9 Perbuatan Syirik yang Masih Sering Terjadi di Sekitar Kita

datariau.com
53 view
9 Perbuatan Syirik yang Masih Sering Terjadi di Sekitar Kita

DATARIAU.COM - Syirik merupakan dosa terbesar dalam Islam karena menyekutukan Allah Subahanahu wa Ta'ala dengan sesuatu selain-Nya. Perbuatan ini tidak hanya terjadi pada masa jahiliah, tetapi juga masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman: “Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya.” (QS Yusuf: 106).

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa sebagian manusia mengakui Allah sebagai pencipta langit dan bumi, tetapi pada saat yang sama mereka tetap menyekutukan-Nya dengan beribadah kepada selain-Nya.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam juga mengingatkan bahwa sebagian umatnya akan kembali melakukan perbuatan syirik.

“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai beberapa kelompok dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sampai mereka menyembah berhala.” (HR Abu Dawud No. 4252, At-Tirmidzi No. 2219, dan Ibnu Majah No. 3952. Dinilai sahih oleh At-Tirmidzi dan Syekh Al-Albani).

Memahami Hakikat Syirik


Syirik adalah menyekutukan Allah dalam hak-hak khusus-Nya, baik dalam hal menciptakan, mengatur, memberi rezeki maupun dalam ibadah.

Bentuk syirik yang banyak terjadi adalah memberikan ibadah kepada selain Allah, seperti berdoa, meminta pertolongan dalam perkara yang hanya mampu dilakukan Allah, bernazar, menyembelih kurban, serta menggantungkan harapan dan rasa takut kepada selain-Nya.

Islam mengajarkan bahwa seluruh bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Karena itu, seorang muslim harus memahami tauhid dan menjauhi segala perbuatan yang dapat merusaknya.

9 Perbuatan Syirik yang Perlu Diwaspadai

1. Meminta kepada orang yang telah meninggal untuk memenuhi kebutuhan


Memohon kepada orang yang telah meninggal agar mengampuni dosa, menyembuhkan penyakit, memberikan keturunan, menghilangkan kesulitan atau memenuhi kebutuhan yang hanya mampu dilakukan Allah termasuk bentuk kesyirikan.

Demikian pula mempersembahkan sembelihan, nazar, sujud atau bentuk ibadah lainnya kepada mereka.

Allah berfirman: “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS Al-An'am: 162-163).

2. Mendatangi dukun, peramal dan tukang sihir


Mendatangi dukun, paranormal atau peramal untuk mengetahui perkara gaib, kemudian membenarkan perkataannya, merupakan perbuatan yang sangat berbahaya bagi akidah.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendatangi dukun atau peramal, kemudian membenarkan perkataannya, sungguh dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR Ahmad, 2/429, dan Al-Hakim, 1/49. Dishahihkan oleh Al-Hakim, disepakati Adz-Dzahabi dan dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 3387).

Islam mengajarkan bahwa perkara gaib hanya diketahui Allah. Allah berfirman: “Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib, kecuali Allah.” (QS An-Naml: 65).

3. Berlebihan dalam mengagungkan Rasulullah


Mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam merupakan bagian dari keimanan. Namun, kecintaan tersebut tidak boleh melampaui batas hingga memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada beliau.

Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhari No. 3261).

Di antara bentuk sikap berlebihan adalah meyakini Rasulullah mengetahui seluruh perkara gaib, memiliki kekuasaan mengatur alam semesta, atau dapat memberikan ampunan dosa dan keselamatan tanpa izin Allah.

Padahal, Allah berfirman: “Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik manfaat bagi diriku dan tidak pula menolak mudarat kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan.” (QS Al-A'raf: 188).

4. Mengagungkan kuburan secara berlebihan


Menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, membangun tempat ibadah di atasnya, atau meyakini kuburan memiliki kekuatan khusus yang dapat mendatangkan keberkahan merupakan perbuatan yang harus diwaspadai.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR Bukhari No. 1265 dan Muslim No. 529).

Dalam hadis lain, Rasulullah juga melarang umatnya menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. (HR Muslim No. 532).

