DATARIAU.COM - Di setiap zaman selalu ada ujian bagi kaum muslimin. Salah satunya adalah ketika mereka dipimpin oleh seorang penguasa yang melakukan kesalahan, kezaliman, atau kebijakan yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang memilih diam meski melihat kemungkaran, sementara sebagian lainnya justru mencela, menghina, bahkan menghasut masyarakat untuk membenci pemimpinnya melalui mimbar, media massa, maupun media sosial.
Lalu, bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan seorang muslim bersikap ketika menghadapi pemimpin yang zalim?
Jawabannya bukan diam terhadap kemungkaran, tetapi juga bukan menghina atau membuka aib pemimpin di hadapan publik. Islam mengajarkan jalan pertengahan, yaitu menyampaikan nasihat dengan ilmu, hikmah, dan adab yang mulia.
Baca juga:Memahami Ulil Amri dalam Islam: Siapa Mereka dan Kapan Wajib Ditaati?
Menyampaikan Kebenaran Adalah Ibadah
Islam tidak pernah melarang umatnya mengingatkan pemimpin. Bahkan Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai salah satu bentuk jihad yang paling utama.
Beliau bersabda "Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim." (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani).
Hadis ini menunjukkan bahwa berkata benar kepada pemimpin merupakan amal yang sangat mulia. Namun, yang perlu dipahami adalah lafaz "di hadapan penguasa" (عند سلطان جائر), bukan di belakangnya, bukan pula melalui hujatan yang disebarkan kepada masyarakat.
Di sinilah banyak orang keliru memahami hadis tersebut. Mereka mengira bahwa mencela pemimpin di media sosial atau di depan umum termasuk mengamalkan hadis ini, padahal para ulama menjelaskan bahwa maksud hadis adalah menyampaikan kebenaran langsung kepada pemimpin dengan penuh hikmah.
Baca juga:Pemimpin Adalah Cermin Rakyat: Muhasabah Sebelum Menyalahkan Penguasa
Allah Mengajarkan Kelembutan kepada Nabi Musa
Jika ada manusia yang paling zalim dalam sejarah, maka dialah Fir'aun. Namun, ketika Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menasihatinya, Allah justru memerintahkan agar dakwah dilakukan dengan kelembutan.
Allah Ta'ala berfirman "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS. Thaha: 43-44)
Ayat ini menjadi pelajaran besar bahwa sekalipun menghadapi pemimpin yang sangat zalim, seorang mukmin tetap diperintahkan menjaga adab dalam menyampaikan nasihat.
Kelembutan bukan berarti takut. Justru kelembutan adalah bagian dari hikmah yang diajarkan oleh Allah.
Baca juga:Begini Cara Islam Menyikapi Gubernur yang Bengis
Rasulullah Mengajarkan Nasihat Secara Langsung
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan yang sangat jelas mengenai cara menasihati pemimpin.
Beliau bersabda "Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, maka janganlah dia menasihatinya secara terang-terangan. Akan tetapi peganglah tangannya lalu menyendirilah dengannya. Jika dia menerima, maka itulah yang diharapkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya."
Hadis ini menjadi dasar mayoritas ulama Ahlus Sunnah bahwa hukum asal dalam menasihati pemimpin adalah secara langsung, bukan diumbar kepada khalayak.
Tujuannya bukan untuk melindungi kesalahan pemimpin, melainkan agar nasihat benar-benar menjadi sarana perbaikan, bukan pemicu permusuhan dan fitnah.
Baca juga:Hadits Nabi yang Menjelaskan Tentang Kenaikan Harga
Kritik yang Berubah Menjadi Hinaan
Di zaman media sosial, batas antara nasihat dan hinaan sering kali menjadi kabur.
Banyak orang merasa sedang membela agama ketika membuat unggahan yang mencela pemimpin, menyebarkan meme penghinaan, atau memperolok kebijakannya di ruang publik.
Padahal yang seperti ini lebih dekat kepada membuka aib daripada memberikan nasihat.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa menjadikan kesalahan penguasa sebagai bahan pembicaraan umum dapat menyebabkan hati masyarakat dipenuhi kebencian kepada pemimpin, yang pada akhirnya membuka pintu kekacauan, perpecahan, dan hilangnya rasa aman.
Islam sangat memperhatikan akibat dari sebuah perbuatan. Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang salah.
Baca juga:Dosa Menghujat Pemimpin
Beginilah Teladan Para Sahabat
Para sahabat Nabi ﷺ adalah generasi yang paling memahami tuntunan Rasulullah.
Ketika banyak orang meminta Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu menegur Khalifah Utsman bin Affan secara terbuka, beliau menjawab "Apakah kalian mengira aku tidak menasihatinya hanya karena kalian tidak mendengar? Demi Allah, sungguh aku telah berbicara kepadanya empat mata, dan aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu fitnah." (HR. Muslim).
Begitu pula Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ketika ditanya tentang menasihati penguasa. Beliau menjelaskan bahwa jika seseorang harus memberikan nasihat, hendaknya dilakukan antara dirinya dengan pemimpin tersebut, bukan di hadapan manusia.
Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak pernah memahami amar makruf nahi mungkar dengan cara membuka aib penguasa di hadapan masyarakat.
Bolehkah Menegur Pemimpin Secara Terbuka?
Islam tidak menutup kemungkinan adanya teguran secara terbuka. Namun hal itu memiliki syarat yang sangat ketat.
Di antaranya, pemimpin yang ditegur hadir di hadapan orang yang menegurnya, teguran dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu dan kapasitas, terdapat maslahat yang jelas, serta tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Contohnya adalah ketika Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu menegur Gubernur Marwan bin Al-Hakam yang mengubah tata cara pelaksanaan salat Id.
Beliau menegur langsung di hadapan gubernur, bukan mencela di belakangnya. Bahkan setelah itu beliau tetap melaksanakan salat berjamaah bersama sang gubernur dan tidak menghasut masyarakat untuk memberontak.
Ini menunjukkan bahwa Islam tetap mengedepankan persatuan umat sekaligus menjaga amar makruf nahi mungkar.