DATARIAU.COM - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman, menyatakan, masih terlalu dini menyebut Covid-19 varian Omicron atau B.11529 ini mematikan atau bergejala ringan, karena datanya belum cukup.
Menurutnya, yang sering menjadi ukuran banyak pihak adalah kecepatan dalam menular dan kemudahan dalam menginfeksi. ?Data dari Afrika Selatan dalam waktu relatif singkat yakni 3 minggu sudah bisa mendominasi. Sementara berbeda dengan varian Delta yang memerlukan waktu 3 bulan,? katanya.
Oleh karena itu, Omicron diberi label varian yang menjadi perhatian (Variants of Concern) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena penyebarannya cepat di Afrika Selatan dan banyak mutasi yang mengganggu.
Kemudian untuk gejala masih terlalu dini menyatakan ini mematikan, karena kemajuan dari satu infeksi itu perlu waktu 3-4 minggu ke depan. Menghitung varian virus pun ada massa waktu yang tidak bisa dipercepat. Setelah melalui proses itu baru bisa dikatakan gejalanya dan tingkat keparahannya.
"Saya belum bisa menyatakan varian Omicron ini memberikan gejala lebih berat, mematikan atau ringan, karena masih terlalu dini dan datanya belum cukup. Apalagi masalah kematian karena itu adalah indikator akhir kalau bicara kematian 4 minggu berikutnya baru bisa dihitung. Kalau saat ini ada yang menyatakan varian ini tidak parah, belum tentu juga karena ada proses yang harus dilalui," katanya ketika dihubungi Beritasatu.com, Selasa (30/11/2021).
Diakui, potensi bahaya dari Omicron ini ada atau timbul dari data awal yang menunjukkan bahwa varian ini cepat menyebar dan menginfeksi hanya dalam waktu 3 minggu sudah bisa mendominasi setengah dari varian yang bersirkulasi.
"Yang mana bila dilihat pada varian yang saat ini kita tahu dampak dahsyatnya varian Delta. Itu varian mencapai 50 % dominasi varian yang bersirkulasi yang diperlukan waktu 3 bulan," urai panel ahli WHO tersebut.
Dikatakan, dengan kecepatan Omicron yang mengalahkan Delta, maka memberikan pesan bahwa Omicron potensi memiliki angka reproduksi yang jauh lebih tinggi dari Delta. Selain itu juga diperkuat dengan angka test positivity rate di satu wilayah yang bisa meningkat tajam dalam waktu kurang dari 3 minggu. Misal dari 1% bisa menjadi 30% karena varian baru.
"Jadi terkait dinyatakannya varian Omicron ini berpotensi menurunkan efikasi vaksin, hal ini yang masih harus menunggu data validnya sekitar 4 minggu ke depan lagi," pungkas Dicky. (*)
Sumber: BeritaSatu.com