Jabatan yang Diperebutkan Akan Menjadi Penyesalan di Akhirat

datariau.com
119 view
Jabatan yang Diperebutkan Akan Menjadi Penyesalan di Akhirat

DATARIAU.COM - Di tengah hiruk-pikuk perebutan jabatan, kontestasi politik, serta ambisi meraih kekuasaan yang terus mewarnai kehidupan manusia, Islam telah jauh-jauh hari memberikan peringatan keras tentang bahaya cinta jabatan dan kekuasaan. Apa yang dipandang mulia dan membanggakan di dunia, bisa berubah menjadi kehinaan dan penyesalan yang sangat dalam di akhirat apabila tidak dijalankan dengan amanah.

"Kalian akan berambisi terhadap kekuasaan, padahal ia akan menjadi penyesalan dan kerugian pada hari kiamat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Fenomena saling berebut jabatan, menghalalkan berbagai cara demi meraih kedudukan, hingga mengorbankan prinsip dan agama demi kekuasaan, bukanlah perkara baru. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengingatkan umatnya bahwa jabatan bukanlah kehormatan yang patut diperebutkan, melainkan amanah berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta'ala.

Jabatan Adalah Amanah, Bukan Kemuliaan


Suatu ketika, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan nasihat kepada Abu Dzar Al-Ghifari yang meminta suatu jabatan. Beliau bersabda:

"Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan sesungguhnya pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajiban yang ada padanya." (HR. Muslim No. 1825).

Baca juga:Negara Hancur Akibat Banyak yang Tebar Kebohongan dalam Kampanye demi Jabatan, Rakyat Diperalat Termakan Janji Dusta Calon Pejabat


Hadis ini memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa jabatan bukanlah fasilitas untuk dibanggakan, bukan pula sarana memperkaya diri, melainkan amanah yang berat. Jika amanah itu disia-siakan, maka jabatan yang dahulu diperebutkan akan berubah menjadi sumber kehinaan di hadapan Allah pada hari kiamat.

Betapa banyak manusia yang rela menghabiskan harta, tenaga, bahkan kehormatan demi memperoleh kekuasaan, padahal belum tentu ia mampu memikul amanah tersebut.

Ambisi Kekuasaan Lebih Berbahaya dari Dua Serigala Lapar


Peringatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang bahaya ambisi terhadap kekuasaan semakin tegas dalam hadis lainnya:

"Dua ekor serigala lapar yang dilepas ke tengah kawanan kambing tidak lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya." (HR. Tirmidzi No. 2376; Ahmad; disahihkan oleh Al-Albani).

Bayangkan dua ekor serigala lapar yang dilepas ke tengah sekawanan kambing. Tentu kerusakan yang ditimbulkan sangat mengerikan. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan bahwa kerusakan agama seseorang akibat ambisi terhadap kekuasaan jauh lebih besar daripada itu.

Baca juga:Penyesalan di Akhirat Untuk yang Berambisi Mendapat Jabatan


Sebab ketika seseorang telah dikuasai ambisi jabatan, sering kali ia rela mengorbankan kejujuran, amanah, persaudaraan, bahkan agamanya sendiri. Tidak sedikit konflik, fitnah, permusuhan, hingga pertumpahan darah terjadi karena perebutan kekuasaan.

Mengapa Manusia Sangat Mencintai Kekuasaan?


Islam mengakui bahwa manusia memiliki fitrah untuk dihormati, dimuliakan, dilayani, mendapatkan kemudahan, fasilitas, dan pengaruh. Semua itu biasanya melekat pada sebuah jabatan.

Karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kalian akan sangat berambisi terhadap kekuasaan. Padahal ia akan menjadi penyesalan dan kerugian pada hari kiamat. Ia adalah sebaik-baik ibu saat menyusui, tetapi seburuk-buruk ibu saat menyapih." (HR. An-Nasa'i No. 5385).

Perumpamaan Rasulullah ini sangat menyentuh. Ketika seseorang sedang berkuasa, ia seperti bayi yang sedang disusui oleh ibu terbaik: memperoleh fasilitas, penghormatan, kenyamanan, dan kemewahan.

Baca juga:7 Tanda Seorang Tertipu dengan Kemewahan Dunia, Nomor 4 Sangat Banyak Terjadi Saat Ini


Namun ketika kekuasaan itu berakhir, ia seperti bayi yang dipisahkan secara paksa dari ibunya: kehilangan fasilitas, penghormatan, dan pengaruh. Tidak sedikit orang yang mengalami guncangan mental ketika kehilangan jabatan, fenomena yang dalam psikologi modern dikenal sebagai post power syndrome.

