Oleh: Afdhal Kusumanegara

Perilaku Negatif di Media Sosial: Konsep Baru Buta Huruf Era Milenial

datariau.com
2.988 view
Perilaku Negatif di Media Sosial: Konsep Baru Buta Huruf Era Milenial

DATARIAU.COM - Francis Fukuyama dalam The End of History and The Last Man-nya pernah menera sebuah ramalan jika sebuah negara harus berakhir. Fukuyama merumuskan bahwa negara sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah, tidak akan bisa bergerak tanpa hadirnya pertentangan dalam kesadaran manusia-manusianya. Artinya, sebuah negara akan berjaya jika masyarakatnya senantiasa menggunakan pikiran, karsa, dan alam budi luhurnya. Sebaliknya, sebuah negara akan tamat riwayatnya jika masyarakatnya sudah malas berpikir. 

Pertanyaan kemudian, apakah ramalan Fukuyama bisa terjadi di Indonesia? Apa yang bisa menjadi penyebabnya?

Angka-Angka yang Mencemaskan

Memasuki era modern, aksara Latin mendapat tempat untuk menjadi mitra Bahasa Indonesia. Penuntasan buta aksara Latin kemudian menjadi fokus pemerintah dari periode ke periode dengan istilah AMH (Angka Melek Huruf) dan ABH (Angka Buta Huruf). Pada awal kemerdekaan, masyarakat dengan ABH Latin mencapai 97%. Kemudian memasuki dekade 90-an, berdasarkan Data Indikator Pendidikan dari Badan Pusat Statitistik (BPS), jumlah penduduk yang belum bisa baca-tulis sebanyak 15% dari 180 juta jiwa.

Untuk tahun 2018, Survei Sosial Ekonomi Nasional yang masih bersumber dari BPS menyatakan bahwa masyarakat yang buta huruf tersisa 1,93% dari total jumlah penduduk 264 juta jiwa. Meskipun angkanya sudah sangat jauh berbeda, namun perjuangan mengaksarakan masyarakat belum tuntas.

Belum sempat mengentaskan buta huruf Latin, kita sudah diperhadapkan pada era baru, rezim teknologi dan informasi. Perangkat komputer, ponsel pintar, dan media sosial menjadi urat nadi. Ruang dan waktu seolah menyempit dan menyingkat. Dunia yang Dilipat, demikian buku Yasraf Amir Piliang menggambarkan kondisi dunia saat ini. Bacaan, informasi, bahkan regulasi pendidikan semua berpindah ke perangkat-perangkat elektronik. Kaum milenial pun terkadang kewalahan mengikuti perkembangannya yang amat cepat.

Pergerakan dunia ke depan memang diperkirakan akan terfokus pada 4 pilar teknologi; intelegensi artifisial yang akan membantu tiap inci kebutuhan manusia, jaringan 5G yang akan membuat dunia terasa berlari, big data yang menjadi area bisnis baru, dan OS (Operating System) yang akan menghubungkan semua alat yang kita pakai. Orang bisa saja mengatakan; tidak ada lagi kebutuhan yang tidak ada atau tidak melalui internet.

Berdasarkan data lapangan Maret-April 2019 dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia), penetrasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai 64,8% dari total jumlah penduduk. Artinya, lebih dari setengah penduduk Indonesia sudah terhubung ke dunia maya. Animo itu mengindikasi pengurangan kuantitas gagap teknologi. Maka lahirlah adagium, "Mereka yang buta huruf bukan lagi mereka yang tidak bisa membaca buku, tetapi mereka yang tidak bisa mengoperasikan komputer dan internet." Zaman telah berubah. Namun, benarkah demikian? Tentang redefinisi melek huruf, cukupkah sampai di situ?

Buktinya, prestasi 'melek media' itu tidak berbanding lurus dengan kualitasnya. Masih dari statistik yang sama, "internet hanya dipakai untuk leha-leha" ternyata menduduki posisi ketiga terbanyak (17,9 juta) setelah akses berita-termasuk yang hoax-(31,3  juta) lalu pekerjaan (27,6 juta). Angka itu masih tinggi dibanding penggunaan internet untuk pendidikan (12,2 juta). Demi keperluan hiburan semata juga menempel cukup besar, yakni 11,7 juta.

Masih dari APJII yang bekerjasama dengan Polling Indonesia, data menunjukkan bahwa 49% pengguna internet ternyata pernah mengalami perundungan (bullying) di media sosial. Artinya, separuh pengguna medsos pernah mengejek atau menghina temannya di dunia maya. Konten porno yang muncul malah memiliki presentase yang lebih besar, yakni 55,9%.

