Mewujudkan Keluarga Ideal di Era Milenial

Oleh: Sri Lestari, ST
datariau.com
388 view
Mewujudkan Keluarga Ideal di Era Milenial

DATARIAU.COM - Di Era Milenial saat ini banyak sekali kejadian-kejadian di luar nalar. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi buah hati namun saat ini banyak fakta yang menunjukkan orang tua sebagai predator yang sangat mengerikan. Seharusnya anak merasa aman, nyaman, tenteram dan mendapat kasih sayang dari orang tua, namun banyak fakta yang menunjukkan orang tua menjadi monster yang menakutkan.

Dari data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) jumlah kekerasan terhadap anak pada periode Januari hingga Desember 2024 telah mencapai 19.628 kasus dan 21.648 korban. Sungguh angka yang fantastis. Sejak Januari hingga Maret KemenPPPA menangani 38 kasus kekerasan terhadap anak. Kasus yang ditangani mayoritas adalah kekerasan seksual dan kekerasan fisik.

KemenPPP juga menyatakan ikut mengawal penanganan kasus anak yang diduga ditelantarkan dan dianiaya oleh ayah kandungnya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Anak tersebut saat ini sedang menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati.

Beberapa waktu lalu di Garut, Jawa Barat, juga terdapat kasus pencabulan terhadap anak berusia 5 tahun yang pelakunya adalah ayah, paman dan kakeknya. Dinyatakan bahwa orang tua korban telah berpisah. Sehingga anak tersebut tinggal bersama ayahnya. Masih banyak lagi kasus kekerasan terhadap anak mulai dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, eksploitasi anak dan penelantaran anak.

Banyaknya kasus terhadap anak yang muncul ke permukaan sudah seharusnya menjadi pertanyaan besar bagi kita, kenapa kasus- kasus yang mengerikan terjadi. Status orang tua tidak lagi menjadi pelindung bagi anak, namun orang tua bagaikan pemangsa bagi anak-anaknya. Tentu banyak faktor yang menjadi pemicu kasus-kasus ini muncul ke permukaan seperti faktor ekonomi.

Himpitan ekonomi sering menjadi alasan bagi orang tua untuk menelantarkan anak. Faktor berikutnya adalah kerusakan moral, emosi yang tidak terkendali, lemahnya pemahaman akan fungsi orang tua bagi anak, banyaknya tayangan di media yang menjadi pemicu kekerasan pada anak hingga krisisnya iman. Faktor yang menjadi pengaruh besar adalah sistem kehidupan yang diterapkan. Pasalnya sistem kehidupan yang diterapkan menjadi tolak ukur perbuatan dan hukuman yang diterapkan.

Sistem kehidupan yang diterapkan saat ini adalah kapitalis sekuler. Dalam sistem kapitalis tolak ukur perbuatan berada di tangan manusia. Baik dan buruk perbuatan yang dilakukan standarnya adalah manfaat. Pada tolak ukur seperti ini mampu membuat manusia berbuat namun tidak manusiawi karena berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan dampaknya bagi dirinya atau orang lain. Menjadi kewajaran banyak kasus terjadi tanpa takut dosa.

Dalam sistem kapitalis agama tidak berperan sedikitpun dalam mengatur kehidupan, karena azas kehidupannya adalah pemisahan agama dari kehidupan. Dari azas ini menjadi kewajaran banyak manusia yang berbuat layaknya hewan bahkan banyak perbuatan yang lebih hina dari hewan. Seperti orang tua yang mencabuli, menelantarkan, mengeksploitasi, menganiaya hingga membunuh anak kandungnya.

Dalam kapitalis Fungsi negara hanyalah sebagai regulator bukan sebagai pengatur dan pelindung. Sebenarnya di negeri ini sudah ada undang-undang perlindungan anak, perlindungan anak dari kekerasan fisik atau seksual dan juga undang-undang tentang pembangunan keluarga.

Namun realitanya peraturan yang ada tidak mampu untuk menyelesaikan persoalan bahkan persoalan semakin kompleks dan banyak variannya. Hal ini menjadi kewajaran karena peraturan yang ada dibangun diatas dasar azas sekuler, sehingga tidak menyentuh pada akar permasalahan. Selain itu hukuman yang diterapkan juga tidak menjerakan faktanya banyak kasus serupa yang terjadi.

Berbeda dengan Islam. Islam adalah agama dan sistem kehidupan. Dari akidah lahir banyak peraturan kehidupan untuk manusia. Baik dalam tatanan individu, masyarakat dan negara. Islam memandang bahwa keluarga adalah pelindung bagi anak-anak. Islam mendudukkan ayah adalah sosok yang mencari nafkah untuk keluarga dan berkewajiban melindungi keluarga. Ibu adalah sosok yang berperan sebagai ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Anak adalah sosok yang menghormati kedua orang tuanya.

Tatkala bangunan keluarga ideal maka tidak akan terjadi tindak kriminal yang menimpa anak. Keluarga ideal adalah keluarga yang memahami perannya masing-masing selain itu setiap aktivitas yang dilakukan terkoneksi dengan Sang Pencipta. Keluarga ideal menjadi fondasi awal dalam melindungi dan membentuk kepribadian yang baik pada generasi. Untuk mewujudkan keluarga yang ideal tidak terlepas dari peran negara.

Negara yang berdiri di atas dasar akidah Islam akan membentuk semua masyarakat negara memiliki kepribadian Islam yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islam. Tolak ukur perbuatan masyarakat adalah halal dan haram. Negara memberikan edukasi bagi para pemuda dan pemudi ketika mereka sudah siap untuk menikah. Negara memberikan pemahaman tujuan pernikahan hingga peran dan hukum masing-masing anggota keluarga.

Dalam hal pemenuhan ekonomi negara membuka lapangan pekerjaan yang seluas luasnya bagi para ayah untuk mencari dan memenuhi nafkah. Sehingga tidak ada persoalan ekonomi dalam keluarga yang nantinya akan memunculkan persoalan baru. Selain itu negara juga mewajibkan kepada setiap individu masyarakat untuk menuntut ilmu, negara memberikan pendidikan gratis kepada semua kalangan masyarakat. Disamping itu negara juga memudahkan masyarakat untuk mengakses tempat tinggal. Negara menerapkan hukum pidana yang konsepnya pencegahan dan menjerakan.

Dengan pembentukan kepribadian pada setiap individu masyarakat, pendampingan keimanan yang dilakukan oleh negara, tersedianya fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum lainnya secara gratis maka akan terbentuk keluarga yang ideal secara alami. Maka dari itu, tindak kekerasan pada generasi akan terselesaikan jika membentuk fondasi awal yakni keluarga ideal yang didukung dengan sistem yang ideal yakni sistem Islam.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)