Para Ulama Pun Sangat Takut dengan Kekuasaan


Ulama besar tabi'ut tabi'in, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat orang yang benar-benar zuhud terhadap sesuatu sebagaimana sedikitnya orang yang zuhud terhadap kepemimpinan."

Seseorang mungkin mudah meninggalkan makanan enak, pakaian mewah, atau harta benda. Namun ketika berbicara tentang jabatan dan kekuasaan, tidak sedikit yang rela bertarung habis-habisan untuk mendapatkannya. Hal ini menunjukkan betapa besarnya fitnah kekuasaan terhadap hati manusia.

Kekuasaan Pasti Akan Berakhir


Sebesar apa pun jabatan seseorang hari ini, semuanya pasti akan berakhir. Tidak ada kekuasaan yang abadi. Allah Ta'ala berfirman: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka tentang kehidupan dunia, seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur karenanya, kemudian tanaman itu menjadi kering dan diterbangkan angin." (QS. Al-Kahfi: 45).

Baca juga:Minta Jabatan, Berambisi Jadi Pemimpin


Hari ini seseorang berada di puncak kekuasaan, esok hari ia bisa kehilangan semuanya. Hari ini dielu-elukan, besok bisa jadi dilupakan. Bahkan tidak sedikit yang kemarin memegang kekuasaan, hari ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Rumah, kendaraan, pengawal, jabatan, dan fasilitas yang dibanggakan tidak akan ikut masuk ke dalam kubur. Allah Ta'ala kembali mengingatkan: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal saleh yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan." (QS. Al-Kahfi: 46).

Ketamakan Jabatan Melahirkan Kerusakan


Fenomena perebutan kekuasaan yang terjadi di berbagai tempat sering kali memperlihatkan bahwa sebagian orang sebenarnya bukan ingin mengabdi, melainkan ingin memperoleh kedudukan, kehormatan, dan keuntungan duniawi.

Tidak sedikit orang yang mencalonkan diri untuk jabatan tinggi, sementara kemampuan, ilmu, integritas, dan amanah yang dimiliki tidak sebanding dengan besarnya tanggung jawab yang akan dipikul. Yang dikejar bukan pengabdian, tetapi kedudukan. Yang diinginkan bukan amanah, tetapi fasilitas dan kekuasaan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kalian akan sangat tamak terhadap kekuasaan, dan kelak ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat." (HR. Bukhari No. 7148).

Baca juga:Mengerikan, Inilah Bahaya Ambisi Terhadap Harta dan Kehormatan


Imam An-Nawawi menempatkan hadis ini dalam bab larangan meminta kepemimpinan, sedangkan Imam Al-Bukhari meletakkannya dalam bab larangan tamak terhadap kekuasaan.

Sementara itu, Ibnu Batthal menjelaskan bahwa ketamakan terhadap kepemimpinan telah menjadi sebab berbagai pertumpahan darah, permusuhan, penghinaan, kerusakan, dan kehancuran manusia.

Demikian pula Badruddin Al-Aini berkata: "Siapa yang tamak terhadap kekuasaan, umumnya ia tidak mampu menjalankan amanah dengan baik."

Renungan: Apa yang Akan Kita Bawa Menghadap Allah?


Pada akhirnya, manusia akan menghadap Allah Ta'ala tanpa jabatan, tanpa pangkat, tanpa pengawal, bahkan tanpa pakaian sekalipun. Semua kemewahan dunia akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah amal saleh dan amanah yang telah ditunaikan.

Karena itu, sebelum mengejar jabatan dan kekuasaan, hendaknya setiap muslim bertanya kepada dirinya sendiri: apakah ia benar-benar ingin mengabdi dan menegakkan amanah, ataukah sekadar mengejar kehormatan dan dunia?

Sebab jabatan yang diperebutkan dengan penuh ambisi di dunia, bisa jadi kelak berubah menjadi tangisan, penyesalan, dan kehinaan yang tidak berkesudahan di akhirat.

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang lebih mencintai amanah daripada kedudukan, lebih takut terhadap hisab daripada tergoda oleh kekuasaan, dan lebih mengutamakan amal saleh yang kekal daripada kemegahan dunia yang sementara. Aamiin.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)