Jadilah Orang Kaya yang ZuhudMenjadi orang yang zuhud bukanlah dengan harus menjadi miskin dan menyia-nyiakan harta yang ada, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allâh Azza wa Jalla . Akan tetapi, bersikap zuhud adalah dengan menggunakan harta dan kekayaan yang dimiliki sesuai dengan petunjuk Allâh Azza wa Jalla , tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta dan kekayaan tersebut. Atau dengan kata lain, bersikap zuhud adalah dengan tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta dan kekayaan yang dimiliki, dengan bersegera menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla.
Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah ketika beliau ditanya, “Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)?” Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, “Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi”[55].
Salah seorang Ulama Salaf berkata: “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allâh Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai), maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu”[56].
Sifat inilah dimiliki dengan sempurna oleh para Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadikan mereka lebih mulia dan utama di sisi Allâh Azza wa Jalla dibandingkan orang-orang yang datang setelah mereka. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Kalian lebih banyak berpuasa, (mengerjakan) shalat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dibandingkan para Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala) daripada kalian”. Ada yang bertanya, “Kenapa (bisa demikian), wahai Abu ‘Abdirrahmân? Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: “Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat”[57].
PenutupSebagai penutup, renungkanlah nasehat berharga dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan(tidak pernah merasa cukup) (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allâh tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya, maka Allâh akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”[58].
Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allâh dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta kepada balasan yang kekal di akhirat, serta semua sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
_______
Footnote
[1] HR at-Tirmidzi no. 2376, Ahmad 3/456, ad-Dârimi no. 2730 dan Ibnu Hibbân no.3228, dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibbân dan Syaikh al-Albâni
[2] Lihat Faidhul Qadîr 5/445
[3] Al-Fawâid hlm. 133
[4] HR an-Nasâi dalam as-Sunan 6/147 dan al-Hâkim dalam al-Mustadrak no. 2000, dishahihkan oleh al-Hâkim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan dihasankan oleh al-Albâni dalam ash-Shahîhah 1/449, no. 227
[5] Tuhfatul Ahwadzi 9/334
[6] HR at-Tirmidzi no. 3502, dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albâni
[7] Faidhul Qadîr 2/507
[8] HR. al-Bukhâri no. 2988 dan Muslim no. 2961
[9] Lihat catatan kaki Shahîhul Bukhâri 3/1152
[10] Nasehat Imam Ibnu Baththâl yang dinukil dalam kitab Fathul Bâri 11/245
[11] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân hlm. 84-Mawâridul Amân
[12] HR. al-Bukhâri no. 6075 dan Muslim no. 116
[13] Ighâtsatul Lahfân (hlm. 83-84, Mawâridul Amân)
[14] Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân (hlm. 83-Mawâridul Amân)
[15] Lihat Tafsir al-Qurthubi 18/142 dan Aisarut Tafâsîr 4/271
[16] Al-Adâbusy Syar’iyyah 3/469
[17] Tafsir Ibnu Katsir 3/390
[18] Tafsir al-Qurthubi 5/156
[19] Maksudnya adalah gibthah yaitu mengharapkan nikmat yang Allâh k berikan kepada orang lain tanpa hilangnya nikmat tersebut dari diri orang itu. Lihat Syarhu Shahiihi Muslim 6/97
[20] HR. al-Bukhâri no. 73dan Muslim no. 816
[21] HR. al-Bukhâri no. 6018 dan Muslim no. 2481
[22] Tafsir al-Qurthubi 11/80
[23] Syarah Shahih Muslim 16/39-40
[24] HR. al-Bukhâri no. 807 dan 5970, dan Muslim no. 595
[25] Fathul Bâri 3/298
[26] Al-Adâbusy Syar’iyyah 3/468 dan ‘Uddatush Shâbiriin hlm. 146
[27] ‘Uddatush Shâbiriin hlm. 146 dan 149
[28] Al-Adâbusy Syar’iyyah 3/468-469
[29] Dinukil Imam Ibnul Qayyim dalam ‘’Uddatush Shâbiriin hlm. 149-150
[30] HR at-Tirmidzi no. 3701 dan al-Hakim no. 4553, dinyatakan shahih oleh al-Hâkim, disepakati oleh adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albâni.
[31] Tahdziibul Kamâl 19/450
[32] Tahdziibul Kamâl 17/327
[33] Siyaru A’lâmin Nubalâ 4/386 dan Shifatush Shafwah 2/93
[34] Taqriibut Tahdziib hlm. 400
[35] Siyaru A’lâmin Nubalâ 4/392
[36] Shifatush Shafwah 2/96
[37] Siyaru A’lâmin Nubalâ 4/394
[38] Biografi beliau dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ 6/288 dan Shifatush Shafwah 32/517
[39] Taqribut Tahdzib hlm. 613
[40] Siyaru A’lâmin Nubalâ 6/290
[41] Ibid 6/289
[42] Ibid
[43] Ibid 6/293
[44] Biografi beliau dalam Tahdzibul Kamâl 16/492 dan Siyaru A’lâmin Nubalâ 5/10
[45] Ibid
[46] Tahdzibul Kamâl 16/493
[47] Siyaru A’lâmin Nubalâ 5/10-11
[48] Biografi beliau dalam Tahdzibul Kamâl 16/5 dan Siyaru A’lâmin Nubalâ 8/378
[49] Taqribut Tahdzib hlm. 271
[50] Tahdzibul Kamâl 16/20 dan Siyaru A’lâmin Nubalâ 8/387
[51] Siyaru A’lâmin Nubalâ 8/386
[52] Ibid 8/385-386)
[53] Ibid 8/386
[54] Tahdzibul Kamâl 16/20 dan Siyaru A’lâmin Nubalâ 8/387
[55] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulumi wal Hikam 2/384
[56] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/179).
[57] Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushannaf” (no. 34550) dan Abu Nu’aim dalam “Hilyatul auliyaa'” (1/136) dengan sanad yang shahih, juga dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 279).
[58] HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.Source: almanhaj.or.id