Anak Diikat, Ibu Dijerat: Potret Buram Pengasuhan di Era Kapitalisme

Oleh: Alfira Khairunnisa
datariau.com
78 view
Anak Diikat, Ibu Dijerat: Potret Buram Pengasuhan di Era Kapitalisme

Tupoksi Suami-Istri dalam Syariat


Islam punya sistem terbaik agar ibu betah di rumah dan anak tidak harus di daycare.

Bagi suami, Allah wajibkan memikul tanggung jawab qawwamah: memberi nafkah pangan, sandang, dan papan yang layak sesuai kemampuannya. Tidak boleh pelit kepada istri-anak padahal mampu. Suami juga wajib mendidik anak soal akidah dan akhlak, bukan lepas tangan. Jika suami keluar rumah tanpa memastikan nafkah cukup, atau menelantarkan anak, maka ia berdosa besar dan akan ditagih di akhirat.

Bagi istri, Allah wajibkan taat pada suami dalam kebaikan dan menjadi mudabbirah atau pengatur rumah tangga: mengelola rumah, mendidik anak, dan menjaga harta suami. Istri adalah madrasah pertama yang mengajarkan doa, adab, dan Al-Qur’an sejak dini. Boleh bekerja jika 4 syarat terpenuhi: izin suami, menjaga syariat, tidak ada ikhtilat, dan ada hajat syar’i. Tapi ingat, bekerja hukumnya mubah. Jika sampai melalaikan kewajiban mendidik anak hingga anak jadi korban daycare, maka mubah itu berubah jadi haram.

Bagi negara dalam sistem Islam, tugasnya menjamin kebutuhan pokok rakyat murah: pendidikan, kesehatan, dan keamanan digratiskan. Baitul Mal membiayai janda dan keluarga miskin agar tidak ada ibu terpaksa kerja. Negara juga melarang eksploitasi wanita: upah perempuan harus sama dengan laki-laki, dan pabrik yang merekrut ibu-ibu hanya karena bisa dibayar murah harus ditutup. Lapangan kerja untuk laki-laki dijamin, ekonomi berbasis sektor riil bukan spekulasi, sehingga harga stabil dan gaji suami cukup.

Soal daycare, negara wajib mengawasi super ketat. Izin hanya diberikan untuk kondisi dharurat, bukan jadi industri. Pengasuh digaji setara guru dengan rasio maksimal 1 pengasuh untuk 3 anak.

Sistem Islam akan menghasilkan ekonomi stabil karena negara jamin kebutuhan pokok, suami kerja hasilnya cukup, istri tidak stressed mikir kebutuhan rumah. Secara sosial, ibu dimuliakan. Gelar Rabbatul Bait lebih bergengsi dari CEO. Tidak ada mom war “kerja vs IRT”. Dari sisi pendidikan, anak dapat ASI 2 tahun, pelukan ibu, didikan akidah sejak dini. Tidak ada trauma “diikat di daycare”. Dan secara hukum, suami tidak nafkahi akan dipaksa negara, daycare yang abai dikenai takzir berat. Anak terlindungi.

Baca juga:5 Tips Rumah Tangga Bahagia yang Diajarkan Al Quran dan Sunnah


Stop Normalisasi Daycare Massal


Kasus Little Aresha adalah alarm. Selama kita masih pakai kacamata kapitalisme, akan ada Little Aresha-Little Aresha lain. Solusinya bukan “daycare ber-SNI” atau “CCTV 24 jam”. Itu cuma painkiller.

Solusinya: cabut akar kapitalisme yang merampas ibu dari anaknya. Kembalikan peran ibu ke rumah dengan jaminan sistem Islam: suami paham qawwamah, negara jamin nafkah, masyarakat muliakan ummahat.

Karena surga anak bukan di daycare ber-AC. Surga anak ada di telapak kaki ibunya. Dan surga ibu ada pada ridha suami dan ketaatannya pada Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.***

Baca juga:Hukuman Untuk Istri yang Keluar Rumah Tanpa Izin Suami
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)