Varian Delta Meluas

Ruslan
1.653 view
Varian Delta Meluas
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito menyatakan, Covid-19 ini adalah penyakit virus dalam kelompok yang mudah bermutasi karena keadaan lingkungannya.

Akibat hal itu, maka timbul varian-varian baru yang menyesuaikan dengan keadaannya sehingga virus tersebut bisa bertahan hidup di alam.

"Keadaan lingkungan yang "tidak bersahabat" bagi virus itu, misalnya dimatikan dengan desinfektan, dilawan dengan antiviral di tubuh manusia, dijaga jaraknya sehingga sulit untuk menular dan berkembang biak, aspek lingkungan lainnya dan lain sebagainya," katanya kepada Beritasatu.com, Minggu (22/8/2021).

Seperti diberitakan, jumlah kasus terpapar Covid-19 varian Delta di Indonesia hingga pekan lalu sudah mencapai 1.097 kasus. DKI Jakarta memiliki jumlah kasus terbanyak, yakni 302 kasus varian Delta. Berdasarkan data GISAID yang diolah Beritasatu Research per 13 Agustus 2021, sudah 33 provinsi yang terpapar varian Delta, kecuali Provinsi Maluku Utara, belum ditemukan kasus Delta.

Wiku menerangkan, bila virus ada kesempatan untuk tidak mati maka virus tersebut adalah yang virus yang sudah bisa menyesuaikan diri. Untuk yang bertahan, maka kemampuan menularnya lebih baik daripada virus yang mati dan berhenti bermultiplikasi.

"Jadi virus Covid varian Delta yang bisa menyebar cepat karena dia adalah produk yang sudah menyesuaikan diri dengan alam yang tidak bersahabat tadi. Jadi siapa yang menyebabkannya hal itu terjadi? Ya manusia dan alam. Manusia dan alam dimana? Apa di Indonesia saja? Tentu saja tidak. Ini bisa kita lihat bila dengan perbandingan juga data deskriptif penyebaran di luar negeri seperti apa untuk varian Delta ini. Ini pandemi bukan epidemi Indonesia saja," ungkap Wiku.

Berdasarkan analisis, kalau ada virus varian tertentu yang berasal awalnya dari suatu wilayah di dunia dan akhirnya menyebar ke berbagai belahan di dunia dan di berbagai wilayah administratif Indonesia, hal apa saja yang menyebabkannya.

"Bisakah kita melihat virus ini, bisakah border control mencegah masuk atau keluarnya virus ke wilayah administratif lain seperti provinsi/kabupaten/kota/negara/kawasan lain. Jawabannya pasti tidak karena tidak kelihatan dan berbagai alat tes punya keterbatasannya masing-masing. Setiap negara dan wilayah atau daerah juga mempunyai keterbatasan masing-masing," terang Wiku.

Selanjutnya, keterbatasan tiap wilayah administratif, bukan wilayah epidemiologis. Alat tesnya kemampuan dan kecepatannya seperti apa, kemampuan sumber daya manusia (SDM) pemerintah, kebijakan pemerintah, kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah, dan lain halnya.

"Coba hal-hal tersebut dipetakan dan di-overlay pada sebaran varian itu di berbagai wilayah administratif dunia atau daerah di Indonesia. Dari situ kita bisa menjawab kenapa sebuah virus, apapun variannya bisa menyebar ke mana saja," kata dia.

Ia juga menjelaskan bahwa endemi digambarkan sebagai situasi kasus pandemi dapat terkendali, namun bukan berarti virus penyebab pandemi hilang sepenuhnya. Hal-hal yang dapat mengindikasikan bahwa pandemi telah bertransisi menjadi endemi ialah jika kekebalan masyarakat meningkat terhadap virus seiring akselerasi vaksinasi maupun infeksi alamiah, sehingga angka perawatan dan kematian pun menurun.

Dengan instrumen pengendalian PPKM saat ini berupa pengaturan dan target spesifik, baik 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan), 3T (testing, tracing dan treatment), dan vaksinasi di tiap kabupaten/kota, maka diharapkan kondisi tersebut segera tercapai.

"Tetapi, dengan syarat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat harus bisa menyukseskan kebijakan yang telah ada agar signifikan hasilnya," harap Wiku. (*)

Sumber: BeritaSatu.com

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)