Selain itu, Jabir bin Abdullah meriwayatkan: “Rasulullah melarang mengapur atau mengecat kuburan, duduk di atasnya, dan membangun bangunan di atasnya.” (HR Muslim No. 970).

Larangan tersebut merupakan bentuk perlindungan terhadap akidah agar manusia tidak terjerumus dalam pengagungan kuburan yang berlebihan hingga berujung pada kesyirikan.

5. Menggunakan jimat sebagai penangkal bahaya


Menggantungkan benang, gelang, manik-manik atau benda tertentu dengan keyakinan dapat menolak bahaya, mendatangkan keberuntungan atau melindungi diri dari kesialan termasuk perbuatan yang merusak tauhid.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menggantungkan jimat, sungguh dia telah berbuat syirik.” (HR Ahmad No. 4/156. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 492).

Seorang muslim hendaknya hanya bertawakal dan memohon perlindungan kepada Allah.

6. Mempercayai pertanda kesialan atau keberuntungan


Menganggap burung, angka, hari, benda atau kejadian tertentu sebagai pertanda kesialan maupun keberuntungan tanpa dasar yang dibenarkan agama termasuk perbuatan yang dilarang.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Thiyarah (menganggap sesuatu sebagai pertanda kesialan) adalah kesyirikan.” (HR Abu Dawud No. 3910, At-Tirmidzi No. 1614, dan Ibnu Majah No. 3538. Dinilai sahih oleh At-Tirmidzi dan Syekh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 429).

Seorang muslim harus meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas ketentuan Allah, bukan karena pertanda yang diyakini manusia.

7. Bersumpah dengan nama selain Allah


Sumpah merupakan bentuk pengagungan. Karena itu, seorang muslim tidak boleh bersumpah dengan nama makhluk, seperti nama manusia, benda, tempat atau sesuatu selain Allah.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa bersumpah dengan nama selain Allah, sungguh dia telah berbuat syirik.” (HR Abu Dawud No. 3251 dan At-Tirmidzi No. 1535. Dinilai hasan oleh At-Tirmidzi dan sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 2042).

8. Meminta perlindungan kepada jin


Meminta perlindungan kepada jin atau makhluk gaib merupakan perbuatan yang dilarang karena dapat merusak tauhid dan membuka jalan kepada kesyirikan.

Allah berfirman: “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, tetapi mereka (jin) menjadikan manusia bertambah sesat.” (QS Al-Jin: 6).

Perlindungan sejati hanya boleh dimohonkan kepada Allah.

9. Menjadikan makhluk sebagai perantara dalam ibadah


Menganggap orang-orang yang telah meninggal, malaikat atau makhluk lainnya sebagai perantara yang harus dimintai doa agar dapat mendekatkan diri kepada Allah merupakan keyakinan yang harus diwaspadai.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (QS Az-Zumar: 3).

Allah Maha Dekat dan Maha Mendengar doa hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.” (QS Al-Baqarah: 186).

Karena itu, seorang muslim hendaknya berdoa langsung kepada Allah tanpa mempersembahkan ibadah kepada makhluk.

Jangan Merasa Aman dari Bahaya Syirik


Mempelajari berbagai bentuk kesyirikan bukan untuk mudah menuduh orang lain, melainkan sebagai peringatan agar setiap muslim memeriksa dan menjaga akidahnya sendiri.

Nabi Ibrahim alaihis salam, seorang nabi yang dikenal kuat dalam tauhid, bahkan memohon kepada Allah agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan berhala.

Beliau berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS Ibrahim: 35).

Jika Nabi Ibrahim saja mengkhawatirkan dirinya dan keturunannya terjerumus dalam kesyirikan, tentu kita lebih pantas untuk senantiasa waspada.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam juga mengajarkan sebuah doa kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq agar terhindar dari kesyirikan.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas sesuatu yang tidak aku ketahui.” (HR Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad No. 716 dan Abu Ya'la No. 60. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani).

Selain memperbanyak doa, setiap muslim hendaknya terus mempelajari ilmu tauhid, memperkuat keimanan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah Subahanahu wa Ta'ala menjaga kita dan keluarga dari segala bentuk kesyirikan, baik yang disadari maupun tidak disadari.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)