DATARIAU.COM - Judul di atas adalah kalimat yang diucapkan Zohran Mamdani saat terpilih sebagai Walikota muslim pertama New York, sekaligus keturunan Asia Selatan pertama, dan orang kelahiran Afrika pertama yang memimpin kota tersebut. Artinya kurang lebih "Kami akan berjuang untuk Anda karena kami adalah Anda" (cnbcindonesia.com, 6-11-2025).
Meski bukan pemimpin wilayah muslim yang pertama, karena di bagian lain Amerika sudah ada beberapa sosok muslim yang juga mengukir sejarah memimpin dari mayoritas masyarakat non muslim. Tak urung kemenangan Mamdani yang merupakan kandidat dari Partai Demokrat berusia 34 tahun, menunjukkan bahwa keberagaman dan representasi politik di Amerika Serikat semakin berkembang, membuka ruang bagi para pemimpin dari berbagai latar belakang untuk berkontribusi dalam pelayanan publik dan pembangunan masyarakat.
Mamdani unggul 50,4 persen suara dukungan dari 89 persen suara yang sudah dihitung Associated Press, termasuk 33 persen pemilih Yahudi memilihnya, mengungguli pesaing-pesaing kuat, termasuk mantan Gubernur New York Andrew Cuomo yang maju sebagai independen.
Kemenangan kandidat Demokrat ini diraih di tengah serangan sengit terhadap kebijakan dan warisan muslimnya, termasuk dari Presiden Donald Trump, elite bisnis, kelompok pendukung Israel, dan media konservatif.
Pidato Mamdani yang jelas mengatakan "Kita menggulingkan sebuah dinasti politik", "Masa depan New York ada di tangan kita" dan lainnya, mengundang berbagai komentar pedas. Bahkan Mamdani dengan jelas menyatakan kemenangannya ini menunjukkan cara untuk mengalahkan Trump selama masa kampanye pemilihannya, di kota kelahiran Trump sendiri.
Presiden AS, Donald Trump mengingatkan Mamdani untuk "bersikap baik" kepadanya. Trump menilai pidato kemenangan Mamdani sebagai "pernyataan yang sangat berbahaya", sebab disampaikan Mamdani bernada kemarahan terhadap dirinya. Trump menegaskan dialah orang yang harus menyetujui banyak hal yang akan terjadi padanya, sayang dia memulai dengan cara yang buruk. (detiknews.com, 7-11-2025).
Bukan hanya itu, sebelumnya Trump juga mengancam akan membatasi dana federal untuk kota New York jika Mamdani menang, sekaligus Trump menyerukan dukungan kepada rival Mamdani, Andrew Cuomo.
Kecaman juga datang dari Menteri Diaspora dan Pemberantasan Antisemitisme Israel, Amichai Chikli, dengan menyebutnya sebagai "pendukung Hamas".
Chikli bahkan menyerukan warga Yahudi di kota itu untuk pindah ke Israel setelah kemenangan Mamdani. "Kota yang pernah menjadi simbol kebebasan global telah menyerahkan kuncinya kepada seorang pendukung Hamas," tulisnya di media sosial X.
John Catsimatidis, miliarder "Big Apple" bersumpah akan memindahkan bisnisnya ke New Jersey jika Mamdani menang. Hal ini muncul dari kekhawatiran Catsimatidis atas rencana Mamdani untuk membangun toko bersponsor kota tanpa pajak dan sewa, bekerja sama dengan petani dan pelaku usaha kecil. Akibatnya, banyak pengusaha kini mengurangi keterlibatan mereka di New York City.
Kemenangan Mamdani = Kemengan Islam?
Yang patut didalami, adalah tekad Mamdani menjadikan Kota New York sebagai tempat yang menyambut dan merayakan keberagaman. Ia mengidentifikasi dirinya sebagai seorang sosialis demokrat dan merupakan anggota DSA (Democratic Socialists of America) sebuah kelompok progresif yang memperjuangkan layanan publik gratis dan kebijakan redistribusi ekonomi.
