Berorientasi Industri, Pendidikan Tinggi Minus Visi

760 view
Berorientasi Industri, Pendidikan Tinggi Minus Visi
Foto: Ist
Alfiah S Si.

DATARIAU.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendorong upaya membangun ?perjodohan? atau kerjasama antara perguruan tinggi atau Kampus dengan industri. Strategi ini menurutnya dinilai penting agar perguruan tinggi dan industri bisa terkoneksi untuk saling memperkuat keduanya. Menurut Nadiem, Kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dunia usaha (lensaindonesia.com, 04/07/2020).

Pemerintah, kata Nadiem, memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak Kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian.

Dia menjelaskan, bahwa Kemendikbud telah menjalankan program Kampus Merdeka. Salah satunya untuk menghasilkan mahasiswa yang unggul dan bisa menjadi pendisrupsi revolusi industri 4.0.

Tampaknya kebijakan yang diambil pemerintah ini tidak hanya akan menguntungkan dunia pendidikan, tapi juga industri. Namun ada berbagai persoalan dalam dunia pendidikan yang justru semakin menguatkan ketidakjelasan arah pendidikan negeri ini.

Kita lihat saja. Sejak orde lama, kurikulum pendidikan sudah 11 kali mengalami perubahan. Dan perubahan-perubahan ini bukan hanya membuat para pendidik kelabakan. Para siswa pun seolah selalu dikorbankan, karena posisi mereka tak lebih dari kelinci percobaan.

Di sisi lain, kesenjangan pun masih menjadi persoalan. Buruknya politik anggaran untuk pendidikan membuat gap antara pusat dan daerah selalu dalam kondisi memprihatinkan. Baik soal aksesibilitas, ketersediaan sarana prasarana pendidikan, maupun ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas.

Negara cenderung menyerahkan urusan pendidikan kepada mekanisme pasar. Bukan mempersiapkan pendidikan yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi negara. Wajar jika apa yang disebut dengan ?merdeka belajar? dan ?pendidikan untuk semua? nyatanya hanya ada dalam wacana. 

Jika dicermati lebih dalam, negara yang berparadigma kapitalis liberal mengarahkan pendidikan justru harus menjadi salah satu instrumen pengokoh hegemoni kapitalisme global, yang bersembunyi di balik kata investasi korporasi dan revolusi industri.

Dan faktanya, kebijakan pendidikan hari ini nampak sangat kental dengan hitung-hitungan ekonomi. Seperti demi peningkatan kemampuan produksi. Demi mendorong investasi dan industrialisasi. Dan semacamnya. Padahal, berbicara proses produksi, investasi dan industrialisasi pada hari ini, sejatinya berbicara tentang hegemoni kaum kapitalis yang tampil dalam bentuk korporasi.

Inilah yang sekarang kita lihat. Negara begitu concern mendorong tumbuhnya institusi-institusi pendidikan vokasi. Atau gencar menggagas pendidikan berbasis link and match dengan industri. Begitu pula, negara nampak begitu bersemangat memfasilitasi berbagai kerjasama penelitian antara institusi pendidikan dan korporasi.

Bahkan upaya-upaya negara mendorong perguruan tinggi untuk mengejar target world class university, serta wacana Revolusi Industri 4.0 di tengah wacana kampus merdeka, nyatanya sejalan dengan proses kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi. Dimana rezim penguasa berparadigma sekuler kapitalis liberal, lazim berkolaborasi dengan kekuatan korporasi.

Walhasil arah pendidikan  yang diterapkan hari ini, memang tak lebih dari mesin pensuplai kebutuhan pasar tenaga kerja bagi industri raksasa milik negara-negara adidaya. Bukan sebagai pilar membangun peradaban cemerlang. Dan dampaknya akan terus membuat negeri ini terposisi sebagai objek penjajahan. Tak berdaulat dan jauh dari kemandirian.

Sesungguhnya tujuan pendidikan tinggi seharusnya adalah mencetak para pemimpin masa depan yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang menghadang. Tidak hanya itu pendidikan tinggi juga bertanggung jawab mencetak para pemikir, ilmuwan handal yang menguasai sains dan teknologi, dan yang lebih penting dari semua itu output pendidikan tinggi adalah SDM yang memiliki kepribadian yang cemerlang yang tidak hanya memiliki pola pikir yang benar tetapi juga memiliki pola sikap yang benar. Ibarat pepatah mengatakan orang yang berilmu itu seperti padi, semakin berisi semakin merunduk. (*)

Wallahu 'alam bi ash-showab.

Penulis
: Alfiah
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)