Kita akan sama menemukan perdebatan yang hampir tiap hari terjadi di grup WhatsApp. Yang didebat biasanya juga bukan hal yang subtansial, bukan untuk kemajuan pribadi. Bagi yang berprofesi sebagai pendidik, menjadi lumrah ketika pelajar sekarang sangat bergantung pada akses telepon pintarnya untuk mencari jawaban di dalam diskusi kelas. Tidak lagi mengandalkan daya kritis dan pemahamannya sendiri. Pemandangan yang cukup mengerikan, bukan.

Model Baru Buta Huruf

Melihat data dan fenomena di atas, nampaknya ada sebuah titik yang dilewatkan oleh masyarakat kita. Tentu saja hampir semua lapisan masyarakat sudah bisa mengoperasikan internet. Namun pertanyaan kemudian, apakah kita benar-benar membaca? Apakah semua tulisan yang ada di media sosial adalah tulisan yang bermanfaat? Jangan lupa, ABH yang dinyatakan tersisa 1,93% tadi disertai dengan fakta bahwa mereka tidak harus memahami isi bacaan.

Ujaran kebencian di kolom komentar menjadi hal yang biasa. Marak juga aplikasi yang mengumbar nafsu serta game online yang menguras waktu. Kadangkala medsos menjadi limpahan huruf yang membawa sampah dan gerak-gerik yang tidak mendidik. Tidak semuanya memang, tetapi tetap saja menjadi bibit kejahatan.

Penggunaan medsos kemudian menjadi tidak produktif dan tidak pula kontributif. Sebut saja berita bohong (hoax), perundungan (bullying), juga ujaran kebencian (hate speech). Sekurang-kurangnya ada 3 sebab mengapa penyakit-penyakit maya itu mewabah di Indonesia. Pertama, hasrat berinternet yang dominan dipakai untuk waktu luang dan hiburan semata. Kedua, ketidakmampuan membaca konteks. Ketiga, ketidaksanggupan mengelola emosi dalam teks karena faktor politik, ideologi, dan gengsi golongan.

Demikian itu akan berpengaruh terhadap perkembangan bangsa dan negara. Berdasarkan laporan UNESCO yang berjudul The Social and Economic Impact of Illiteracy yang dirilis pada tahun 2010, bahwa tingkat literasi rendah mengakibatkan kehilangan atau penurunan produktivitas serta kehilangan proses pendidikan baik pada tingkat individu maupun pada tingkat sosial. Kemudian hal itu akan berefek pada penurunan pendapatan negara, tingginya biaya hidup, dan terbatasnya hak advokasi akibat rendahnya paritisipasi sosial dan politik.

Apa yang dilaporkan UNESCO itu tentu bukan sekadar pemberitahuan. Laporan ini berdasar pada kondisi riil geopolitik pada sejumlah negara. Maka minimnya budaya literasi akan menyebabkan kemunduran suatu bangsa. Membaca kemudian paham, itu saja tidak cukup. Tetapi membaca kemudian menjadi bijak dan tenang, itulah tujuan membaca yang sesungguhnya. Menulispun demikian. Tulisan di media sosial seharusnya memiliki unsur kritik yang membangun. Bukan mencela dan menjatuhkan.

Mereka yang buta huruf (illiterate) di abad ke-21, demikian dikemukakan futurolog Alvin Toffler, bukanlah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang-orang yang tidak bisa belajar, melupakan ajaran masa lalu yang tidak benar, dan kembali belajar (learn, unlearn, and relearn).

Buta huruf yang selama ini diyakini sebagai kondisi tidak bisa membaca secara tekstual sudah saatnya diajukan sebagai perspektif lama. Buta huruf dan ketidamampuan membaca bukan lagi ketika kita tidak mampu mengoperasikan aplikasi media sosial dan internet, tetapi ketika kita tidak bisa melihat dan memahami referensi dalam arti yang lebih luas, serta bagaimana menggunakannya dengan baik. Kehadiran pembaca dan penulis yang budiman dibutuhkan pada sebuah bangsa yang maju dan beradab.

Agar ramalan Fukuyama tidak terjadi pada bangsa Indonesia. Sebagaimana kebodohan yang akan senantiasa membayangi jika masyarakatnya jarang membaca. Di mana kebodohan, sangat dekat maknanya dengan bencana dan kekacauan. (*)

**Penulis merupakan Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia UIN Suska Riau / Kandidat Doktor Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)