Mamdani sangat terinspirasi Senator Bernie Sanders, seorang tokoh progresif yang juga mendukung pencalonannya, ia pun meniru kebijakan Walikota Boston Michelle Wu sebagai politikus Demokrat paling efektif, dengan Platform kampanye Mamdani berfokus pada reformasi sosial dan ekonomi.
Mamdani pun mendukung Proposal 1, sebuah amandemen tahun 2024 terhadap Konstitusi Negara Bagian New York. Amandemen ini bertujuan menjadikan tindakan diskriminasi berdasarkan etnis, asal kebangsaan, usia, disabilitas, jenis kelamin (termasuk orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gender), kehamilan, serta layanan dan otonomi kesehatan reproduksi sebagai hal yang inkonstitusional.
Dukungan ini secara otomatis menempatkan Mamdani sebagai sekutu kuat komunitas LGBT di New York (Dataindonesia.id, 5-11-2025). Maka, euforia dunia ini adalah kemenangan Islam, sangatlah dini bahkan salah arah.
Mamdani dengan segala kesuksesannya tetap tidak akan berdaya melangkah maju satu langkah pun kecuali tetap di bawah titah Trump sebagai pemimpin tertinggi AS, dan tentu dengan beking pengusaha AS yang selama ini mengatur AS dari balik layar.
Artinya, tak cukup memunculkan identitas muslim sebagai penanda perubahan, tapi butuh perubahan hakiki yaitu perubahan dari masyarakat jahiliah ke masyarakat Islam. Bukan sekadar perubahan kepemimpinan atau rezim, melainkan perubahan yang berasal dari akar dan sistemis.
Mamdani menang di tengah Sistem Kapitalisme, yang asasnya sekuler dan hanya peduli dengan manfaat. Tak beda dengan kondisi di dalam negeri kita, semua menginginkan perubahan, namun sayang mereka hanya fokus merubah sosok bukan sistem.
Berapa kali pun berganti sosok, ketika sistem tetap Kapitalisme, maka seluruh kebijakan akan bermuara pada cara pandang Kapitalisme. Selain Mamdani sudah ada walikota-walikota muslim, dan mereka tenggelam. Tak mampu mengadakan perubahan signigikan, Islam yang mereka miliki sekadar indentitas, tidak secara idiologi. Sehingga mereka tak bisa mengubah yang tampak nyata terlarang dalam Islam, yaitu LGBT selain menyatakan dukungan demi sebuah kemenangan.
Kemenangan Hakiki dengan Perjuangan Perubahan Sistem
Mungkin benar, sejarah Amerika berubah, mereka menerima keberagaman, tapi tetap Islam yang bergerak secara idiologis tetap dalam pengawasan bahkan ancaman. Sebagai seorang muslim, melihat perkembangan politik di sekitar kita tidak boleh bersikap pragmatis. Di antaranya menerima perubahan secara bertahap. Semisal perubahan ekonomi yang adil, sementara aspek lain ditunda bahkan ditinggalkan.
Kaum muslim harus senantiasa terikat pada teladan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam memperjuangkan perubahan. Tidak boleh bergeser seujung rambut pun. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam membina para sahabat dengan akidah Islam, membersihkannya dari pemikiran kufur, hingga menjadi sebuah kelompok yang siap berinteraksi di tengah masyarakat menyerukan Islam kaffah.
Era hari ini pun tetap sama metodenya, malah lebih parah. Jika dahulu para sahabat berdakwah menghadapi kaum kafir, kini kita muslim menghadapi muslim yang pemikirannya telah terkooptasi pemikiran kufur. Sehingga lebih pragmatis dan tak jijik menormalisasikan hubungan dengan non muslim termasuk kafir harbi fi'lan, bangsa dan negara yang jelas-jelas memerangi Islam dan kaum muslim.
Kaum muslim harus bergabung dengan jamaah dakwah idiologis agar mendapatkan pemahaman Islam yang utuh, sehingga mampu berjuang menegakkan syariat Islam kafah dalam naungan Khilafah ala minjahi Nubuwah. Menjadikan keamanan, kekuasaan dan kedaulatan di tangan kaum muslim. Wallahualam bissawab.***