gaya hidup.
Keenam, Suami abai nafkah dan akhirnya istri jadi tulang punggung. Tak heran, sistem sekuler melahirkan laki-laki rapuh, tidak paham qawwamah, tidak takut dosa tidak nafkahi keluarga. KDRT finansial marak. UU Perkawinan ada, tapi penegakan nol. Istri akhirnya kerja, bukan aktualisasi diri, tapi survival mode. Anak? Terpaksa ke daycare.
Ketujuh, Pasar kerja pilih perempuan. Biasanya gaji lebih rendah dan biasanya perempuan lebih teliti. Korporasi suka rekrut perempuan karena bisa digaji lebih rendah, dianggap lebih telaten, jarang demo, bisa “diatur” cuti hamil. Kapitalis untung, ibu buntung, anak lebih buntung lagi, diasuh di daycare yang pengasuhnya juga korban sistem upah murah.
Baca juga:
Buat Kamu yang Menitipkan Orangtuamu ke Panti Jompo, Baca Firman Allah Berikut Ini..
Mengembalikan Ibu ke Posisinya yang Mulia
Islam bukan anti wanita bekerja. Islam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Solusinya sistemik, bukan tambal sulam.
Peran utama ibu adalah Ummun wa rabbatul bait. Rasulullah bersabda: “Wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban.” HR. Bukhari.
Ibu adalah madrasatul ula. Cetak generasi pertama di pangkuan. Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Shalahuddin, semua lahir dari didikan ibu. Tidak ada daycare yang bisa gantikan dekapan dan doa ibu. Karier tertinggi wanita adalah melahirkan generasi pejuang, bukan melahirkan invoice.
Disamping itu, dalam Islam penafkahan wajib di pundak suami, Istri bekerja hukumnya mubah.
Al-Qur’an tegas, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” QS. An-Nisa: 34.
Qawwam artinya, penanggung jawab, pelindung, pemberi nafkah. Istri boleh bekerja dengan 4 syarat: izin suami, jaga aurat dan syariat, tidak ada ikhtilat, tidak melalaikan tugas pokok. Tapi hukumnya mubah, bukan wajib. Yang wajib: mendidik anak, taat suami, tholabul ilmi, dakwah dan lain sebagainya.
Fiqh awlawiyat: dahulukan yang wajib, baru yang mubah. Kalau kerja bikin anak diikat di daycare, berarti mubah-nya menggugurkan yang wajib. Ini haram.
Baca juga:Ternyata Segini Besaran Nafkah Suami kepada Istri Sesuai Syariat
Tupoksi Suami-Istri dalam Syariat
Islam punya sistem terbaik agar ibu betah di rumah dan anak tidak harus di daycare.
Bagi suami, Allah wajibkan memikul tanggung jawab qawwamah: memberi nafkah pangan, sandang, dan papan yang layak sesuai kemampuannya. Tidak boleh pelit kepada istri-anak padahal mampu. Suami juga wajib mendidik anak soal akidah dan akhlak, bukan lepas tangan. Jika suami keluar rumah tanpa memastikan nafkah cukup, atau menelantarkan anak, maka ia berdosa besar dan akan ditagih di akhirat.
Bagi istri, Allah wajibkan taat pada suami dalam kebaikan dan menjadi mudabbirah atau pengatur rumah tangga: mengelola rumah, mendidik anak, dan menjaga harta suami. Istri adalah madrasah pertama yang mengajarkan doa, adab, dan Al-Qur’an sejak dini. Boleh bekerja jika 4 syarat terpenuhi: izin suami, menjaga syariat, tidak ada ikhtilat, dan ada hajat syar’i. Tapi ingat, bekerja hukumnya mubah. Jika sampai melalaikan kewajiban mendidik anak hingga anak jadi korban daycare, maka mubah itu berubah jadi haram.
Bagi negara dalam sistem Islam, tugasnya menjamin kebutuhan pokok rakyat murah: pendidikan, kesehatan, dan keamanan digratiskan. Baitul Mal membiayai janda dan keluarga miskin agar tidak ada ibu terpaksa kerja. Negara juga melarang eksploitasi wanita: upah perempuan harus sama dengan laki-laki, dan pabrik yang merekrut ibu-ibu hanya karena bisa dibayar murah harus ditutup. Lapangan kerja untuk laki-laki dijamin, ekonomi berbasis sektor riil bukan spekulasi, sehingga harga stabil dan gaji suami cukup.
Soal daycare, negara wajib mengawasi super ketat. Izin hanya diberikan untuk kondisi dharurat, bukan jadi industri. Pengasuh digaji setara guru dengan rasio maksimal 1 pengasuh untuk 3 anak.
Sistem Islam akan menghasilkan ekonomi stabil karena negara jamin kebutuhan pokok, suami kerja hasilnya cukup, istri tidak stressed mikir kebutuhan rumah. Secara sosial, ibu dimuliakan. Gelar Rabbatul Bait lebih bergengsi dari CEO. Tidak ada mom war “kerja vs IRT”. Dari sisi pendidikan, anak dapat ASI 2 tahun, pelukan ibu, didikan akidah sejak dini. Tidak ada trauma “diikat di daycare”. Dan secara hukum, suami tidak nafkahi akan dipaksa negara, daycare yang abai dikenai takzir berat. Anak terlindungi.
Baca juga:5 Tips Rumah Tangga Bahagia yang Diajarkan Al Quran dan Sunnah
Stop Normalisasi Daycare Massal
Kasus Little Aresha adalah alarm. Selama kita masih pakai kacamata kapitalisme, akan ada Little Aresha-Little Aresha lain. Solusinya bukan “daycare ber-SNI” atau “CCTV 24 jam”. Itu cuma painkiller.
Solusinya: cabut akar kapitalisme yang merampas ibu dari anaknya. Kembalikan peran ibu ke rumah dengan jaminan sistem Islam: suami paham qawwamah, negara jamin nafkah, masyarakat muliakan ummahat.
Karena surga anak bukan di daycare ber-AC. Surga anak ada di telapak kaki ibunya. Dan surga ibu ada pada ridha suami dan ketaatannya pada Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.***
Baca juga:Hukuman Untuk Istri yang Keluar Rumah Tanpa Izin Suami